“Persembahan Hati untuk RS St. Joseph Labuan Bajo”, Sukacita Nonton Konser Sembari Berderma (1)

0
254 views
Gegap gempita pentas musik amal "Persembahan Hati untuk RS St. Joseph Labuan Bajo" karya para Suster DSY di Basket Hall GBK Senayan Jakarta, Sabtu (11/1/2020) - Sugianto Budiono/Panitia

PANGGUNG besar itu mengisi ruang tengah gedung Basket Hall di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Sabtu petang hingga malam tanggal 11 Januari 2020 lalu.

Dikerjakan sepanjang Jumat (10/1/2020), hanya sehari sebelum pementasan, maka panggung jumbo itu menjadi magnit. Berhasil membetot 1.000-an penonton yang kemudian mengisi bangku-bangku di tribun Basket Hall GBK dan ruangan tengah, persis di depan panggung.

Sabtu malam pekan lalu di Basket Hall GBK Senayan adalah gawe besar bagi Kongregasi Suster Dina St. Joseph Manado atau biasa disebut Suster DSY.

Bersama tim penggalangan dana yang mendesain konsep acara dan menu programnya, maka jadilah para suster DSY merilis paket pertunjukan hiburan musik hiburan bertajuk Persembahan Hati untuk RS St. Joseph Labuan Bajo.

Bagi Kongregasi Suster DSY yang berpusat di Dusun Lotta, Pineleng –sekitar 15 km dari Manado ini– pentas musik itu tidak sekedar ajang tontonan kebolehan oleh para artis pengisi menu program. Lebih dari itu, Persembahan Hati untuk RS St. Joseph Labuan Bajo adalah sebuah mission sacrée.

Bukan saja hanya bagi para Suster DSY yang punya acara tersebut. Tapi juga bagi segenap anggota panitia yang direkrut dari sejumlah paroki KAJ untuk menggawangi gawe besar ini.

Karenanya, Persembahan Hati untuk RS St. Joseph Labuan Bajo menjadi sebuah peristiwa pentas hiburan musik yang melahirkan sukacita bagi segenap artis pengisi acara, anggota panitia, dan utamanya para Suster DSY.

Mokers beranggotakan penggiat OMK Parok St. Maria Regina (Sanmare) Bintaro, Tangerang Selatan. (Sugianto Budiono)

Sukacita membahana

Sukacita itu juga diungkapkan oleh Fajar, penyanyi kelompok band Mokers yang semua anggotanya adalah penggiat OMK Paroki St. Maria Regina (Sanmare) Bintaro, Tangsel. Hanya Fajar saja yang non Katolik. “Namun, saya senang bernyanyi bersama Mokers untuk kegiatan gerejani,” katanya.

Selain Fajar, Mokers digawangi Deyan (pemain gitar melodi) dan adiknya Laura pada kibor, Apri pemain gitar bass, dan Satria penggebug drum.

Sukacita sama –meski tidak muncul di panggung—juga dirasakan Deyan, pemuda gondrong sebahu pembetot senar gitar. Meski resminya belajar bisnis, namun pemuda santun ini malah menekuni hobinya main musik.

Hasilnya ya sukacita itu. Usai tampil di pentas, Deyan menjadi pujaan fans perempuan yang dibuat kaget oleh satu hal. Gondrong sebahu dikira galak atau kasar. Ternyata, putera pertama pasutri LID da Lopez dan Yani justru sangat ramah dan santun menyapa orang.

Para penonton di bangku tribun.
Gegap gempita para penonton.

Sukacita itu dalam sejenak berubah menjadi “histeris” oleh celotehan duet MC yang kocak meramu kata-kata guna memancing “emosi positif” di kalangan para penonton.

Mereka datang dari berbagai panti asuhan yang dikelola oleh para suster biarawati di wilayah pastoral Keuskupan Agung Jakarta dan Keuskupan Bogor. Karenanya, banyak suster lintas tarekat ikut mengisi bangku-bangku di jajaran depan dan tengah.

Juga ada puluhan remaja dan mahasiswa penerima program beasiswa pendidikan KAJ di sejumlah paroki. Mereka datang bersama para pembimbingnya di masing-masing paroki.

Duet kocak kedua MC.
Brigitta Meliala. (Sugianto Budiono)
Jessica Januar. (Sugianto Budiono)

Brigitta Meliala, puteri kandung anggota Ombudsman RI Prof. Adrianus Meliala, menggebrak panggung dengan tembang Pertolongan-Mu dan I Have Nothing, sebuah “duet” tembang yang mengusung dua warna suasana hati.

Satu lagu bernafaskan spiritual, sedangkan I Have Nothing besutan Whitney Houston punya nafas berbeda genre-nya.

Itulah sebabnya, kemunculan penyanyi perempuan muda berbalut busana serba hitam dan juga penyayi berikutnya yang berbusana merah langsung disambut tepuk tangan meriah.

Jessica Januar meneruskan atmosfir itu dengan tiga tembang yakni The Christmas Song, Alleluia, dan We are the Reason.

Pada sesi lain, kelompok John Paul II Choir Team menghibur penonton dengan tiga tembang rohani bertitel Here I am Lord, I Will Follow Him, dan Rejoice in the Lord Always.

John Paul II Choir Team. (Sugianto Budiono)
Gaya menyanyi Angel Pieters. (Sugianto Budiono)

Menyanyi dengan indah dan bertenaga

Pergelaran musik bertitel Persembahan Hati untuk RS St. Labuan Bajo sengaja dikemas sebagai pentas amal. Liza, seorang dokter umum, menjadi “arsitek” pementasan ini.

Di tangan dokter umum alumnus SMA Sedes Sapientiae Semarang ini, hiburan musik amal itu tetap punya “kelas”. Hadirnya penyanyi profesional bernama Angel Pieters dan Maria Simorangkir memperkuat kesan mendalam ini.

Angel sudah lama berkarir di jalur musik rohani. Maria Simorangkir, bintang Indonesian Idol 2018, melakoni dua jalur musik: rohani dan pop.

Angel Pieters menyanyi tembang Kunyanyi Haleluyah dan Satu-satunya yang Kuandalkan –dua tembang sarat aroma rohani yang juga melambungkan namanya. Sementara, The Power of Love besutan Céline Dion dan Can’t You Feel the Love Tonight garapan Elton John sebagai theme song untuk film The Lion King melahirkan nafas pop yang begitu kental.

Indonesian Idol 2018 Maria Simorangkir dan Uskup Terpilih Keuskupan Ruteng Mgr. Siprianus Hormat. (Sugianto Budiono)

Lagu-lagu pop yang aslinya dibawakan oleh dua penyanyi papan atas kelas dunia ini sungguh punya magnit kuat dalam membetot emosi penonton. Dengan warna suara Angel yang “berkekuatan”, tak ayal dua lagu tersebut menjadikan pentas Persembahan Hati untuk RS St. Joseph Labuan Bajo menjadi juga lebih “bertenaga”.

Pentas musik yang bertenaga ini semakin mengokohkan diri, berkat munculnya Maria Simorangkir.

Berbalut busana serba merah menyala, Maria membawa penonton pada suasana gegap gempita. Itu terjadi berkat tembang Heal the World-nya Michael Jackson, Yang Terbaik, dan Never Enough.

Maria Simorangkir mampu membangun suasana meditatif, saat berduet dengan Uskup Terpilih Keuskupan Ruteng Mgr. Siprianus Hormat dalam tembang Tanah Airku karya Ibu Sud.

Hal sama terjadi juga dalam tembang How Great Thou Art – sebuah tembang rohani klasik yang konon ditulis berdasarkan inspirasi puisi bertitel O Store Gud karya penulis Swedia bernama Carl Boberg di tahun 1885.

Dua oktaf nada yang “berbeda” sempat terjadi di tembang Tanah Airku, saat Mgr. Sipri berduet dengan Maria Simorangkir. Namun, bukan Maria namanya kalau pemenang kontes Indonesian Idol 2018 ini tidak mampu memainkan “akrobat olah nada” di atas panggung.

Dalam sekejap, ia mampu “menurunkan“ oktaf nadanya sehingga duet yang di awal sempat “tidak berimbang” menjadi lebih lancar di bait-bait berikutnya.

Canisius Wind Ensemble (CWE).

Serba menghibur

Namanya saja pergelaran musik bernafas semangat menghibur. Karena itu, tidak lengkap rasanya tanpa menyebut Canisius Wind Ensemble (CWE).

Anak-anak remaja pemain berbagai instrumen musik berikut penyanyi dan “penari” latar depan ini datang dari SMA Kanisius Jakarta.

Lengkap membawa vandel Kolese Kanisius di latar belakang sisi samping ke atas panggung pentas, CWE menarik atensi penonton berkat tembang-tembang pop yang mereka “goreng” dengan nafas fully entertaining tunes.

Mereka meramu tembang-tembang bernafaskan rohani dan pop dalam ramuan musik orkestrasi “grup kecil” sehingga bernama ensemble.

Panggung pentas menjadi medan tampil bagi para pemain instrumen orkes. Sedangkan sisi panggung dan latar depan menjadi ruang bagi penyanyi dan para penari “latar depan” untuk beratraksi. Mereka bernyanyi, namun juga menari ala breakdance, dan melompat bersalto di udara.

Sebuah pentas model happening art yang keren bertitel Tangan-tangan Putih di akhir acara dimainkan oleh para mahasiswa IKJ (Institut Kesenian Jakarta).

Saatnya berbuat amal

Persembahan Hati untuk RS St. Joseph Labuan Bajo ini bukan hanya pergelaran musik dengan menu utama ingin menghibur penonton. Tapi juga mengarah pada values yang dalam nafas kerohanian sering disebut beramal atau berbuat kebajikan.

Karena itu, hadirnya Uskup Keuskupan Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM dan Uskup Emeritus Mgr. Cosmas Michael Angkur OFM –keduanya “putera daerah” asli Manggarai Barat di mana RS St. Joseph Labuan Bajo berada—ikut memberi warna tersendiri.

Ki-ka: Uskup Keuskupan Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM, Uskup Emeritus Mgr. Cosmas Paskalis Bruno Syukur OFM, Uskup Terpilih Keuskupan Ruteng Mgr. Siprianus Hormat, Wakil Bupati Kabupaten Manggarai Barat drh. Maria Geong Ph.D, dan Pemimpin Umum Kongregasi Suster DSY Sr. Christina Tandayu. (Sugianto Budiono)

Juga ikut hadir para romo dari KWI: Romo Antonio Steven Lalu Pr (Komisi Komsos), Romo Agust Surianto (Direktur Personalia dan Umum), Romo Antonius Haryanto Pr (Komisi Kepemudaan), dan Romo Sutanto Pr (Penerbit dan Toko Buku Obor). Plus sejumlah imam yang berkarya di lembaga pastoral KAJ dan lainnya. Semua ikut membangun suasana beramal.

Nonton konser musik sembari berdonasi untuk amal kasih.

Yang terjadi di Basket Hall GBK Senayan hari Sabtu (11/1/2020)  lalu itu memang bukan semata pentas hiburan berpaket musik. Di balik kelap kelip sinar yang memancar dari segala sudut plus kwalitas suara yang jernih dan so powerful itu, ada esensi peristiwa penting yang ikut mengisi agenda program.

Yakni, ketika para suster DSY dibantu para anggota panitia menyebarkan kotak donasi. Tujuannya adalah agar para penonton di barisan depan itu berkenan berdonasi untuk projek penyelesaian pembangunan RS St. Joseph Labuan Bajo yang membutuhkan uluran bantuan finansial.

Hasilnya sangat menggembirakan.

Donasi spontan dari pentas musik amal itu mampu membuat para Suster DSY tersenyum bahagia. Saat mulai pulang ke masing-masing tempat karyanya di Manado dan Labuan Bajo, hati mereka kini dipenuhi dengan perasaan sukacita. (Berlanjut)

Ref: St Joseph hospital in Labuan Bajo to open thanks to benefit concert (photos)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here