Artikel Pencerah: Pembelajaran “Just in Time”, bukan “Just in Case”

0
217 views
Anak-anak bermain HP di-halaman Gereja Katolik-Balai Karangan Keuskupan-Sanggau, Kalbar by-Mathias Hariyadi.


NAMANYA Gaizka Denia Kirani, bayi perempuan belum genap dua tahun. Setiap bertemu, dia langsung menggapai gadget yang ada di saku depan. Minta dibukakan password-nya, dan langsung memilih aplikasi YouTube.

Video lagu anak-anak menjadi pilihan favoritnya.

Gaizka langsung ikut menyanyi. Kedua tangannya diputar-putar ke kiri dan ke kanan, meniru gaya penari yang tampil di layar kaca. Sebagian syairnya dalam bahasa Inggris.

Gaizka baru belajar mengeja huruf dan menyebut beberapa nama binatang. Kata yang diucapkan belum jelas. Kalimat agak panjang belum bisa dicernanya. Celotehnya belum sempurna.

Meski tak paham “skip ad”, yang kadang muncul di ujung kanan bawah, dengan wajah gemas dia cepat menyentuhnya agar tayangan iklan enyah dari tontonannya. Tak tahu siapa, di mana dan bagaimana dia belajar.

Seolah tiba-tiba, Gaizka bisa sendiri untuk membuka aplikasi dan menikmati tontonannya.

Dugaan saya, teman-teman sepantarannya juga mempunyai “kompetensi” yang setara.

(Saya pertama kali menyentuh kalkulator dengan operasi matematika yang paling sederhana, tambah, kurang, kali, bagi, saat duduk di bangku kuliah semester 4. Komputer sekolah, disimpan di ruangan “sakral” dengan luas seperempat lapangan bola).

Marc Prensky, konsultan, dan ahli perancang games (permainan) di bidang pendidikan dan pembelajaran, menyebut Gaizka, sebagai “Digital Natives”. (Digital Natives, Digital Immigrants: 2001).

Peralatan berbasis digital, sudah menjadi bagian dari hidupnya. “Cara belajar”-nya pun berbeda, dibandingkan saya “tempo doeloe”.

Perubahan dari saya ke Gaizka tidak berangsur-angsur, tetapi berupa “pemegatan” (discontinuity).

Saya memandang asing revolusi digital, tapi Gaizka tidak. Merc menyebut mereka, yang “baru” mengenal teknologi digital saat dewasa, sebagai “digital immigrants”.

Merc menduga bahwa sejak dalam kandungan, Gaizka telah menangkap getaran jari-jari ibu (dan juga ayahnya) ketika kerap memencet ponsel dan laptop dan secara batiniah mempengaruhi detak jantung dan helaan nafasnya.

Dalam situasi seperti itulah, janin terbentuk dan tumbuh.

Tak hanya saya yang shock. Kehidupan umat manusia tergoncang hebat. Ranah ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, dan cara berkomunikasi seakan berganti judul dan isi cerita. Bumi seperti terkena lindu.

Revolusi Industri 4.0 dituduh sebagai biang-kerok. Para teoritisi menyebutnya “era disruption”, yaitu revolusi digital yang merasuk dan “merusak” peradaban, termasuk tentunya perilaku para pelakunya.

Pasar kerja terimbas. Pembelajaran murid di kelas formal dan pengembangan pegawai di ruang kerja perlu dirombak dengan membuang mindset lama.

Fenomena ini meninggalkan problema besar yang sulit dijawab. Pertanyaan mendasar yang menentukan hidup para digital natives selanjutnya, adalah bagaimana “cara belajar” yang tepat di zaman hiruk-pikuk seperti ini.

Bagaimana mungkin digital natives belajar dari pendidik atau mempunyai atasan digital immigrants?.

Untung, Jumat malam, minggu lalu, saya mendapat kesempatan menjadi moderator pada acara bedah buku “Forges in Zoom”. Judulnya: “Jalan Baru Kepemimpinan dan Pendidikan–Jawaban atas Tantangan Disrupsi-Inovatif” (2020).

Penulis buku, Romo Yoh. Haryatmoko SJ, menjadi sumber informasi yang otoritatif. Sementara Prof. Anita Lie, pakar pembelajaran dan Guru Besar Unika Widya Mandala Surabaya, menjadi penanggap yang tajam.

Acara itu mampu menjawab pertanyaan tentang bagaimana “cara belajar” di “era disruption”. (hal 100-103).

Pembelajar, baik murid di kelas atau pegawai di ruang kerja, diharapkan mendapat pemahaman yang lengkap dengan “proses terjadinya” dan “konteks yang melatar-belakanginya”.

Sementara, materi pembelajaran ditujukan untuk menyelesaikan tantangan saat ini dan masa mendatang.

Ini jauh berbeda dengan pembelajaran yang dulu saya dapatkan. Materi dijejalkan, dengan harapan, siapa tahu mampu menyelesaikan (semua) persoalan, yang mungkin timbul.

Haryatmoko menyebut yang pertama sebagai pembelajaran “just in time”, yang kedua sebagai “just in case”.

Gaizka, “mahir” memencet ponsel dan laptop, karena lahir dan hidup bersama mereka. Bekal pembelajarannya pun seyogyanya disiapkan untuk mampu melawan tantangan zaman kini (dan esok).

Tak perlu menyiapkan pembelajar untuk menghadapi problema yang kemungkinan (besar) tidak terjadi. Lagi pula dia segera lupa isinya. Aktivitas menghafal dan mengerti diganti memahami, menganalisa dan mengkritisi.

Pelatihan softskill untuk pekerja yang merujuk ke “kompetensi standard” yang dirancang 10-20 tahun lampau, (hampir) pasti obsolete dan tak relevan dengan tantangan yang dihadapi sekarang. Kalau dipaksakan, buahnya hanya kemubaziran belaka.

Dunia berubah tiap saat, bukan tiap tahun, bulan atau hari.

Proses belajar “just in time” lebih nyaman buat pembelajar. Waktu dan kesempatan berdiskusi dengan fasilitator, lebih terbuka.

Pembelajaran tidak hanya satu arah, agar mampu membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, dan berkompetensi. (“Merdeka Belajar”, Wikipedia bahasa Indonesia).

Gaizka masuk “digital natives”. Saya “digital immigrants”.

Dua manusia dengan “alam” yang berbeda. Silakan dicatat, sistem pembelajaran yang dulu telah “membesarkan” saya bukan dirancang untuk mengembangkan Gaizka menjadi orang dewasa seperti saya.

“Today’s learners are no longer the people our educational system was designed to teach”. (Marc Prensky)

@pmsusbandono
19 Oktober 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here