Artikel Politik: “Shichinin no Samurai”

0
76 views
Seven Samurai 2 by Alamy

AKIRA Kurosawa (1910-1998), sutradara film kondang dari Jepang. Dia adalah sutradara pertama Jepang yang memperoleh sambutan sekaligus pengakuan internasional. 

Menyebut nama Akira Kurosawa segera ingat kisah akan samurai. Sebab, salah satu film Kurosawa adalah Seven Samurai (1954) yang dalam bahasa Jepang adalah Shichinin no Samurai.

Kisah tentang para samurai (Arts of The Samurai, Asian Art Museum Education Department, 2009), bisa ditelusuri hingga  ke abad kedelapan dan sembilan. Pada masa itu, kepemilikan tanah—tentu yang luas—berpindah ke tangan para keluarga kekaisaran dan anggota aristokrasi atau kaum bangsawan.

Pada periode Heian—mengacu pada nama tempat ibu kota dari Nara pindah ke Heian-kyō atau Kyoto–(794–1185), istana dan bangsawan yang tinggal  di Kyoto menggantungkan hidup mereka pada sektor pertanian dan kepemilikan tanah, terutama yang dijadikan sebagai perkebunan.

Kebutuhan untuk mempertahankan perkebunan melahirkan orang-orang yang mahir olah senjata dan memiliki keberanian. Inilah yang melahirkan samurai yang secara literer artinya “orang yang melayani.”

Melayani para bangsawan pemilik tanah. Mereka, para samurai, kemudian membangun kekuatan baik lokal maupun regional dengan menciptakan milisi yang disebut sebagai “kelompok prajurit.”

Kallie Szczepanski (2019) menjelaskan, samurai adalah kelas prajurit berkemampuan tinggi yang muncul di Jepang setelah reformasi Taika tahun 646. Reformasi Taika (Taika No Kaishin) atau Reformasi Besar Era Taika, adalah serangkaian reformasi politik setelah kudeta tahun 645 yang  dipimpin oleh Pangeran Nakano Ōe (kemudian kaisar Tenji) dan Nakatomi Kamatari melawan Klan Soga.

Reformasi ini memperluas dominasi langsung keluarga kaisar di seluruh Jepang. Di zaman ini terjadi penghapusan kepemilikan tanah secara pribadi; tanah dinyatakan sebagai milik publik (kaisar).

Kebijakan itu mamaksa banyak petani kecil menjual tanah mereka dan bekerja sebagai petani penyewa.

Samurai adalah istilah untuk perwira militer kelas elite sebelum zaman industrialisasi di Jepang.

Kata samurai, menurut  S. Turnbull (1996) dalam The Samurai: A military History berasal dari kata kerja samorau asal bahasa Jepang kuno, yang berarti “melayani” tetapi secara bebas diterjemahkan menjadi “mereka yang melayani.

Kata subarau memiliki akar dari bahasa China, dan memiliki arti “berjaga sambil menunggu” atau “menemami bangsawan atau kalangan atas”.

Namun, kata itu kemudian menjadi saburai. Dari sinilah, kemudian muncul kata samurai; yang di Eropa pada abad pertengahan disebut knight juga lazim disebut sebagai cavalier atau rider.

Dalam perkembangannya, samurai ini menjadi kelas sosial tersendiri dan mengembangkan kode etiknya sendiri pula. Kode etik itu dibangun berdasarkan gagasan tentang apa artinya berperilaku seperti pejuang yang ideal.

Awalnya bernama Kyuba no Michi (Jalan Kuda dan Busur), ia berkembang menjadi Bushido (Jalan Pejuang) yang terkenal.

Etika Bushido ini memberikan standar bahwa semua samurai diharapkan untuk mencoba untuk hidup sesuai ketentuan. Samurai diharapkan untuk setia penuh kepada tuan mereka dan bersedia mati untuknya; bahkan siap untuk melayaninya di kehidupan selanjutnya, kehidupan setelah kematian.

Para samurai menghargai nilai-nilai luhur seperti kejujuran, keberanian, rasa hormat, pengorbanan diri, pengendalian diri, kepatuhan terhadap tugas, dan kesetiaan (Seorang ksatria menjaga nilai-nilai keimanan, kesetiaan, keberanian, dan kehormatan.

Ksatria bertempur untuk “melindungi” yang lemah, dan yang tidak berdaya, mereka termasuk pelayan seorang raja yang paling setia, karena tugas utama mereka adalah menjaga dan melindungi seorang raja juga rakyatnya). Para samurai memegang teguh prinsip bun dan bu, atau budaya dan bela diri.

Tentang hal itu—bun dan bu—seorang sarjana abad pertengahan menulis demikian: Budaya dan senjata ibarat dua sayap burung. Tidak mungkin seekor burung dapat terbang dengan satu sayap yang hilang.

Hal itu sama, jika Anda memiliki budaya tetapi tanpa senjata, orang akan melukai Anda tanpa rasa takut, sementara jika Anda memiliki senjata tetapi tidak memiliki budaya, orang akan terasing oleh ketakutan.

Karena itu, ketika Anda belajar mempraktikkan budaya dan senjata, Anda menunjukkan intimidasi dan kemurahan hati, sehingga orang-orangnya ramah tetapi juga diintimidasi, dan mereka akan taat.

Film “Seven Samurai” karya Akira Kurosawa.

Akira  Kurosawa lewat filmnya Shichinin no Samurai (Tujuh Samurai), berusaha menghidupkan kembali etika dan budaya samurai di masa lalu. Ia berkisah tentang kehidupan masyarakat dan samurai pada abad keenam belas.

Kisah epik Akira Kurosawa ini mengisahkan kehormatan dan tugas di Jepang zaman dulu yang rusak karena hancurnya tatatanan tradisional, adat istiadat dan budaya.

Cerita dimulai dengan master samurai Kambei menyamar sebagai seorang biksu untuk menyelamatkan anak petani yang diculik.

Sekelompok petani sangat terkesan pada pengorbanan, kepedulian, keberanian dan ketidakegoisan Kambei. Karena itu, mereka bersepakat  meminta Kambei mempertahankan desa mereka yang diteror para penjahat, preman.

Kambei setuju, meskipun tidak mendapatkan keuntungan materi atau kehormatan yang bisa didapat dalam upaya ini.

Segera Kambei merekrut enam samurai lainnya. Bersama-sama, mereka mengatur dan memperkuat pertahanan desa, termasuk membangun benteng, dan mengajari penduduk untuk menggunakan senjata, menjadi milisi.

Ketika para penjahat akhirnya datang menyerang, para penduduk desa bersama para samurai menghadapinya dengan penuh kegigihan. Pecahlah pertempuran seru.

Sebagian besar penjahat penyerang terbunuh; empat samurai tewas juga. Ketiga samurai yang masih hidup lega bisa menyaksikan penduduk desa dapat kembali menanam di sawah mereka lagi.  

Meskipun mereka telah memenangkan pertempuran, mereka telah kehilangan teman-teman.

“Pemenangnya adalah para petani itu. Bukan kita,” kata Kembei.

Kisah Tujuh Samurai karya Akira Kurosawa seakan diputar ulang di negeri ini ketika presiden mengangkat “tujuh anak muda milenial” menjadi penasihat khusus.

Apakah pengangkatan “tujuh anak muda melenial” itu, terinspirasi Shichinin no Samurai  sekurang-kurangnya dari segi jumlah? Atau hanya kebetulan jumlahnya sama: Tujuh?

Mengapa tujuh? Orang bisa mengatakan, “apa arti sebuah angka” sama dengan “apa arti sebuah nama.”

Meskipun demikian, angka tujuh sering dianggap sebagai simbol “sesuatu yang lengkap” atau “keseluruhan” atau totalitas.” Bahkan dalam agama pun, angka tujuh juga memiliki makna. Bukankah hari berjumlah tujuh?

Apa pun maknanya, “ketujuh samurai milenial” itu diharapkan akan membawa semangat bushido baru (khas Indonesia)  di zaman banyak orang tidak lagi memegang teguh nilai-nilai luhur.

Misalnya, kejujuran, keberanian, rasa hormat, pengorbanan diri, pengendalian diri, kepatuhan terhadap tugas, kerja keras, profesional, kesetiaan   (tidak hanya pada pimpinan kelompok tetapi pada bangsa dan negara) dan tidak lagi membela kepentingan bersama melainkan kepentingan kelompok.

Nilai-nilai kaum samurai, nilai-nilai ksatria, mulai pudar. Semua serba transaksional. Bahkan, menang-menangan.

Demikian pula nilai-nilai solidaritas, saling membantu, saling menghormati, dan saling toleran terasa semakin menipis. 

Apalagi nilai-nilai keragaman. Itu pun mulai luntur, ambyar, karena mulai diingkari. Bahkan diingkari atas nama agama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here