Artikel Kesehatan: Hari TB 2019

0
69 views
Hari TB Dunia 2019.

SETIAP tanggal 24 Maret didedikasikan sebagai Hari Tuberkulosis (TB) Dunia (World TB Day) pada untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak TB yang menghancurkan pada bidang kesehatan, sosial dan ekonomi.

Dr. Robert Koch mengumumkan penemuan bakteri penyebab TB, pada 24 Maret 1882 yang membuka jalan menuju diagnosa dan penyembuhan penyakit ini. Pada saat Dr. Koch mengumumkan penemuannya di Berlin, Jerman waktu itu TB mewabah di seluruh Eropa dan Amerika, bahkan menyebabkan kematian 1 dari setiap 7 orang penderitanya.

Apa yang terjadi?

Sampai sekarang TB tetap menjadi penyakit infeksi yang paling mematikan di dunia. Setiap hari, hampir 4.500 orang meninggal karena TB dan hampir 30.000 orang jatuh sakit TB, yang sebenarnya merupakan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan.

Namun demikian, upaya global untuk memerangi TB sebenarnya telah menyelamatkan sekitar 54 juta jiwa sejak tahun 2000 dan mengurangi angka kematian TB sebesar 42%.

Tema Hari TB Sedunia 2019: ‘Saatnya’ (It’s Time), yang menunjukkan komitmen global untuk 5 hal penting.

  • Pertama, meningkatkan akses kepada pencegahan dan perawatan.
  • Kedua membangun akuntabilitas.
  • Ketiga memastikan pembiayaan yang memadai dan berkelanjutan termasuk untuk penelitian.
  • Keempat mempromosikan diakhirinya stigma dan diskriminasi.
  • Kelima mempromosikan tanggapan TB yang adil, berbasis hak dan berpusat pada orang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meluncurkan inisiatif bersama ‘Temukan TB dan obati semua sampai tuntas’ (Find. Treat. All. #EndTB), dengan pendanaan dari Global Fund dan Stop TB Partnership.

Gerakan ini bertujuan untuk mempercepat penghapusan TB dan memastikan akses ke perawatan, sejalan dengan dorongan WHO secara keseluruhan menuju Universal Health Coverage (UHC). Saatnya untuk bertindak. Sudah waktunya untuk Mengakhiri TB.

TB adalah salah satu dari 10 penyebab kematian terbesar di dunia dan juga di Indonesia pada tahun 2017. Penyakit ini juga pembunuh utama orang dengan HIV dan penyebab utama kematian pasien terkait dengan resistensi obat antimikroba.

Pada tahun 2017, diperkirakan ada 10 juta penderita baru (insiden) TB di seluruh dunia, di mana 5,8 juta adalah laki-laki, 3,2 juta adalah perempuan dan 1 juta adalah anak-anak. Orang yang hidup dengan HIV menyumbang 9% dari total penderita TB. Delapan negara menyumbang 66% dari kasus baru, yaitu India, Cina, Indonesia, Filipina, Pakistan, Nigeria, Bangladesh, dan Afrika Selatan.

Pada 2017, 1,6 juta orang meninggal karena TB, termasuk 0,3 juta di antara orang dengan HIV. Namun demikian, secara global angka kematian TB turun 42% antara tahun 2000 dan 2017.

Tingkat keparahan epidemi nasional sangat bervariasi antar negara, ada yang kurang dari 10 kasus baru per 100.000 penduduk di sebagian besar negara berpenghasilan tinggi, tetapi ada 150‒400 di sebagian besar dari 30 negara dengan beban TB yang tinggi, dan di atas 500 di beberapa negara termasuk Mozambik, Filipina, dan Afrika Selatan.

Pada tahun yang sama, terjadi 6,4 juta kasus TB baru dengan 3,6 juta kesenjangan antara insiden dan kasus yang dilaporkan, yang berarti lebih dari separo kasus TB tidak terdata. Sepuluh negara menyumbang 80% dari kesenjangan ini, dengan tiga teratas di antaranya adalah India, Indonesia, dan Nigeria, terhitung hampir setengah (46%).

Pengobatan TB menyelamatkan 54 juta jiwa di seluruh dunia pada rentang tahun 2000 dan 2017. Secara global, tingkat keberhasilan pengobatan bagi pasien yang baru didiagnosis TB adalah 82% pada tahun 2016.

Tantangan yang ada pada tahun 2017, terdapat 558.000 orang menderita TB resisten atau kebal terhadap rifampisin (RR-TB), yaitu obat lini pertama untuk mengatasi TB yang paling efektif, dan dari jumlah ini, 82% akhirnya menjadi TB kebal beberapa obat atau multi-resistan (MDR-TB). Sekitar 160.000 kasus MDR / RR-TB terdeteksi dan dilaporkan pada tahun 2017.

Dari jumlah tersebut, total 140.000 orang tersebut kemudian mendapatkan pengobatan dengan rejimen lini kedua. Tingkat keberhasilan pengobatan dengan obat lini kedua hanya 55% dan tetap rendah secara global. Bahkan di antara kasus TB-MDR pada tahun 2017, sekitar 8,5% adalah TB yang resisten terhadap obat secara luas (TB-XDR).

WHO merekomendasikan perawatan pencegahan TB untuk orang yang hidup dengan HIV dan semua kontak yang tinggal di rumah tangga dengan penderita TB. Sebanyak 960.000 orang yang baru menjalani perawatan HIV, disertai dengan pengobatan pencegahan TB di Indonesia pada tahun 2017 atau 36% dari orang dalam perawatan HIV.

Selain itu, jumlah anak balita yang mendapatkan terapi pencegahan TB mencapai 280.000 anak pada 2017, atau mengalami peningkatan tiga kali lipat dari tahun 2015, tetapi masih hanya sekitar satu dari lima anak saja, dari 1,3 juta anak yang diperkirakan memenuhi syarat untuk mendapatkannya.

Tes diagnostik cepat untuk deteksi resistensi TB dan rifampisin saat ini telah tersedia, yaitu pemeriksaan Xpert MTB / RIF®. Dari 48 negara dengan beban TB tinggi, 32 telah menggunakan algoritma nasional yang menerapkan Xpert MTB / RIF® sebagai tes diagnostik awal untuk semua orang yang diduga menderita TB paru.

Pada akhir 2017, 68 negara melaporkan telah mulai menggunakan bedaquiline, dan 42 negara telah menggunakan delamanid, keduanya adalah obat untuk mengatasi MDR-TB.

Sejumlah kecil teknologi muncul pada 2017-2018 dan beberapa belum menunjukkan kinerja yang memadai dalam penelitian awal. Tes diagnostik TB cepat, akurat dan kuat yang tunggal, ternyata masih belum cocok untuk digunakan secara global.

Selain itu, dua belas kandidat vaksin anti TB sedang dalam uji klinis, empat buah di Fase I, enam buah di Fase II dan dua buah di Fase III. Semuanya termasuk kandidat vaksin untuk mencegah perkembangan infeksi dan penyakit TB, dan kandidat untuk membantu meningkatkan hasil pengobatan untuk penyakit TB.

Selain itu, ada 20 obat, beberapa rejimen pengobatan, dan 12 kandidat vaksin dalam uji klinis. Pendanaan untuk penelitian dan pengembangan TB telah meningkat dan mencapai puncaknya US $ 724 juta pada tahun 2008 sampai 2016. Namun demikian, dana ini hanya 36% dari perkiraan keperluan dana yang mencapai US $ 2 miliar per tahun.

Momentum Hari TB Sedunia 24 Maret 2019 mengingatkan agar kita berada di jalur yang benar, untuk mencapai target TB global dalam SDG 2016-2030. Kini ‘Saatnya’ (It’s Time) dengan cara ‘Bersatu membasmi TB’ (Unite to End TB).

Sudahkah Anda terlibat membantu?

Artikel Kesehatan: Kelainan Bawaan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here