Membangun Jembatan Kasih

0
171 views
Jangan tegar hatimu menyalakan kasih dalam keluarga, by Vatican News

PEMBANGUNAN yang paling sulit bukanlah memperbaiki kehidupan ekonomi atau membangun infrastruktur. Yang tersulit adalah membuat jembatan antar manusia. Tanpa jembatan tersebut, semua pembangunan fisik dan sosial-ekonomi bisa nyaris tanpa arti.

Namun, orang kerap lebih memilih mempunyai banyak uang dari pada banyak teman. Orang bijaksana berkata, “Uang tidak bisa mendatangkan teman sejati. Tetapi teman sejati bisa membawa uang.”

Bukankah banyak persahabatan pupus karena fulus?

Sejak zaman Nabi Amos (Amos 6: 1ab.4-7) dan Tuhan Yesus sampai kini situasinya belum banyak berubah. Orang lebih mengandalkan uang dan menjamin diri dengan materi. Demikan lekat pada keduanya hingga suara sesama yang mengemis penuh iba tak dipedulikannya.

Amos mewartakan bahwa mereka akan dibawa ke pembuangan sehingga berlalu hiruk-pikuk pestanya (Amos 6: 7). Sedang orang kaya yang hidupnya diwarnai dengan kemewahan di depan Lazarus yang kelaparan akan menanggung rasa lapar dan haus rohani abadi (Lukas 16: 24).

Ketika dia berseru-seru mengemis bantuan, sikap dinginnya selama di dunia tak memungkinkannya memperoleh pertolongan. Kemewahan duniawi menjerumuskannya ke dalam keterpisahan abadi dalam siksa api.

Sedangkan Lazarus, yang berarti Tuhan menolong, memperoleh hiburan. Dia yang dalam kisah itu tak bicara satu patah kata pun menegaskan betapa lemah dan tak berdaya posisinya. Dia mengharapkan bantuan si kaya, tapi sia-sia. Hanya Tuhan yang diandalkannya.

Apakah Tuhan memihak orang miskin dan menghukum orang kaya? Sama sekali tidak. Bukankah Abraham yang dipercaya menjadi bapa kaum beriman adalah orang kaya? Bukankah Iskak dan keturunannya diberkati dengan kekayaan?

Kisah ini berbicara tentang kebaikan Tuhan yang mengasihi Lazarus yang miskin dan memberikan kelimpahan harta kepada si kaya.

Namun, Tuhan berbuat adil. Mereka yang mengandalkan Tuhan akan selamat. Sedang yang lebih menggantungkan hidup pada harta akan masuk ke dalam hidup yang amat mengenaskan; harta tidak dapat menolongnya.

Seandainya si kaya itu sadar bahwa di luar kekayaan masih ada hidup yang disediakan baginya, dia tidak akan terbuai oleh kekayaannya sampai lupa kepada sesama. Jalan untuk masuk ke dalam hidup abadi itu adalah kasih dan sikap peduli, terutama kepada yang miskin dan menderita.

Dengan kata lain, orang bisa menyeberang ke dalam hidup abadi yang amat membahagiakan kalau selama hidupnya dia membangun jembatan kasih.

Minggu, 25 September 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here