Berdoa bagi Arwah, Alternatif Profesi Usai Pensiun?

0
1,785 views

Apa rencana Anda setelah pensiun? Menjadi konsultan bidang yang saat ini masih Anda geluti? Terlibat penuh dalam berbagai kegiatan sosial kemanusiaan? Pulang kampung, menyepi dan mempersiapkan diri “jika saatnya tiba”? Tetap aktif bekerja sampai kesehatan sudah tidak mengizinkan lagi? Mulai membuka bisnis baru?

Tentu masih ada masih banyak pilihan dan kegiatan yang bisa orang lakukan setelah pensiun. Yang penting kegiatan itu tetap memberikan semangat bagi hidupnya, bukan justru menambah masalah di hari tua.

Apakah Anda pernah terpikir untuk menjadi pendoa bagi orang yang telah meninggal sebagai salah satu pilihan “profesi”? Agak sedikit aneh memang. Tapi coba direnungkan lagi ide nyleneh ini.

Maria Simma, yang dikarunia kemampuan berkomunikasi dengan jiwa-jiwa di api pencucian, dalam dua buku yang diterbitkan oleh Marian Centre Indonesia, yakni “Bebaskan kami dari sini” dan “Rahasia arwah-arwah di api pencucian” mengatakan bahwa jiwa-jiwa itu perlu didoakan. Doa bagi jiwa-jiwa tersebut tidak hanya membantu mereka tetapi juga bagi si pendoa itu sendiri.

Siapkan diri

Jika Anda memang serius untuk menekuni “profesi” ini setelah pensiun, harus dipersiapkan mulai sekarang. Jangan berharap bahwa setelah “resmi” pensiun, Anda tiba-tiba bisa menjadi pendoa bagi para arwah keesokan harinya. Mengapa? Jika Anda tidak mempunyai kebiasaan berdoa bagi mereka, jangan harap Anda akan “biasa” setelah pensiun. Tidak ada istikah sim salabim untuk yang satu ini.

Selain membiasakan diri menjadi “pendoa”, tentu hal-hal yang terkait dengan persiapan pensiun harus disiapkan, misalnya dari segi keuangan (agar tetap mandiri saat pensiun) dan kesehatan (agar tidak sakit-sakitan). Saya tidak membantah adanya kenyataan bahwa orang yang “melarat dan sekarat” waktu pensiun tetap punya kemampuan berdoa bagi sesama dan jiwa-jiwa yang sudah meninggal. Namun, jika saat pensiun Anda tetap bisa mandiri dan relatif sehat, tentu lebih banyak hal yang bisa Anda lakukan dan doakan, bukan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here