Pelita Hati: 11.02.2020 – Bukan dengan Bibir tetapi dengan Hati

0
405 views

Bacaan Markus 7:1-13 

Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.  Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Mrk. 7:1-2, 5-8)

Sahabat pelita hati, 

PELITA sabda hari ini berkisah tentang Yesus yang menanggapi orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang mempermasalahkan para murid karena tidak membasuh tangan sebelum perjamuan makan. Mereka menilai para murid makan dengan tangan najis. Memang, orang-orang  Farisi dan ahli Taurat selalu ada akal untuk mencari kesalahan atau menjatuhkan Tuhan.  Mereka menuding para murid tidak menghargai adat istiadat dan aturan hukum Taurat. Sebuah tuduhan yang tentu menjadi perhatian bagi masyarakat pada waktu itu. Namun Tuhan tak kekurangan cara untuk menangkal tudingan orang-orang yang mengaku suci tapi munafik itu. Mengaku menjalankan perintah Allah tetapi sejatinya hanya aturan manusia mereka ciptakan sendiri. Jawaban Tuhan sungguh menohok dengan menyatakan bahwa mereka adalah orang yang memuji Allah dengan bibirnya bukan dengan hatinya. Artinya ibadah mereka hanya luaran dan sebatas formalitas manusiawi dan tidak mendasarkan pada hati dan iman mendalam. Inilah yang disebut kemunafikan.

Sahabat terkasih,

Bukan tidak mungkin kita juga sering bersikap seperti para Farisi dan ahli Taurat, memuji Tuhan hanya dengan bibir kita bukan dengan hati. Ini terjadi ketika kita pergi ke Gereja hanya sebagai rutinitas dan formalitas. Inilah cara-cara Farisi. Semoga kita menjauhkan diri dari  sikap picik seperti para Farisi yang munafik ini.

Pohon mawar selalu berduri,
mawar merah menarik hati.
Jagalah hati jangan dikotori, 
jagalah hati lentera hidup ini.

dari Banyutemumpang, Sawangan, Magelang,
Berkah Dalem, Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here