DI banyak kawasan dunia, sekarang ini orang sering mengeluh tentang sedang terjadinya krisis sistem.
Keluhan semacam itu kurang tepat. Mengapa?
Krisis kesadaran untuk lahirkan peradaban baru
Karena yang sedang terjadi bukanlah krisis sistem. Yang sedang terjadi adalah krisis kesadaran; khususnya kesadaran untuk menciptakan kehidupan bersama yang landasannya adalah jiwa yang utuh, hati yang adil, dan tujuan hidup yang lengkap.
Sementara sistem yang rusak bisa dengan mudah diperbaiki, kesadaran yang tumpul hanya akan menimbulkan kekerasan yang dilegalkan.
Berhadapan dengan krisis demikian, kita tidak boleh memandangnya sebagai tanda akan berakhirnya peradaban.
Sebaliknya, kita perlu memandangnya sebagai undangan untuk melahirkan peradaban baru, yakni peradaban yang lebih berkesadaran, lebih rendah hati, dan lebih berbelas kasih.
Demikian antara lain disampaikan oleh Profesor Connie Rahakundini Bakrie dalam Forum Praksis seri ke-16 di Jakarta hari Sabtu 24 Januari 2026.
Istilah moral
Menyingung buku terbarunya yang berjudul From the Dream of Civilization to the Birth of a Conscious Nation, Guru Besar Universitas St. Petersburg Rusia itu selanjutnya mengatakan, istilah conscious nation atau bangsa yang berkesadaran yang ia gunakan bukanlah istilah politik melainkan istilah moral.
Oleh karena itu sebuah bangsa yang berkesadaran adalah sebuah bangsa yang pemerintahnya sadar akan batas-batas kuasanya, yang hukum-hukumnya lahir dari nurani yang jernih, dan yang kepemimpinannya berangkat dari tanggungjawab batin.
Menurut Connie, bangsa yang berkesadaran tidak melarang para pemimpinnya untuk hadir di kancah global. Yang dilarang adalah kehadiran yang lahir dari sekedar kegelisahan ego.
Bagi sebuah bangsa yang berkesadaran, pengaruh sejati dari para pemimpinnya di panggung dunia tidak dicapai dengan cara “melompat keluar dari diri-sendiri”, melainkan dengan menyelesaikan-diri, hingga dunia tak punya pilihan selain kagum.
“Pada akhirnya,” tegas Connie, “negara adalah cermin jiwa manusia-manusia yang membangunnya”.
Betapa pun kuatnya sebuah negara, menurutnya, jika manusia-manusia yang membangunnya kehilangan kesadaran, negara tersebut hanya akan menjadi mesin tanpa jiwa.
Terkait hal itu dalam forum yang diselenggarakan oleh PRAKSIS (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesus) itu ia menambahkan, negara perlu menekankan pentingnya pendidikan, iman dan formasi batin. “Pendidikan, iman, dan formasi batin menjadi jauh lebih penting daripada regulasi atau teknologi,” lanjutnya.
Lahirkan bangsa berkesadaran
Sementara pada era-era sebelumnya manusia membangun banyak kota dan kekaisaran, tutur Connie, pada abad ke-21 ini manusia diundang untuk melahirkan bangsa-bangsa yang berkesadaran. “Pada abad ini manusia dipanggil untuk membangun jiwa dan memelihara perdamaian,” imbuhnya.
Guna membangun jiwa dan memelihara perdamaian itu, menurut dia, diperlukan apa yang disebut cura personalis.
Itulah kesediaan untuk merawat manusia seutuhnya sebagai fondasi dari peradaban. Tanpa adanya cura personalis, negara hanya akan mencetak manusia-manusia yang efisien, tetapi bukan manusia-manusia yang bermartabat.
Ia mengingatkan, suatu peradaban tidak runtuh ketika gedung-gedungnya roboh. Suatu peradaban akan runtuh ketika manusia-manusianya berhenti bertanya:
- Apakah ini benar?
- Apakah ini adil?
- Apakah ini bermartabat?
Kemanusiaan baru
Mengacu pada Presiden pertama Indonesia, Connie mengingatkan bahwa Bung Karno menginginkan terciptanya “kemanusiaan baru” pasca-kolonial.
Kemanusiaan baru yang dimaksud bukan hanya kemanusiaan yang menolak dominasi asing dan memperjuangkan kedaulatan, melainkan yang juga berakar kuat dalam kosmologi Nusantara.
Bung Karno sendiri, menurut Connie, menghayati prinsip-prinsip lokal seperti Tri Hita Karana, yakni terciptanya harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Bung Karno juga memeluk ajaran Tri Tangtu di Buana yang menekankan keseimbangan antara penguasa, rakyat, dan hukum-hukum moral.
(Dalam konteks itulah, menurut Connie, Bung Karno pernah mengatakan: “A nation is a soul, not a geography.” Suatu bangsa adalah sebuah jiwa, dan bukan sekedar kesatuan geografis.
Bung Karno yakin, melalui Pancasila negara Indonesia akan mampu menjadi “negara paripurna,” yakni negara yang sempurna, sebuah organisme politik yang dijiwai oleh kesadaran moral dan spiritual.
Menutup paparannya, Connie mengatakan: “Sebagaimana Sukarno memimpikan Negara Paripurna, marilah kita bermimpi tentang peradaban yang berkesadaran, di mana bangsa-bangsa bangkit bukan dengan dominasi tetapi dengan martabat batin menuju simfoni peradaban yang dipandu oleh hati nurani, kerjasama, dan kasih.”
Kredit foto: Praksis












































