Home BERITA Berwajah Dua

Berwajah Dua

0
418 views
Ilustrasi - Cermin. (Ist)

Jumat, 17 Oktober 2015

Rm. 4:1-8.
Mzm. 32:1-2,5,11.
Luk. 12:1-7

KEMUNAFIKAN adalah racun yang bekerja perlahan.

Kemunafikan tidak datang dengan wajah menakutkan, tidak berbicara dengan suara keras, bahkan sering kali berbalut kata-kata indah dan tindakan yang tampak benar. Namun di balik penampilannya yang manis, ia menipu hati dan melemahkan jiwa.

Inilah bahaya terbesar dari kemunafikan: ia tidak tampak jahat. Ia seolah baik, saleh, bahkan rohani. Ia bisa menyusup dalam doa yang panjang, dalam kata-kata bijak, dalam tindakan yang tampak penuh kasih, tetapi sebenarnya dilakukan bukan karena cinta kepada Tuhan, melainkan demi citra diri, penghargaan, atau penerimaan dari orang lain.

Kemunafikan membuat hati kita terbelah. Kita hidup bukan lagi untuk kebenaran, melainkan untuk menjaga kesan.

Kita berusaha terlihat suci di mata manusia, tapi lupa bahwa mata Tuhan menembus segala kepura-puraan.

Sedikit demi sedikit, kemunafikan mencuri kejujuran batin dan menggantikannya dengan topeng-topeng yang kita pakai setiap hari.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita dengar demikian, “Waspadalah terhadap ragi orang Farisi, yaitu kemunafikan.”

Ragi bekerja diam-diam, ia tidak kelihatan, tapi sedikit saja sudah cukup untuk mengubah seluruh adonan. Begitulah kemunafikan: tidak memiliki bentuk fisik yang mudah dikenali, tapi perlahan merasuki pikiran dan hati.

Kemunafikan membuat seseorang hidup dalam dua wajah, satu untuk dunia, satu untuk dirinya sendiri.

Kemunafikan tidak berwarna hitam atau putih. Ia abu-abu, bersembunyi di balik niat baik, alasan bijak, dan penampilan saleh.

Kadang kita bahkan tidak sadar ketika mulai menikmatinya: ketika kita lebih sibuk terlihat benar daripada sungguh menjadi benar; ketika kita menilai orang lain tanpa memeriksa diri sendiri; ketika kita berbicara tentang kasih, tapi sulit mengampuni.

Maka Yesus berkata, “Waspadalah.”
Waspada terhadap kemunafikan yang ada di sekitar kita, terhadap ajakan untuk berkompromi dengan kebenaran, terhadap keinginan untuk tampil baik di mata orang tapi miskin kejujuran di hadapan Allah. Dan yang lebih penting, waspadalah supaya kita sendiri tidak menjadi seperti itu.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku lebih peduli pada bagaimana orang lain menilai aku daripada bagaimana Tuhan melihat hatiku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo