Terjebak Lockdown di Puglia, Italia Selatan: Berjumpa Virtual, Berhimpun Secara Spiritual (1)

0
218 views
Komunikasi virtual karena lockdown di Italia by Dictus

PAGI itu, Rabu, 4 Maret 2020, para frater berbagai negara tengah melakukan aktivitasnya seperti biasa. Sore harinya, grup whatsapp kelas mulai ramai dengan rencana Pemerintah Italia untuk meliburkan semua sekolah karena virus corona.

Beberapa teman yang giat mengikuti berita perpolitikan di Italia, meng-update berita setiap saat sembari menanti keputusan final di parlemen. Hingga akhirnya tibalah keputusan bahwa pemerintah meliburkan semua sekolah selama sepuluh hari.

Para romo staf seminari pun segera berkumpul dan membicarakan kelanjutan formasi serta kebijakan selama masa darurat virus corona ini.

Kasak-kusuk bahwa semua frater akan pulang ke rumah masing-masing makin kuat, sampai akhirnya rektor kami mengumumkan bahwa semua frater harus segra kembali ke rumah masing-masing dengan sejumlah indikasi formasi yang perlu diperhatikan.

Di Puglia, Italia Selatan

Itulah suasana di komunitas kami ketika masa karantina di Italia dimulai.

Tiga tahun terakhir saya berada di Pontificio Seminario Regionale Pio XI, Puglia, Italia Selatan. Seminari ini adalah tempat studi dan formasi bagi para frater dari 19 keuskupan wilayah Puglia, Italia selatan.

Saya adalah satu dari tujuh frater non-Italia yang berada di komunitas ini. Terdapat kurang lebih 120 frater Italia di tempat ini dan mereka semua kembali ke rumah masing-masing selama masa karantina ini, sedangkan kami tinggal di paroki yang biasanya kami tempati selama liburan.

Kami pun meninggalkan seminari hari itu dengan bayangan akan kembali minggu depan.

Ketika corona di depan mata

Hari-hari itu,  saya melihat perubahan yang sangat signifikan di tengah masyarakat. Kasus corona di wilayah selatan pada awal bulan Maret terhitung sedikit. Kami tidak membayangkan seperti sekarang ini.

Ketika itu, para uskup mulai membuat surat edaran untuk melakukan ‘salam damai’ tanpa bersalaman dalam Perayaan Ekaristi dan memerhatikan jarak fisik satu sama lain ketika berada di dalam gereja. Suasana pun menjadi cukup berbeda dari biasanya. Semua menjaga jarak satu sama lain dan tegur sapa hanya sekadar lambaian tangan.

Awalnya pemerintah hanya menentukan beberapa wilayah dengan kategori zona merah untuk dikarantina, tetapi hanya butuh beberapa hari wilayah karantina diperluas untuk seluruh wilayah italia.

Sesuai dekrit dari pemerintah, semua uskup pun lalu buru-buru menutup gereja, meniadakan misa dan kegiatan di paroki, serta lembaga pendidikan pun juga diliburkan, sebagaimana yang saat ini terjadi di Indonesia.

Pola ekspresi gaul berubah

Sejak saat itu, ekspresi dan pola relasi pun berubah. Pengalaman hidup hampir tiga tahun bersama orang-orang Italia, secara khusus di wilayah Puglia, saya melihat dan merasakan bahwa mereka memiliki budaya berelasi yang sangat “hangat”, mulai dari kata-kata, ekspresi wajah hingga gestur tubuh ketika berjumpa dengan orang lain.

Kini, membeli sepotong roti pun, seorang penjual tidak mau menerima uang dari tangan saya, tetapi meminta saya untuk meletakkannya satu tempat dan ia akan mengambilnya.

Dalam masa-masa ini “kehangatan” itu pun berubah, semua saling menjaga jarak, tidak ada yang bersalaman, tegur sapa secukupnya, menutup sebagian wajahnya dengan masker dan kebijakan lockdown membuat perjumpaan menjadi sulit dilakukan.

Dalam beberapa sharing dari para imam yang memiliki rekan imam di wilayah Italia utara, mengungkapkan situasi mereka berhadapan dengan kematian banyak orang.

Beberapa kali saya mendengar pula berita kematian umat, tapi misa requiem tidak bisa dilakukan di Gereja.

Suatu kali seorang sahabat mengisahkan kesedihannya melalui pesan di whatsapp karena salah satu anak didik ‘sekolah minggu’ yang dia kenal dengan baik meninggal dunia, meskipun bukan karena virus corona.

Kesedihan makin terasa, ketika ia tidak bisa melayat orang yang dicintainya. Imam hanya bisa memberi pemberkatan di mobil jenazah sebelum masuk ke kompleks pemakaman. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here