Gereja Katedral Sanggau: 14 Simbol Liturgis dengan Sentuhan Inkulturatif (4A)

0
201 views
Gereja Hati Kudus Yesus - Paroki Katedral Sanggau, Kalbar. (Komsos KAP/Samuel Bjp)

TIDAK sedikit mata yang telah dimanjakan oleh penampakan Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Keuskupan Sanggau yang elok dan megah. Itu belumlah cukup, karena penampakan indah itu  ditambahi dengan liuk-liuk tekstur bangunan yang sarat akan makna liturgis.

Inilah gereja inkulturatif di mana terkandung berpaduan antara seni, budaya dan nilai gerejani.

Lantas, bangunan yang megah sepeti ini apa artinya jika hanya sekedar indah saja? Tentu dibalik itu ada makna yang mendalam.

Berdasarkan buku Karya Agung Allah di Tengah Umat-Nya. Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Sanggau oleh P. Severyanus Ferry Pr, imam diosesan Keuskupan Sanggau, maka didapatlah beberapa keterangan di bawah ini

Aneka simbol melekat pada setiap sudut dan ruangan Gereja Katedral Sanggau yang baru.

Patung Hati Kudus Yesus

Patung Hati Kudus Yesus menjadi ikon utama Gereja Katedral Sanggau. Gereja yang mengambil nama pelindung Hati Kudus Yesus ini menempatkan patung Hati Kudus Yesus di  benteng terdepan bangunan Gereja Katedral Sanggau. Hal ini melambangkan Kristus adalah yang pertama dan utama dalam kehidupan umat beriman.

Perayaan Hati Kudus Yesus sendiri selalu jatuh pada hari Jumat, Minggu II sesudah Pentakosta (19 hari setelah Pentakosta). Melalui perayaan ini, kita diajak untuk menghormati serta mensyukuri cinta dan belas kasih Allah yang tek terbatas.

Hati Kudus adalah Kristus sendiri, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia (DKUL.166). Karena hati-Nya yang “lemah lembut dan rendah hati” (Mat 11:29), Ia datang ke dunia untuk melakukan karya keselamatan dan pengudusan bagi umat manusia.

Patung Yesus dengan Hati Kudus-nya di halaman depan Gereja Katedral Sanggau, Kalbar. (Samuel Bjp)

Patung tembaga setinggi 5 meter ini menampilkan Tuhan Yesus yang sedang membuka hati kerahiman-Nya bagi dunia. Melalui patung ini, kita berharap rahmat Kerahiman Ilahi selalu terbuka bagi kita, sehingga berkat dan perlindungan Tuhan selalu dirasakan oleh seluruh umat manusia.

Warna hijau muda

Gereja Katedral Sanggau mengambil warna hijau muda sebagai warna pelapis dinding bagian luar. Hijau muda adalah warna alam, warna  lingkungan hidup sekaligus warna pucuk daun.

Warna hijau muda melambangkan kesegaran, kesuburan dan harmoni kehidupan (go green). Warna ini sengaja diambil,  karena unik dan belum pernah digunakan untuk mewarnai bangunan gereja pada umumnya.

Dalam liturgi, kita mengenal warna hijau sebagai lambang syukur, yang dapat membangkitkan kebahagiaan serta kegembiraan.

Warna hijau digunakan dua periode Masa Biasa yaitu Masa Biasa pertama dimulai setelah Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani) hingga hari Selasa sebelum Rabu Abu. Lalu dipakai pada Masa Biasa kedua yang dimulai setelah Pentakosta sampai hari Sabtu sebelum Minggu pertama Masa Adven (PUMR. 346c).

Warna hijau mendominasi dinding luar bangunan gereja.

Selama Masa Biasa, bacaan Injil mengajak kita untuk merenungkan mukjizat-mukjizat dan ajaran-ajaran Tuhan Yesus Kristus selama tiga  tahun karya-Nya.

Warna hijau melambangkan kehidupan dan harapan baru, yang tumbuh dan berkembang pada diri kita, setelah kita dicurahi Roh Kudus pada Hari Raya Pentakosta. Maka, kita semua diajak untuk mengikuti teladan Yesus dalam karya-karya-Nya di tengah dunia.

Dalam masyarakat Indonesia yang multikultural, sering terjadi perdebatan mengenai monopoli warna tertentu. Misalnya, warna hijau yang banyak digunakan pada bangunan ibadat kelompok agama lain, namun bukan gereja.

Namun tentu warna tersebut tidak dapat dimonopoli. Ada bangunan-bangunan lain yang juga mengambil warna hijau sebagai warna dasarnya, misalnya; bangunan milik TNI.

Oleh karena itu, warna hijau Gereja Katedral Sanggau mau melambangkan sikap toleransi, harmoni dalam kehidupan sekaligus sarana pewartaan di tengah keberagaman.

Tiga lonceng gereja

Gereja Katedral Sanggau memiliki tiga lonceng dengan ukuran yang berbeda. Pada tanggal 27 Juni 2014, bertepatan dengan Hari Raya Hati Kudus Yesus, (sesuai dengan nama  pelindung Gereja Katedral), ketiga lonceng ini mulai dibuat oleh Marinelli,  sebuah yayasan pembuat lonceng kepausan di Italia.

Setelah selesai dibuat, pada tanggal 1 Oktober 2014, ketiga lonceng tersebut dibawa ke Vatikan untuk diberkati oleh Bapa Suci Paus Fransiskus. Pada kesempatan yang sama, Sri Paus juga mendoakan umat di Keuskupan Sanggau, agar selalu didampingi Tuhan dalam usaha untuk membangun Gereja Katedral Sanggau yang baru.

Ketiga lonceng ini kemudian dikemas dan dikirim ke Indonesia.

Lonceng terbesar memiliki berat 220 kilogram dan memiliki nada dasar do. Di lonceng ini terdapat gambar Hati Kudus Yesus dengan tulisan di bawahnya dan tertulis: “Mewartakan kemuliaan Tuhan dan kehadiran umat-Nya.”

Bapa Suci Paus Fransiskus memberkati tiga lonceng Gereja Katedral Sanggau yang dipesan oleh Mgr. Giulio Mencuccini CP di Italia dan kemudian dibawa ke Vatikan untuk diberkati Paus.

Di bagian tengah lonceng ini terdapat logo Paus Fransiskus dan logo Keuskupan Sanggau. Di sampingi kanan terdapat logo Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Sekadau. Sedangkan di bagian  kiri terdapat logo Provinsi Kalimantan Barat.

Lonceng medium memiliki berat 115 kilogram dan bernada dasar ini mi. Pada bagian tengah lonceng, kita dapat menemukan gambar Bunda Maria dan Gereja Katedral Sanggau. Di bagian bawah terdapat tulisan: “Nosu mpau Akek Penompa minte baek bagas. Tutuh nyak tiop, akal nyak midop.” Selain itu, terdapat juga gambar lampion, tempayan, burung Enggang, perisai dan mandau.

Lonceng terkecil memiliki berat 75 kilogram dengan nada dasar sol. Terdapat gambar St. Gabriel dari Bunda Berdukacita.

Pada bagian kanan terdapat gambar burung garuda dan pada bagian kiri terdapat tulisan: A perpetua memoria dell’azione evangellizzatrice e sociale Dei Missionari Passionisti nella Diocesi di Sanggau Indonesia yang berarti “Kenangan kekal akan karya evangelisasi dan sosial misionaris Pasionis di Keuskupan Sanggau, Indonesia.”

Ketiga lonceng Gereja Katedral Sanggau kini ditempatkan di benteng sebelah kiri, dipayungi kanopi agar terlindung dari panas dan hujan. Lonceng yang memadukan berbagai unsur budaya dan pemerintahan di Kalimantan Barat ini menjadi tanda persatuan dalam naungan Tuhan.

Dengan digerakan oleh mesin elektrik, suara merdunya memanggil semua kaum beriman untuk bersama-sama memuji dan memuliakan Tuhan.  (Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here