Mata Hati yang Terpejam

0
201 views
Ilustrasi: Menutup mata.

Bacaan 1: Kis 4:13-21

Injil: Mrk 16:9-15

Mata hati adalah sebuah perumpamaan menggambarkan perasaan dalam hati yang tulus dan tidak pernah berbohong. Saat mata hati sedang terpejam mungkin itu mengandung banyak arti yang mendalam.

Menutup mata kadang memang membuatmu bisa tenang. Saat satu keinginan tak tersampaikan maka menutup mata sejenak mampu menenangkan pikiranmu. Namun menutup mata bukan berarti tidak mau menerima kenyataan namun lebih kepada berhenti sejenak untuk merenungkan lebih jauh.

Para murid Yesus yang sedang berkabung karena kematian-Nya terlihat sedang menutup mata hati mereka. Mereka sulit untuk menerima hal-hal yang berhubungan dengan “Guru” mereka termasuk kebangkitan-Nya.

Bagaimana tidak, jika dalam tradisi Yahudi kesaksian bisa diterima ketika ada dua orang atau lebih saksi, maka dalam peristiwa berita Kebangkitan hal itu sedang tidak berlaku.

Saat ada satu saksi, Maria Magdalena tidak dipercaya masih wajar. Lalu Yesus menampakkan diri pada dua orang murid-Nya dalam perjalanan ke luar kota. Itupun masih belum dipercaya.

Maka Tuhan Yesus menegur ketidakpercayaan dan kedegilan hati para murid itu, yang ditulis oleh Markus:

Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.

Tidak tanggung-tanggung kesebelas murid inti “dijumpai-Nya” secara langsung, agar percaya.

Iman akan kebangkitan-Nya telah memberikan “Amanat Pengutusan” untuk bermisi pergi mewartakan injil.

“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Iman akan kebangkitan ini pula yang memberi kekuatan Petrus dan Yohanes saat menjawab ancaman para imam kepala dan rombongan orang Saduki:

“Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah.

Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.”

Pesan hari ini

Apakah kamu juga terus-terusan memejamkan mata hatimu menunggu dicela ketidakpercayaanmu pada-Nya dan ditegur atas kedegilan hatimu?

“Mata lebih jujur berbicara dibandingkan kata-kata yang terucap lewat mulut.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here