Eksegese Hidup Orang Pedalaman: Agama Anti Kekerasan, Mt 5:20-26

0
138 views
Ilustrasi: Dua suster PBHK menghadiri HUT ke-73 Muslimat NU yang berlangsung di Gelora Bung Karno, Senayan, Minggu 27 Januari 2019. (Saidiman Ahmad)

FAKTA mengatakan, “Sampai saat ini, suhu politik di negara kita belum stabil”. Bahkan berita pengusutan dan penangkapan sutradara kerusuhan 22 Mei tiap hari muncul di media sosial.

Bila di tingkat global Amerika dan China lebih bertarung dilevel ekonomi dengan tagar “perang dagang”, maka beda pula yang terjadi di negara kita.

Di sini, yang dipertontonkan elite politik adalah perebutan jabatan dan kekuasaan. Demi merebut jabatan dan kekuasaan, orang sampai rela menciptakan konflik berupa kebencian, kerusuhan publik, berita hoax. bahkan rencana pembunuhan.

Dan pilihan perilaku ini, kontras sekali dengan nilai kemanusiaan dan keagamaan

Kalau begitu halnya, apakah elite politik yang merebut jabatan dan kekuasaan melalui cara-cara yang tak bermoral, bisa dikategorikan sebagai orang yang bernon agama? Entahlah.

Hal yang sama pula bila terjadi pada kelompok elite rohani, bila ajaran agamanya dipakai sebagai sarana untuk “berbisnis” dengan elite politik, maka kurang layak dia disebut sebagai ulama.

Dasar argumentasi ini, berpijak dari pernyataan Yesus, “Agama tidak cuma melarang orang membunuh tetapi, motif dan alasan orang untuk membunuh sangat tidak diperbolehkan. Bahkan memarahi, mengatai kafir, jahil dan membenci orang tidak diperbolehkan sama sekali”.

Dari sini, kita bisa paham bahwa hukum cinta-kasih ala Yesus ada di atas segala-segalanya. Dulu Bapa-Nya berkata, “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.” (Im 19:18).

Dan sekarang Anak-Nya lagi berkata hal yang sama, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:37,39).

Umat Kristiani mengenal hukum tersebut dengan Hukum Kasih, yang memiliki kekuatan dalam membawa dunia ini hidup dalam kedamaian dan anti kekerasan.

Rasul Paulus menyuarakan kembali kata-kata tersebut kepada kita, “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” (Rom 12:9-10),

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” (1Kor 13:4).

Renungan: Apakah kata-kata kasih ini bisa melunakkan dan meredamkan konflik diantara manusia?

Apau Kayan, 136.2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here