Home BERITA Menggarami dan Menerangi Dunia

Menggarami dan Menerangi Dunia

0
42 views
Garam dan Terang Dunia

PARA Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat petang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik.

Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan mencecap kembali semua rahmat yang telah dianugerahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-5 tahun A dalam Kalender Liturgi. Bacaan Injil (Mat 5:13-16) berbicara tentang para murid sebagai garam dan terang dunia.

Apa maknanya bagi kita?

Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut (sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari).

Pertama, Injil yang kita renungkan ini merupakan bagian dari kumpulan ajaran Yesus yang pertama dalam Injil Matius, yaitu Matius bab 5-7 (lihat catatan kedua renungan pekan yang lalu).

Kedua, dalam Mat 5:1-12 (bacaan pekan yang lalu), Yesus mengucapkan Sabda Bahagia; ay. 3-10 berkaitan dengan kehidupan orang pada umumnya (ay. 1a). Dalam ay. 10 dikatakan bahwa orang yang mengalami perlakuan buruk dan dianiaya karena melakukan kehendak Allah, perlu merasa bahagia.

Ketiga, ayat 11 isinya sama dengan ay. 10, tetapi ditujukan kepada para murid Yesus yang mengikuti Yesus ke bukit, tempat Sabda Bahagia diucapkan (ay. 1b). Sejak saat itu, Yesus berbicara mengenai kehidupan pada murid-Nya.

Keempat, pembicaran tentang garam dan terang dunia menyangkut diri para para murid Yesus sendiri. Konteksnya adalah pengalaman orang yang dimusuhi karena melakukan kehendak Allah (ay. 10), serta dicela dan diperlakukan buruk karena Yesus (ay. 11). Walaupun mengalami perlakuan seperti itu, mereka tetap diharapkan untuk bersukacita dan bergembira (ay. 12); dalam bahasa sekarang: tidak kehilangan harga diri.

Kelima, dalam konteks inilah (catatan keempat), pengajaran tentang garam dan terang dunia tampil sebagai pengajaran mengenai hidup para murid Yesus. Mereka diminta oleh Yesus untuk berlaku sebagai garam dan terang, meskipun dimusuhi. Mereka diminta untuk tetap berteguh dalam kesulitan. Sikap seperti itulah yang akan membuat mereka ikut disebut “berbahagia.”

Keenam, peran utama garam adalah membuat dunia (masyarakat manusia) tidak mudah membusuk. Peran terang adalah membuat dunia menjadi semarak dan indah dipandang; juga agar tidak tersesat dalam kegelapan.

Ketujuh, Yesus menyebut para murid “Kamu adalah garam dunia” (ay. 13a). Mereka tidak diminta untuk “menjadi” garam, tetapi “tetap (berfungsi) sebagai” garam. Persoalannya adalah bila garam itu kehilangan dayanya dan menjadi tawar atau hambar (ay. 13b). Garam seperti ini tidak ada gunanya lagi; hanya akan dibuang dan diinjak-injak (ay. 13c). Hal ini terjadi bila para murid kehilangan identitasnya sebagai murid Yesus. Dengan kata lain, bila para murid Yesus tidak ikut membuat dunia tidak membusuk dan enak untuk ditinggali, mereka tidak memberi sumbangan apa-apa (tawar).

Kedelapan, para murid Yesus juga diibaratkan sebagai terang dunia. Seperti halnya kota yang terletak di atas gunung (ay. 14b), para murid Yesus tidak dapat menyembunyikan diri; cara hidup mereka akan dilihat oleh semua orang dan tidak akan didiamkannya.

Kesembilan, seperti halnya pelita (lampu) yang menerangi seluruh ruangan (ay. 15), hidup para murid Yesus bukan hanya untuk diri sendiri melainkan untuk menerangi lingkungan di sekitarnya. Lebih jauh, hendaknya cara hidup mereka “bersinar” di hadapan semua orang, sehingga perbuatan baik mereka dilihat oleh banyak orang dan orang-orang itu akan “memuliakan Bapamu yang ada di surga” (ay. 16). Maksudnya, agar perbuatan dan tingkah laku kehidupan para murid Yesus menjadi bentuk kehadiran Allah Bapa di dunia ini.

Kesepuluh, bagaimana hal itu (catatan ketujuh sD. kesembilan) dapat diwujudkan? Para murid Yesus tidak boleh mengurung diri dalam persoalan-persoalan peribadatan dan rumus-rumus iman kepercayaan sendiri, melainkan perlu melibatkan diri dalam persoalan-persoalan sosial kemanusiaan, yang merupakan medan pelaksanaan karya keselamatan Allah.

Merenungkan Injil ini mengingatkan kita bahwa sebagai murid-murid Yesus kita adalah garam dan terang dunia.

Tanggungjawab dan panggilan ini dapat kita wujudkan bila kita, seperti dikatakan oleh Konsili Vatikan II pada 7 Desember 1965, berani melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat dan menatanya dengan nilai-nilai Kristiani (Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam, Presbyterorum Ordinis , art. 6 alinea 2).

Kalau menggunakan seruan mendiang Paus Fransiskus, kita mesti “keluar dari sakristi dan pergi ke jalan-jalan” (“get out of the sacristies and into the streets”).

Semoga Roh Allah memampukan kita untuk melakukannya.

Teriring dalam dan doa dari penulis: Romo Ig. Madya Utama SJ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo