Kiong Koe Berkicau: Hamil Duluan, Aib Atau Berkat

0
184 views
Ilustrasi: Tiga pokok dalam Magnificat Maria. (Ist)


Apau kayan, 8-9-2022

Mat 1:18-23

SEBAGIAN generasi muda kita yang hidup di zaman ini telah melakukan pacaran dan tidak sedikit yang mengalami “hamil duluan”. Apakah ini sebuah tren dan gaya hidup baru?

Sebab mereka yang mengalami “hamil duluan” bukan dilihat aib lagi. Bagi mereka, pacaran yang benar-benar terkontrol sudah nampak usang dan ketingalan zaman. Sekalipun tsunami seruan moral agama dengan ancaman neraka di sana sini, toh itu cuma imbaun moral agamis yang bisa masuk di telinga kanan dan keluar ke telinga kiri.

Persis seperti peribahasa, “Air jatuh di daun talas” (air jatuh tak membekas sedikit pun).

Di mata orangtua yang hidup menyatu dengan moral agama, melihat gelagat pacaran anak muda seperti itu merasa gregetan. Tidak sedikit dari mereka yang melihat gejala itu dengan mengumpat, mengutuk dan merasa hal itu sebagai aib yang memalukan.

Bahkan tidak sedikit ada pihak yang merasa peran dan fungsinya sebagai orangtua telah pupus. Ada yang marah, kecewa, putus asa dan mengurung diri di rumah karena tak tahan menanggung malu dan takut dilihat tetangga.

Dan tentu masih banyak lagi bentuk respon lain menanggapi hal itu dengan aneka penyampaian sindiran dan negatif yang bermacam-macam. Bahkan tak jarang hal itu, di sebagian tetangga bisa menjadi buah gosip yang dengan mudah viral ke mana-mana.

Dalam hal ini, betapa keluarga sebagai pihak yang menanggu beban malu sangat terluka.

Namun terlepas dari polemik itu, ada baiknya juga bila kita menyadari kembali titik rerentan dari kerapuhan hidup manusia. Manusia itu benar-benar rapuh. Dia tidak imun terhadap godaan. Dia sangat rentan sekali terpesona dan tergoda dengan hal-hal yang duniawi.

Tuhan Yesus sendiri telah merefleksikan hal itu demikian, “Roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mat 26:41).

Di sinilah kita melihat dan menilai. Yakni, bahwa pekerjaan menjaga hati, pikiran, mata, lidah, perasaan, “burung dan sarangnya” supaya iak terpapar virus duniawi itu sama sekali bukan tugas yang mudah.

Ini adalah pekerjaan terberat manusia seumur hidup. Apa lagi kita yang hidup di zaman tsunami informasi dan “medsos” yang tidak bisa terkontrol. Semua hal-hal buruk sangat mudah terakses.

Hidup di zaman seperti ini, jangankan kita mau mendampingi dan mengarahkan mereka ke jalan Tuhan, wong kita sendiri saja banyak yang terseok-seok mendampingi diri sendiri ke jalan Tuhan.

Dan karena kita lemah dan rapuh ini, Tuhan Yesus terus menerus mengajak kita untuk hidup berjaga-jaga dan berdoa, supaya kita tidak diseret dan jatuh ke-dalam pencobaan (bdk. Mrk 14:38).

Lantas bagaimana dengan Maria yang dikisahlan dalam Injil hari ini, “Ia hamil duluan”, apakah itu aib di zamannya?

Ya…budaya di zamannya itu aib yang tidak hanya memalukan, tetapi hukum untuk mengadili dia zaman itu, dirajam dengan batu sampai mati.

Maria tidak hanya menanggung beban gosip negatif dari sana sini, tetapi dia dikata-katai sebagai wanita kurang moral, susila dan semacamnya. Dalam hal penilaian semacam ini, di masyarakat kita yang hidup di zaman ini, sama saja omogannya.

Kita bisa bayangkan bagaimana beban hidup yang ditanggung oleh keluarga Maria dan Maria sendiri dalam hal ini. Sangat mungkin Yusuf tunangannya saat itu juga punya penilaian serupa kendati dia tidak membuka aib itu ke publik.

Namun hal yang tidak biasa ini digunakan oleh Allah untuk menjadi jalan berkat bagi keselamatan banyak orang.

Kita dan orang banyak melihatnya aib, tetapi Allah memakainya sebagai berkat. Kita menyebut anak yang dalam rahimnya sebagai anak haram tetapi orang di surga menyebut-Nya Anak Allah.

Kita dan Allah memang beda banyak dalam hal mengetahui dan penilaian.

Kata Rasul Paulus, “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” (1Kor 1:27-29).

Refleksi: “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat apa yang dibutuh manusia untuk hidup kekal.” (bdk.1Sam 16:7)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here