Seminari St. Laurensius Ketapang: Kunjungan Keluarga di Stasi Tanjung Beringin, Paroki Sepotong

0
215 views
Penyambutan Keluarga Fr. Lipo saat kami kunjungi mereka di Stasi Tanjung Beringin, Paroki Sepotong. (Dok. Seminari Santo Laurensius Ketapang)

TRADISI kunjungan keluarga merupakan agenda rutin yang awalnya dilaksanakan oleh Seminari Menengah Santo Laurensius Ketapang. Beberapa waktu yang lalu, khususnya tingkat satu, dua dan tiga bahkan Kelas Persiapan Atas (KPA) telah melaksanakan kunjungan keluarga baik di regio utara maupun regio selatan Keuskupan Ketapang.

Tradisi baik

Pada perkembangan selanjutnya, Frater Tahun Orientasi Rohani (TOR) Santo Laurensius Ketapang juga melanjutkan tradisi yang sangat baik ini.

Selain sebagai sarana memupuk rasa persaudaraan di antara para seminaris dan frater, tradisi kunjungan keluarga ini juga bertujuan untuk semakin mengenal keluarga sebagai cikal-bakal formasi awal calon imam.

Berdasarkan pengalamanan, sambutan keluarga seperti ini membuat keluarga dan umat semakin terbuka dan mengetahui bagaimana proses menjadi imam.

Karena selama ini, mereka menganggap anak laki-laki Dayak jarang sekali yang menjadi imam. Selain itu, umat juga semakin berani untuk membantu seminari dalam memberikan sumbangan. Entah itu sembako, makanan, beras atau pun doa.

Berat melepas anak lelaki

Di Kalimantan terutama kalangan orang suku Dayak, masih menganggap bahwa seorang anak laki-laki seharusnya meneruskan keturunan keluarganya. Orangtua kebanyakan merasa takut jika anak laki-lakinya menjadi seorang imam, maka masa depan mereka akan ditelantarkan.

Apalagi jika di dalam keluarga itu, si anak lelaki ini merupakan anak satu-satunya dan saudara lainnya semuanya adalah perempuan. Anak laki-laki ini akan sangat berat untuk dilepaskan oleh orangtua mereka.

Berjumpa dengan penduduk sekitar di Stasi Tanjung Beringin, Paroki Sepotong, Ketapang. (Dok. Seminari Ketapang)
Prosesi memasak ala tradisional di Tanjung Beringin, Sepotong, Ketapang. (Dok. Seminari Ketapang)

Menjadi seorang imam merupakan rahmat bagi keluarga. Sebagaimana Kristus hadir di tengah-tengah keluarga Kudus Nazareth, Kristus menjadi berkat bagi keluarganya. Ia adalah buah hati dari Santa Maria dan Santo Yoseph yang adalah Sang Almasih.

Bunda Maria sebagai ibu, merelakan anak lelakinya itu untuk menjalankan kehendak Tuhan. Dan bahkan Bunda Maria sendiri bersama suaminya, Santo Yoseph menjadi gambaran nyata penyerahan total kepada kehendak sang ilahi.

Pola pikir keluarga kudus Nazareth ini dapat menjadi refleksi bagi orang tua untuk melepaskan anaknya menjadi imam sebagai ketaatan pada kehendak ilahi.

Membuka wawasan

Dengan tradisi kunjungan keluarga ini, Seminari Menengah dan TOR Santo Laurensius Ketapang berharap dapat sedikit demi sedikit membuka wawasan setiap umat untuk mampu mendukung panggilan yang dimulai dari keluarga.

Keluarga adalah cikal bakal atau formasi awal munculnya seorang imam. Andaikata pola pikir keluarga sudah mulai terbuka pada perencanaan ilahi, tidak akan pernah terjadi kekurangan imam di Keuskupan Ketapang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here