Sangat Penting dan Stategis Peran Guru Bimbingan Konseling dalam Pendampingan Murid

0
642 views
Ilustrasi: Orangtua menjadi katekis bagi anak-anaknya di rumah. (FX Juli Pramana)

DALAM situasi zaman seperti ini, tentunya tidak mudah bagi guru, orangtua memahami perilaku peserta didik.

Hal tersebut terjadi karena adanya jurang perbedaan antar generasi. Anak-anak muda di Generasi Z atau Alpha memiliki pemahaman realitas berbeda dengan generasi sebelumnya. 

Mereka mempunyai sentuhan-sentuhan peradaban unik kekinian. Orang dewasa di sekitar -apalagi guru Bimbingan Konseling (BK)- perlu secara cermat mempelajari situasi yang terjadi pada diri para peserta didik. 

Sekarang teknologi digital semakin maju, dan terus berkembang. Anak-anak yang bersekolah di TK, SD, SMP, dan SLTA, umumnya merupakan native digital.

Tidak sedikit orangtua mereka, sejak dini memperkenalkan teknologi kepada anak-anak; khususnya bagi para murid di perkotaan, atau di daerah pedesaan yang sudah masuk kategori maju. 

ilustrasi: Dunia digital by Distance Educator.

Cura personalis

Orangtua bersama guru BK berkolaborasi menemani para murid agar mereka dapat bertumbuh dewasa, dan mandiri. Hal-hal bersifat elementer perlu diperkenalkan dengan cara yang pas. Misalnya terkait etiket, etika, moralitas dalam menimba ilmu di setiap jenjang.

Guru BK diharapkan tidak hanya menunggu didatangi peserta didik, tetapi juga secara proaktif mendampingi para murid baik secara umum masal, maupun pribadi melalui jalur cura personalis.

Cura personalis merupakan bantuan personal bagi setiap murid yang dilayani.

Bantuan proaktif guru BK merupakan langkah antisipatif guna membantu para murid; baik mereka yang sedang mengalami kesulitan personal, atau tidak.

Guru BK bekerjasama dengan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, yang sering disebut pamong atau moderator sekolah. Kerjasama yang bagus memungkinkan para murid terbantu dalam mengembangkan bakat, dan kemampuan mereka di lingkungan sekolah. 

Ilustrasi: Arahan dan bimbingan tetap diperlukan demi tercapainya tujuan bersama. (Dok. Sesawi.Net)

Peran orangtua dan keluarga sangat penting

Guru BK dalam tugas keseharian perlu membangun relasi dengan orangtua murid. Meskipun melakukan aktivitas formatif, sebenarnya dasar pembinaan karakter dimulai dari keluarga. Sesibuk apa pun, orangtua perlu meluangkan waktu untuk mendampingi anak-anak mereka.

Sekolah membantu orangtua dalam wilayah pendidikan formal peserta didik. Kolaborasi keluarga dan pihak sekolah merupakan bagian penting dalam mendidik. Hasil didikan simultan, akan membantu para murid setelah lulus aktif di dalam masyarakat.

Peserta didik yang mendapat perhatian dan pihak sekolah dan keluarga, dalam dirinya terbentuk semangat “pertobatan” untuk juga memberikan perhatian pada sesama.

Ilustrasi: Mengajari anak berdoa sejak kecil adalah tugas mulia setiap orangtua Katolik dalam keluarga. (FX Juli Pramana)

Melatih punya perhatian untuk dan kepada yang lain

Salah satu filsuf Perancis, Emmanuel Levinas (1906-1995), mengatakan bahwa relasi manusia yang utama adalah memberikan perhatian pada sesama. Dengan kata lain Levinas menegaskan “yang lain” diutamakan. 

Kepedulian pada sesama bukanlah ada begitu saja. Melainkan karena adanya proses internalisasi pengalaman yang direfleksikan. Oleh karenanya, peduli pada sesama perlu terus dilatih. Beberapa tokoh kunci dalam menularkan bentuk kepedulian adalah guru BK bersama pamong sekolah, dan orangtua murid.

Guru BK mempunyai ruang terbuka untuk memberikan masukan dalam bimbingan konseling. Mereka menjadi pribadi “aman” bagi para murid sehingga mereka dapat bercerita apa saja yang menjadi pergulatan hidup.

Ilustrasi – Menolong membantu sesama. (Ist)

Fenomena beberapa bulan terkahir ini adanya tawuran remaja di masyarakat.  Para pelajar yang terlibat dalam tawuran, mengindikasikan adanya defisit afeksi, yaitu kurangnya perhatian  entah di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Sehingga ekspresi kekecewaan, kemarahan ditumpahkan melalui aktivitas destruktif; bahkan menghancurkan teman-temannya atau orang-orang lain yang sebetulnya sebaya dengan mereka.

Dalam sebuah hipotesis, biasanya persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat, di sekolah maupun di keluarga kalau diurai rinci berhubungan dengan problem psikologis yang terkait dengan anak-anak itu sendiri. Antara lain yakni bagaimana mereka melalui lingkungan sosial dapat bertumbuh secara baik, wajar atau tidak.

Sebagai contoh kalau misalnya lingkungannya itu kurang baik, entah itu dalam keluarga atau masyarakat atau sekolah, tetapi karena anak itu sudah bisa membedakan mana baik dan yang buruk, maka dia dapat saja tetap konsisten memilih yang baik. Sementara itu, tidak semua murid atau anak seperti itu. Juga tidak sedikit dari mereka yang justru dipengaruhi oleh lingkungan tidak sehat.

Membantu berikan orientasi hidup

Nah jika ada anak-anak yang sedang mengalami distraksi orientasi hidup, orang-orang dewasa di sekitarnya dapat membantu. Agar supaya mereka dapat memilah dan memilih apa yang baik.

Contoh paling konkrit misalnya jika anak mengalami galau, lalu menunjukkan pola prilaku menyimpang, maka teman sebaya atau pendidik di sekitarnya dapat membantu mengingatkan dengan cara yang sesuai.

Guru BK di lingkungan sekolah perlu mempunyai kepekaan transformatif. Jika ada murid yang mengalami kesulitan atau gangguan psikologis, dapat membantu, dan menawarkan konseling. Dipraktikkan dengan cara (mau) mendengarkan keluh kesah dan kemudian memberikan solusi yang mudah dilakukan olah murid.

Ilustrasi: Sujarwati bersama guru-guru SD Kanisius Mlese, Klaten. (Tuty Yahya)

Tugas guru BK dalam berbagai literasi, yaitu membantu murid:

  • mengembangkan kemampuan belajar dalam mengikuti pendidikan dan belajar secara mandiri;
  • mencurahkan segala keluh kesah;
  • menangani atau memecahkan masalah-masalah pribadi;
  • membuat pilihan dan keputusan karier secara tepat
  • menjadi sahabat;
  • menangani permasalahan sosial atau masalah yang muncul karena adanya relasi dengan orang lain.
Ilustrasi: Giat Penghijauan Malaka ini digerakkan oleh motivasi luhur yakni membumikan semangat “Laudato Si”. Caranya dengan mengajak berbagai kalangan untuk mencintai dan merawat bumi. (Kelompok Millenials Pecinta Malaka)

Pemantik emosi positif dan motivasi maju

Tugas guru BK tersebut ibarat detonator positif, yaitu sebagai pemicu awal yang menimbulkan inisiasi dalam bentuk letupan perubahan pada diri peserta didik.

Guru BK mempunyai tugas istimewa, yaitu memberikan layanan bimbingan dan konseling yang pada hakikatnya merupakan pembinaan individu atau kelompok. Itu semua dilakukan agar para murid dapat menjadi pribadi mandiri.

Sebagai catatan akhir, guru BK mempunyai peran penting dalam konstelasi Pendidikan. Mereka diharapkan dapat membantu para murid mengatasi aneka persoalan psikologis yang dihadapi.

Aneka persoalan pribadi akan lebih mudah diatasi jika adanya keterbukaan dari murid dalam melakukan konseling. 

Guru BK membantu murid-murid itu untuk memahami siapa dirinya, siapa lingkungannya, teman-temannya, guru-guru mereka, orangtua, bahkan masyarakat di mana mereka berada.

Mereka juga mempunyai ruang terbuka untuk memberikan saran, imbauan, atau tuntunan agar para murid dapat mengembangkan bakat mereka guna mencapai tujuan, dan cita-cita hidup mulia.

Baca juga: Guru Lemot Mengajar, Jangan-jangan tak Punya Spiritual Solidaritas dalam Pendidikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here