Ember

0
199 views
Ilustrasi: Mandi. (Ist)

SETIAP kali mandi, dengan menggunakan gayung, saya menyiramkan air ke tubuh. Airnya harus lebih dulu ditampung dalam ember. Setelah beberapa pekan lamanya, maka dinding ember itu berubah warna; dari biru menjadi coklat-keruh.

Ternyata, zat kimia yang terkandung dalam air mengotori dinding itu.

Badan manusia, dalam arti tertentu, berfungsi seperti ember itu. Menampung makanan-minuman yang disantap lewat mulut. Tidak persis sih.

Pengalaman menunjukkan bahwa banyak penyakit badaniah disebabkan oleh makanan-minuman tidak sehat atau yang dikonsumsi melampaui kebutuhan badan.

Pendeknya, tubuh tercemar oleh makanan-minuman, lalu sakit.

Bukan hanya ember dan tubuh, pikiran manusia juga menampung pelbagai pendapat yang disimpan dalam memori yang suatu saat bisa diangkat lewat daya ingat.

Pikiran yang terus-menerus dicekoki dengan pandangan yang buruk, salah dan kotor akan membentuk mentalitas yang negatif dan destruktif. Misalnya, perilaku agresif-reaktif yang massif.

Mentalitas itu tidak hanya membahayakan orang lain, tetapi amat membebani pemiliknya. Tidak mengherankan, orang-orang demikian tidak “happy”, dikuasai kecurigaan dan kebencian. Semua ini menyebabkan hidup terasa berat dan tubuh lebih cepat uzur.

Amat berbahaya bagi ketahanan suatu bangsa tatkala sebagian rakyatnya terjangkiti mentalitas itu.

Dinding jiwa generasi mudanya kotor seperti ember, hatinya diracuni lewat indoktrinasi, pikirannya penat karena ajaran sesat dan niat jahat. Wajahnya lebih cepat menua karena hatinya penuh prasangka; tidak terbuka.

Seperti apakah masa depan kita? Lihatlah wajah rakyat: apakah tenang-tenteram-damai atau tegang-penuh dendam-suka bertikai?

Santo Hieronimus menulis: “The face is the mirror of the mind, and eyes without speaking confess the secret.”

Wajah itu cermin dari pikiran dan mata mengungkapkan rahasia tanpa mengatakan apa-apa. Ini berlaku juga untuk wajah suatu bangsa.

Malang, 20 Januari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here