Puncta 09.03.19 Lukas 5:27-32 Belajar dari Jari-jari

0
529 views
Ilustrasi (Ist)

ADA banyak hal yang dapat kita pelajari dari jari-jemari kita. Kali ini kita belajar tentang menunjuk, menilai, menghakimi atau menuding orang lain.

Coba anda menunjuk sesuatu.

Tentulah kalau kita menunjuk seseorang atau sesuatu adalah jari telunjuk yang menuju ke sesuatu atau seseorang itu.

Sedangkan tiga jari yang lain (jari tengah, jari manis, dan jari kelingking) menuju ke diri kita sendiri.

Jempol kita menguatkan ketiga jari itu. Itu memberi makna bahwa hanya satu yang menunjuk orang lain.

Tetapi ada tiga – bahkan jempol menguatkan– yang menunjuk ke diri kita sendiri.

Dengan demikian kita diingatkan kalau kita menunjuk, menilai, menghakimi atau menuding orang lain, tunjuklah, hakimilah, nilailah diri anda sendiri lebih dulu.

Sadar atau tidak, kita suka menghakimi orang lain.

Contoh nyata adalah sikap kaum Farisi dan para ahli Taurat. Mereka berada bersama Yesus di rumah Lewi. Lewi mengadakan perjamuan makan. Yesus diundang makan bersama para muridNya.

Orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu menilai Yesus makan bersama orang-orang berdosa. Mereka memprotes Yesus: “Mengapa kamu makan dan minum berama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”

Dengan sombongnya, kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat ini menilai dan menghakimi bahwa pemungut cukai ini sebagai orang berdosa.

Orang berdosa menurut kaum Farisi harus disingkirkan. Mereka tidak layak bergaul dengan masyarakat. Mereka adalah sampah yang harus dibuang.

Cara pandang yang salah ini ingin diluruskan oleh Yesus.

Bagi Yesus, orang berdosa adalah orang yang pantas dikasihani, ditolong dan diterima seperti yang lainnya.

Maka Yesus berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.”

Orang berdosa adalah orang sakit yang memerlukan dokter. Mereka ingin disembuhkan. Yesus datang untuk menyembuhkan mereka. Yesus menerima mereka seperti yang lain juga.

Lewi sadar sekali bahwa ia disingkiri, ditolak, digolongkan sebagai pendosa.

Maka ketika Yesus memanggilnya, ia segera meninggalkan meja cukainya dan langsung mengikuti Yesus. Tetapi orang Farisi dan ahli Taurat tetap sombong dengan penilaian bahwa mereka paling benar dan orang lain berdosa.

Marilah dalam Masa Prapaskah ini kita lebih banyak menunjuk diri kita sendiri daripada menuding orang lain.

Jari jemari kita sudah mengajarkan hal itu kepada kita.

Pergi ke sungai nangkap ikan patin
Syukur pada Allah dapat ikan tenggiri
Daripada senang menuding orang lain
Lebih baik menunjuk diri kita sendiri

Berkah Dalem,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here