Mengapa Rumput Tetangga Lebih Hijau?

0
279 views
Ilustrasi - Rumput hijau (Ist)

Bacaan 1: Yes 55:6 – 9
Bacaan 2: Flp 1:20c-24. 27a
Injil: Mat 20:1 – 16a

SAKJATINE urip kuwi mung sawang sinawang” yang maknanya kurang lebih, “HakIkat hidup itu hanyalah persoalan bagaimana seseorang memandang, melihat sebuah kehidupan. Saling memandang saja”.

Sederhana, namun sungguh dalam artinya. Tentang filosofi Jawa tentang “melihat orang lain” dan “dilihat orang lain” yang sering kita jumpai atau dialami sendiri.

Tahu kenapa hidup terasa mulai tidak enak? Karena kita mulai membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain.

Ungkapan “rumput tetangga lebih hijau” semakin menjelaskan betapa hidup itu adalah “wang sinawang” tadi. Selalu menilai kondisi orang lain seakan lebih baik dan beruntung dari kondisi yang dialami sendiri.

Hari ini, kita kembali bertemu dengan perikop kebaikan tuan rumah saat memberi kerja kepada lima orang pada waktu yang tidak bersamaan namun ia menggaji dengan upah yang sama.

Sepintas seperti tidak adil bahwa ia memberi upah sama antara orang yang bekerja seharian dengan yang bekerja satu jam saja.

Namun apa yang ia lakukan tidak melanggar sedikit pun perjanjian yang telah mereka sepakati bersama. Sepakat bahwa upah sehari bekerja adalah sedinar. “Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah… atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?”.

Kalimat terakhir tuan itu, sungguh menamparku. Orang sering irihati dengan apa yang dimiliki orang lain, iri harta, jabatan, dan sebagainya.

Maka dalam nubuat Yesaya, Allah mengatakan, “Rancangan-Ku bukanlah rencanamu”. Apa yang dipikirkan seseorang baik bagi dirinya belum tentu baik buat dirinya. Tuhan memiliki rencana sendiri terhadap hidup seseorang.

Yesaya mengajak orang untuk meninggalkan sifat-sifat buruk dan mengajak kembali kepada Allah. Sebab Allah selalu mengasihani dan memberi pengampunan yang berlimpah kepada mereka yang mau bertobat.

Rasul Paulus mengatakan, agar dalam hidup sepenuhnya berserah kepada Tuhan. Jalani apa yang Ia inginkan dari kita, sehingga hidup menjadi berkat bagi orang lain. “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”

Tidak perlu ada kekuatiran dalam hidup, apa yang dialami orang lain belum tentu baik untuk diri ini.

Pesan hari ini

Tak perlu galau saat melihat dari jendela, mengapa rumput tetangga terlihat lebih hijau. Mungkin kaca jendelanya kotor oleh lumut hijau. Masing-masing memiliki rejeki sendiri, hidup tidak perlu “wang sinawang”.

Tuhan memiliki rencana yang cocok dan indah untuk dijalani dan hidup harus menjadi berkat bagi orang lain.

“Rancangan-Ku bukan rencanamu, tetaplah pakai maskermu dan jaga jarakmu.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here