Home RESENSI BUKU Memandang Hidup dengan Penuh Syukur

Memandang Hidup dengan Penuh Syukur

4
Memandang Hidup dengan Penuh Syukur Judul: Hidup Itu Anugerah Penulis: Laurent Prasetya Pr Editor: Hendra Prabawa Penerbit: PYogyakarta Cetakan: 1/ 2012 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-602-9485-14-1 Harga: Rp 13.000
Judul: Hidup Itu Anugerah
Penulis: Laurent Prasetya Pr
Editor: Hendra Prabawa
Penerbit: Pohon Cahaya Yogyakarta
Cetakan: 1/ 2012
Tebal: 116 halaman
ISBN: 978-602-9485-14-1
Harga: Rp 13.000

Dalam ziarah kehidupan senantiasa terpapar aneka peristiwa. Ada yang membahagiakan ataupun mengecewakan, yang membanggakan dan membuat terpuruk, yang berhasil serta yang gagal. Seluruh dinamika pasang-surut tersebut nyata dalam 24 jam keseharian kita. Sehingga alangkah baiknya jika di tengah hiruk-pikuk dan rutinitas manusia menyediakan waktu untuk menarik diri dan berefleksi. Sebab, menurut petuah para bijak, hidup yang tak pernah ditinjau ialah hidup yang tak layak dijalani.

Berdasar hasil introspeksi batin niscaya terpatri sebuah keyakinan kuat. Pun dapat dijadikan pedoman saat melangkah lebih lanjut. Ternyata hidup memang sebuah anugerah. Lewat buku ini, pembaca diajak  untuk mensyukuri dalam segala. Salah satu wujud ungkapan terimakasih itu dengan berbagi pada sesama yang menderita. Penulisnya, Laurent Prasetya Pr memperkenalkan akronim baru. Yakni KLMTD, singkatan dari Kelompok orang kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel (halaman 80).

Menurut analisis Pastor kepala Paroki St. Aloysius Gonzaga Mlati, Yogyakarta ini sikap acuh dan kecenderungan egosentrisme menumpulkan kepekaan nurani terhadap sesama. Terutama bagi kaum KLMTD di sekitar lingkungan terdekat kita. Secara lebih rinci, ketua Yayasan Lembaga Biblika Indonesia (YLBI) ini memaparkan bahwa semangat berbagi (sharing spirit) tak melulu terkait materi yang bisa disentuh (tangible). Seperti makanan, minuman, uang, pakaian, dll tapi juga terkait dengan hal-hal yang bersifat rohani tak kasat mata (intangible).

Dalam konteks ini, kerendahan hati dan ketulusan menjadi prasyarat utama. Sehingga kita dapat meneguhkan perjuangan, menyegarkan semangat, dan membela keadilan. Misalnya saat terjadi bencana alam, berupa erupsi gunung berapi, gempa bumi, banjir dan bahkan tsunami. Pemenuhan kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako) begitu urgen pada masa darurat. Kendati demikian, kehadiran para relawan untuk menyapa dan memerhatikan kondisi psikis para korban juga penting. Dalam bahasa Jawa disebut ngrengkuh alias menerima mereka apa-adanya (halaman 88).

Buku Hidup Itu Anugerah ibarat sebuah manifesto. Tapi bukan terkait isu politik tertentu, melainkan lebih sebagai tuntunan dalam memandang kehidupan dengan penuh syukur. Saat terlahir ke dunia dari rahim ibu, manusia diberi nafas hingga sepanjang hayat dikandung badan. Bayi boleh merasakan dekapan hangat ibunda dan menikmati air susunya. Kemudian, balita mulai belajar berkata-kata, merangkak, berjalan, dan berlari. Lewat pendampingan orang tua dan para guru di sekolah kita bisa membaca, menulis, berhitung, menyanyi, berdoa, dll.

Sistematikanya terdiri atas 12 subbab. Masing-masing menguraikan satu pokok bahasan. Antara lain Inner Beauty, Tersenyum, Bersahabat, Keseimbangan Hidup, dan Tidur Nyenyak. Hidup Itu Anugerah merupakan sharing pengalaman penulis selama 10 tahun berkarya di Pastoran Sanjaya Muntilan (1 Agustus 2002 – 7 Januari 2012) sekaligus tanda syukur atas ulang tahun Imamat ke-22 (22 Februari 1990 – 22 Februari 2012).

Karya tulis ini relatif “njawani”. Dalam arti, banyak menggunakan filosofi Kejawen untuk menerangkan satu fenomena tertentu. Misalnya, orang yang sulit bersyukur cenderung memaksakan diri (ngaya). Selain itu, mereka juga menjadikan keserakahan sebagai berhala (ngangsa). Pun selalu memerhitungkan untung dan rugi (petung). Bila ketiga kecenderungan  tersebut bersekutu maka muaranya ialah penderitaan hidup (nelangsa) (halaman 35). Contoh yang tak perlu ditiru ialah para koruptor. Mereka ibarat meminum air laut, seberapa pun perutnya menggelembung tetap saja haus dan serakah merampas uang rakyat.

Sebagai solusi, Romo Projo yang mengawali pelayanannya di Paroki St. Fransiskus Xaverius Kidulloji, Yogyakarta ini mengajak pembaca berterimakasih atas hal-hal sepele yang ada dalam keseharian hidup. Ia mengutip Mazmur 79:13, “Maka kami ini, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu akan bersyukur untuk selama-lamanya, dan akan memberikan puji-pujian untuk-Mu turun-temurun.”

Seruan tersebut sejalan dengan penelitian ilmiah dr. Masaro Emoto, ungkapan cinta (love) dan syukur (gratitude) juga membentuk kristal air heksagonal yang sangat indah. Salah satu tolok ukurnya ialah pola tidur. Tak hanya dari aspek kuantitas alias lamanya tidur, tapi lebih pada kualitas. Orang yang penuh syukur, menjalani hidup dengan gembira, bahagia, dan sepenuh hati. Alhasil, ketika tidur niscaya nyenyak dan bahkan nyenyak sekali tanpa mimpi (deep sleep). Kenapa? Karena terbiasa pasrah pada penyelenggaraan dan perlindungan-Nya (halaman 110).

Buku setebal 116 halaman ini ibarat lentera. Isinya niscaya menyinari hati pembaca yang sudi membuka diri dan berbagi pada sesama. Pilihan ada di tangan manusia, mau melihat hidup sebagai anugerah atau serapah. Senada dengan pendapat para bijak, “Manusia memang tak bisa menghentikan ombak, tapi kita bisa belajar berselancar.” Selamat membaca!

4 COMMENTS

  1. Mas Nugroho, betulan harga bukunya Rp13.000?
    di Bali bisa didapat di toko mana ya?
    Sepertinya bagus untuk hadiah Natal 🙂
    Nuwun…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version