Home BERITA Maafkan Aku, Mak… (1)

Maafkan Aku, Mak… (1)

6
87,833 views
Ilustrasi: Pamit.

INI merupakan awal perjuangan panggilan hidup.

Malam ini terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya. Dingin dan sunyi menyelimuti rumah kecil kami. Hanya aku dan ibu yang tinggal di sini, sejak kakak dan abang menikah dan merantau jauh. Hampa rasanya, seolah rumah ini kehilangan sebagian jiwa yang dulu selalu ramai.

Beberapa pekan terakhir ini, komunikasiku dengan ibu menjadi dingin dan kaku.

Saya mencoba untuk mencairkan suasana dengan menceritakan hal-hal lucu berharap satu senyum atau tawa kecil dari ibu bisa muncul, tetapi ibuku hanya diam, wajahnya yang mulai menua, terlihat rawut sedih, seakan menahan beban yang tak pernah ku mengerti sepenuhnya.

Aku berusaha tegar. Aku ingin Ibu yakin bahwa aku mampu. Bahwa aku kuat untuk memulai cita-cita pilihan hidupku, meski jalan itu berbeda dari yang ibu bayangkan.

Aku tahu keputusan ini tak mudah baginya, dan kadang rasa bersalah menghantuiku, karena keinginanku untuk mengejar mimpi seakan membuatnya terluka.

“Mak…”

Pelan dan sangat lambat, saya memanggil ibu, tetapi dia tidak menoleh. Aku hanya mendengar desahan napasnya yang berat, berbeda dari biasanya.

Tak seperti malam-malam sebelumnya, kami selalu bercengkrama sebelum tidur, tertawa bersama, dan kadang Ibu dengan lembut memegang kepalaku sampai aku tertidur. Atau sebaliknya, aku meminyaki badan Ibu yang lelah setelah bekerja seharian.

Tetapi malam ini berbeda. Ibu benar-benar membelakangiku. Sejak ayah tercinta dipanggil Tuhan, kami berdua selalu tidur bersama, saling menguatkan dalam diam, saling menenangkan hati yang sering rindu pada sosok yang telah pergi.

Tapi malam ini… ada jarak yang terasa begitu besar, meski kami berdua berada di ruangan yang sama.

Aku menelan ludah, berusaha menahan rasa sakit di hati. Aku ingin memecah keheningan ini, ingin ibu tahu bahwa aku masih di sini, masih anaknya yang sama, yang selalu mencintainya tanpa syarat.

Tapi kata-kata seakan tersangkut di tenggorokan. Hanya ada satu bisikan kecil yang berani keluarkan: “Maafkan aku, Mak…”

Kembali saya panggil ibuku, “Mak… aku ingin jadi suster biarawati, izinkan aku ya Mak…”, tetapi ibuku tidak menyahut yang terdengar hanyalah isak tangisnya yang pelan namun dalam.

Hatiku perih.

Aku ikut menangis, tetapi kututup mulutku rapat-rapat supaya ibu tidak mendengar tangisku. Saya tahu ibuku sangat berat mengizinkan saya pergi ke biara, karena dia sendirian di rumah dan saya anak bungsu yang sangat dekat dengan ibu.

Ibu takut saya tidak mampu menjalani kehidupan di biara yang dia tahu sangat keras dan disiplin. Ibuku takut, kalau saya tidak bertahan dan akhirnya akan keluar dari biara.

Saya tahu semua kegelisahan hatinya, dan sebenarnya saya juga sangat sulit untuk berpisah dengan ibuku, saya juga sangat sedih harus meninggalkan dia sendirian di rumah, tetapi saya tidak kuasa menahan panggilan dalam diri saya.

Saya semakin gelisah dan sedih antara menanggapi panggilan Tuhan untuk jadi biarawati atau menemani ibu saya yang sudah mulai tua.

Di antara doa dan airmata itu, aku hanya bisa bergulat dengan perasaan sendiri.

Malam itu berlalu tanpa jawaban, tanpa keputusan yang jelas. Yang ada hanya desahan napas berat ibu, isak tangisnya, dan tangisku yang tertahan. Dalam sunyi yang panjang itu, aku berdoa dalam hati, “Maafkan aku, Mak. Semoga suatu hari engkau mengerti.”

Keputusan berat

Saat pagi tiba, seperti biasanya ibuku yang selalu duluan bangun dan memasak, dan menyiapkan teh manis untuk kami berdua. Pagi ini juga dia tidak seperti biasanya yang memanggillku saat teh manis sudah tersedia. Akhirnya setelah saya dengar kalau ibuku sudah ngeteh, saya pun bangun dari tempat tidur, dan mata saya bengkak, saya tidak berani menatap ibuku, saya takut kalau menjadi beban pikirannya, tetapi ternyata dia melihat mataku.

Pelan dan lembut dia bertanya “Kenapa matamu, Nang…?” tanyanya pelan dan lembut.

Aku terkejut, mencoba tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Mak…” jawabku pelan.

Kami kembali diam, hanya suara detak jam dan hirupan teh yang terdengar. Rasanya hambar, bahkan teh manis pun terasa pahit.

Lalu ibuku bertanya, “Jadi sudah yakin kamu mau masuk suster? Kamu yakin bisa, kalau kamu nanti pulang bagaimana? Kamu tahankah? Kamu bisa masak, mencuci dan kerja kebun?” …

Maklumlah, karena adik kandung ibu pernah gagal jadi suster dan bahkan sampai sakit dan akhirnya keluar. Ibuku mengalami trauma bila hal yang sama terjadi dengan saya. Aku menarik napas panjang. “Mak… maafkan aku, kalau aku membuat Mamak sedih. Apakah Mamak mengizinkan aku jadi suster?”

Ibuku takut kalau dia menolak apa yang menjadi cita-cita saya sejak sekolah dasar bisa berakibat buruk kepadaku. Pagi ini pun kami masih diam seribu bahasa, kami sarapan bersama, tapi semua terasa hambar, diam-diam saya memandang wajah ibuku yang sudah mulai tua, dalam hati aku berbisik, “Maafkan aku, Mak… aku tidak bisa menolak panggilan Tuhan dalam diriku.”

Aku tahu, ibuku mencintaiku, aku tahu dia tidak menolak saya untuk menanggapi panggilan Tuhan. Ia hanya takut saya gagal dalam panggilan. Ia takut saya tidak tahan menderita. Ia takut saya tidak mampu berpisah dari dia. Dan demikian juga sebaliknya, ia tidak tahan berpisah dengan saya. Ibuku takut, kalau kami tidak bisa lagi berkomunikasi. Ia takut kalau dia sakit dan akhirnya meninggal saya tidak akan melihat dia lagi.

Ibuku takut berpisah dengan saya puteri bungsunya. 

Ilustrasi: Pergi pamit. (Ist0

Langkah baru

Ibu…saya pamit ya…, maafkan saya… kali ini saya harus meninggalkanmu untuk sementara waktu. Ibuku tidak kuasa untuk menahan airmatanya.

Ia menangis sesunggukan. Ia memelukku erat sekali dan berbisik “sehat di sana ya boru, kalau kamu sakit pasti saya juga akan sakit. Boru… kalau aku sakit siapa yang merawat aku? Kalau aku nanti meninggal apakah kamu bisa datang?”.

Dada saya semakin sesak, dan ingin menjerit, tetapi saya mencoba untuk tegar dan dengan pelan saya berbisik “Mak…kamu pasti sehat, kita pasti akan jumpa, kalau kamu sakit datanglah ke klinik suster di Haranggaol”.

Saya mencoba tersenyum, meski saya juga sangat sedih.

Mak…aku pergi ya… Ibuku tidak sanggup melihat saya melambaikan tangan. Saya memandang seluruh ruangan di rumah yang memberi banyak kenangan indah. Saya pandangi sekitar rumah dan kampungku, dan akhirnya saya melangkahkan kaki untuk pergi.

Sore hari tiba di biara SFD di Haranggaol dengan sehat, para suster menyambutku dengan hangat dan sejenak saya bisa melupakan ibu dan kampung halaman.

Tetapi menjelang tidur, hati dan pikiranku kembali diliputi rasa rindu kepada ibu dan kampung halamanku.

Pengalaman penulis saat mulai merintis jalan hidup bakti sebagai suster biarawati Kongregasi SFD. (Sr. Filomena Turnip SFD0

Ibu adalah teman terbaik yang aku miliki dalam hidupku, satu-satunya teman sejati yang dapat mengorbankan segalanya hanya untukku agar bahagia.

Aku mencintaimu, Bu. Terimakasih atas semua didikanmu yang membentuk hidupku, atas setiap doa yang engkau panjatkan dalam diam. Aku merindukanmu…

Segala rasa yang ada dalam diriku kupersembahkan kepada Tuhan. Aku percaya Tuhan yang memulai dalam diriku, maka aku akan dimampukan. Semangat baru penuh harapan kurajut untuk memulai perjalanan panggilanku sebagai calon suster biarawati dalam Kongregrasi SFD.

“Maafkan aku, Mak… Aku tidak pergi untuk meninggalkanmu. Aku pergi untuk mengikuti panggilan-Nya. Doakan aku…” (Berlanjut)

Edisi rindu Sr. Filomena Turnip SFD

Baca juga: Mak, mengapa cepat pergi? (2)

6 COMMENTS

  1. Saudariku ikut baper dech, ibu suster pasti sekarang bahagia banget lihat sr Filomena bahagia jadi sr SFD. Terus semangat menjalani panggilan hidup suster, kami mendukung & mendoakan selalu. BDG…???? (Bu Christin & pak Jati di Baciro Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo