Beda Prinsip, Berani Tunda Perkawinan

0
259 views
Ilustrasi: Cincin nikah.

BAPERAN – BAcaan PERmenungann hariAN.

Sabtu, 31 Juli 2021.

Tema: Menghidupi roh.

  • Bacaan Im. 25: 1, 8-17.
  • Mat. 14: 1-12.

HIDUP itu berharga. Setiap pribadi dicipta secara unik; dicintai sepenuh-Nya. Ia ditebus dengan darah Putera-Nya.

Tak heran, hidup lalu adi lahan perebutan antara kuasa Roh Kudus dan kuasa kejahatan, musuh kodrat manusia.

Kita percaya dan bersyukur, kita diciptakan sebagai manusia yang kadang keliru bahkan terpuruk. Sebagai puncak ciptaan, roh jahat selalu mengupayakan menjerat kita untuk menjauhi Allah.

Hari ini, kita merayakan Pesta Santo Ignatius Loyola. Ia mengajari penegasan akan apa yang lebih mendekatkan saya pada Sang Pencipta. 

Penegasan roh (discretio spirituum) adalah sarana.

Dengan pertimbangan secara nalar, perhitungan untung dan rugi, sekaligus kepekaan jiwa atas sentuhan Roh Kudus.

Yang mengajak kita agar melakoni hidup bagi kemuliaan Allah dalam setiap kesempatan ambil keputusan.

Penegasan rohani menjadi dasar utama keputusan dan cara bertindak.

Berpikir ulang

Sepasang calon mempelai berusaha ingin membangun sebuah keluarga yang mereka cita-citakan. Calon mempelai perempuan yang mengajak pasangannya menjadi Katolik. Berhasil.

Dalam perjalanan pengenalan lebih intens lagi, mereka putus hubungan. Mereka sama-sama menyadari, mungkin putus cinta di tengah jalan ini merupakan kesepakatan bersama terbaik. Demi kedua belah pihak.

Dari pihak laki-laki ikhlas, legowo. Ia sadar, cinta tidak dipaksa.

Calon mempelai puteri merasa sedikit berdosa. Ia yang menarik pasangannya menjadi Katolik.

Batin yang mengagumkan sekaligus menyiksa. Namun hati mereka dapat berpikir dengan tenang, dewasa demi hidup yang lebih bermakna.

Masa-masa mereka menjadi saat permenungan, rentetan doa, mendengarkan Firman. Kendati telah menyatakan putus, mereka tetap bersahabat.

Akhirnya mereka berjalan bersama lagi. Mereja mencoba melanjutkan kebersamaan.

Saat-saat perjumpaan semakin intens; menyiapkan segala sesuatu bagi perkawinan.

Kendati demikian masih ada persoalan-persoalan yang membuat mereka semakin merasa bahwa perlu waktu lebih banyak untuk bicara bersama.

Masih butuh kesepakatan demi kebahagiaan.

Saya mengenal pribadi mereka ini dengan baik; mengikuti perjalanan mereka. Sering syering atas keprihatinan, pengharapan akan hal-hal yang masih belum disepakati.

Mereka lalu saya ajak bicara satu per satu.

Dengan hati yang tenang melalukan serangkaian pembicaraan. Guna mempertajam pertimbangan-pertimbangan. Juga ingin menegaskan kembali untuk apa mereka ingin berkeluarga.

Keterbukaan dan blak-blakan dengan berbagai persoalan yang masih tersisa “menghadang” jalan bersama itu penting.

Perkawinan Katolik merupakan sarana indah dan kebahagiaan hidup. Diharap tidak menyembunyikan apa pun yang dapat menjadi racun kebahagiaan.

Kesepakatan iman, persetujuan cinta mesti dilewati dalam jalan kejujuran dan penerimaan tulus satu sama lain.

Saya merasa dalam diri calon mempelai laki-laki ada sedikit perbedaan pendapat yang mungkin bisa mengganggu. Tidak boleh digampangkan, seperti, nanti akan selesai setelah perkawinan.

Justru dalam perkawinan, persoalan-persoalan akan semakin terasa.

Saya mengusulkan matangkan dulu pendapat masing-masing. Satukan hati. Tidak ada yang ditutupi yang akan membuat persoalan di kemudian hari.

Saya melihat cintanya begitu besar kepada calon pasangannya.

Saya merasa calon mempelai puteri punya prinsip yang teguh, baik, dan jelas.

Ia tidak mau sedikitpun ada keraguan atau merasa di belaskasihi harus diterima sebagai calon isterinya. Cintanya pun besar. Ia menerima kembali calon pasangannya apa adanya. Ia mengharapkan  pasangannya tidak gamang.

Yang mengagumkan mereka terbuka menerima masukan. Mereka sepakat menunda rencana indah mereka.

Penegasan merupakan sarana tepat pembeningan batin dalam Roh. Sarana yang berkenan pada-Nya. Dan hidup lebih bermakna.

Tuhan, berilah mereka kekuatan untuk mencinta. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here