Day of Non-Violence

0
23 views
Mahatma Gandhi berjuang tanpa kekerasan. (Ist)

Puncta 16 Juni 2024
Senin Biasa XI
Matius 5: 38-42

PADA Sidang Umum Bulan Juni 2007, PBB mengumumkan tanggal 2 Oktober sebagai peringatan International Day 0f Non-Violence.

Mengapa dipilih tanggal 2 oktober?

Karena tanggal itu adalah tanggal kelahiran Mahatma Gandhi, Bapak Kemerdekaan India yang berjuang melawan penindasan penjajah tanpa kekerasan.

Gandhi yang nama lengkapnya Mohandas Karamchand Gandhi lahir pada tanggal 2 Oktober 1869, di Porbandar, India. Ia adalah tokoh inspirasional abad 20 kemarin.

Ia memperjuangkan kemerdekaan dengan prinsip terkenal berjuang tanpa kekerasan yang disebut dengan Satyagraha.

Ia mengajarkan kepada rakyat India untuk melawan penindasan, ketidak-adilan, kejahatan tanpa kekerasan. Ia tidak ingin melawan kekerasan dengan kekerasan.

Yang ia ajarkan adalah welas asih, toleransi, hidup rukun dengan semua manusia, bahkan bagi mereka yang berbeda agama dan keyakinan sekalipun.

Kendati Gandhi telah tiada, tetapi warisan perjuangannya tetap menggema di seluruh dunia. Ia mengajak setiap orang untuk menciptakan perdamaian. Kekerasan yang dibalas dengan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.

Sekitar Duapuluh abad yang lalu, Yesus juga membaharui hukum yang telah lama berlaku di masyarakat yakni kebiasaan “mata ganti mata, gigi ganti gigi.” Hukum balas dendam harus dihapus, diganti dengan hukum yang baru.

Dalam kotbah-Nya, Yesus berkata, “Kalian telah mendengar, bahwa dahulu disabdakan, ‘Mata ganti mata; gigi ganti gigi.’ Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Janganlah kalian melawan orang yang berbuat jahat kepadamu. Sebaliknya, bila orang menampar pipi kananmu, berikanlah pipi kirimu.’

Yesus mengajarkan kepada orang untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Mahatma Gandhi mempraktekkan nilai-nilai yang diajarkan Yesus ini.

Hampir saja dia menjadi Kristen karena sering membaca Injil. Tetapi karena melihat praktek hidup orang Kristen di Afrika Selatan yang jauh dari nilai-nilai Injili, ia membatalkan niatnya, dan hanya mengambil inti ajaran Yesus untuk berjuang tanpa kekerasan.

Sebagaimana Yesus yang berjuang tanpa kekerasan harus menghadapi kematian di salib. Begitu pun Gandhi juga mati ditembak oleh seorang pengikutnya yang fanatik ketika ia akan menghadiri doa untuk perdamaian dan kerukunan antar umat beragama di Birla House, New Delhi pada 30 Januari 1948.

Yesus dan Gandhi adalah pribadi besar yang berjuang untuk kemanusiaan tanpa kekerasan. Apakah kita mau mengikuti teladan Yesus untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan?

Tidak lama lagi masuk Bulan Juli,
Tempat tugas baru sudah menanti.
Marilah kita belajar mengampuni,
Lebih hebat lagi kalau bisa mengasihi.

Cawas, berjuang tanpa kekerasan
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here