Graduation Day Seminari Menengah Palembang: Nyalanya Harus Tetap Kujaga

0
117 views
Sukacita seminaris karena lulus pendidikan Seminari Menengah.

SUASANA Aula Semangat Seminari Menengah St. Paulus Palembang, sore 19 Mei 2019 agak berbeda. Sejumlah seminaris menampilkan atraksi jaranan dan ditonton oleh ratusan undangan yang hadir.

Selanjutnya, giliran penampilan tim THS yang unjuk kebolehan di tempat yang sama. Dua rangkaian acara tersebut mengawali acara perpisahan bagi seminaris kelas Rhetorica Tahun Akademik 2018/2019.

Ignasius Fridho mengisahkan secuil kisah selama menjalani pendidikan di seminari. Bersama 13 teman lainnya di kelas Rhetorica A, Fridho masuk seminari setelah tamat SMP.

Awalnya, mereka berjumlah 40 orang. Namun, dalam proses formatio selama 4 tahun, tersisa 14 orang. Di kelas lain, Rhetorica B (masuk setelah tamat SMA), awalnya 13 orang. Namun kini tersisa 10 orang.

Seleksi yang terjadi di seminari adalah bagian dari proses membimbing yang bertujuan untuk memilih pribadi yang berkualitas. Yang bertahan hingga di penghujung kelas Rhetorica ini sudah mencoba dengan segala daya dalam penyerahan diri untuk mewujudkan cita-cita, yaitu menjadi imam.

Sesuai tema perpisahan, Fridho dan kawan-kawan tetap ingin berjuang menjadi terang dan pelayan dalam Gereja.

Menjadi pribadi pemberani

“Gereja akan selesai jika tidak ada orang-orang yang ingin menjadi imam.”

Hal ini diungkapkan oleh Eventinus Liko, orangtua Charles (Rhetorica A) dalam sambutan mewakili orangtua para seminaris yang lulus ini. Ia menjelaskan, kehadiran Perayaan Ekaristi dalam Gereja hanya bisa terjadi karena ada imam.

Menanggapi banyaknya yang tidak lolos seleksi hingga tahun terakhir di seminari, Liko melihat bahwa tantangan terbesar dalam menjawab panggilan Tuhan sebenarnya ada dalam diri sendiri.

Perlu keberanian dalam  proses pendidikan, yaitu keberanian untuk dibentuk. Maka, proses menjadi imam berarti menjadi pribadi pemberani, yang mampu melihat tantangan dan akhirnya mengukur kemampuan diri sendiri.

Jika mampu, silahkan maju; jika ragu atau bahkan tidak mampu, lebih baik mundur.

Mendukung pelayanan Gereja Lokal

Para seminaris yang lulus pada tahun ini telah menunjukkan banyak perkembangan selama proses formatio. Rhetorica angkatan lulus 2018/2019 ini terdiri dari pribadi-pribadi yang kaya akan potensi dan bakat, baik secara akademis maupun kreativitas yang ada di dalam dirinya.

Inilah penilaian umum yang diutarakan Romo Petrus Sugiarto SCJ sebagai Rektor Seminari. Namun, romo rektor menambahkan, modal dan potensi saja tidak cukup dalam merintis jalan menjadi imam.

Hiburan gaya seminaris.

Mental juara sangat diperlukan. Menjadi juara artinya menjadi pribadi yang tahan uji, tahan banting dalam berbagai peristiwa kehidupan.

Romo yang punya hobi memilihara ayam ini menegaskan kembali visi misi seminari kepada para hadirin. Intinya, Seminari Menengah St. Paulus Palembang mendukung perkembangan dan pelayanan Gereja Lokal, khususnya Sumatera Selatan.

Untuk itu, para seminaris yang menjalani pendidikan di tempat ini sejak awal diminta komitmennya yang sejalan dengan visi misi tersebut, yaitu dengan memfokuskan arah pilihan hidup selanjutnya pada Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Tanjung Karang, dan Kongregasi SCJ.

Secara khusus pihak seminari berterima kasih kepada para orang tua yang bersedia menyerahkan anak-anaknya untuk menjalani pendidikan di seminari ini. Melihat catatan yang ada, ternyata lulusan seminari yang tidak menjadi imam pun sejauh ini banyak yang sudah memberi kontribusi bagi Gereja dan masyarakat.

Aneka sambutan.

Mewartakan Tuhan yang dekat

Mgr. Aloysius Sudarso SCJ mengawali sambutannya dengan mengingatkan bahwa dulu orang-orang di kampung yang belum memiliki alat penunjuk waktu (jam) umumnya menjadikan kokok ayam sebagai pertanda bahwa fajar mulai muncul. Cahaya matahari, walau intensitasnya kecil, menyentuh ayam tersebut sehingga berkokok.

Analogi ini hendak mengajak seminaris punya kepekaan dan dekat dengan Tuhan agar dapat konsisten dalam menjawab panggilan menjadi imam. Dari sekian banyak potensi dan bakat yang dimiliki, seminaris tetap harus mengutamakan kedekatannya dengan Tuhan. Tuhan yang dekat itulah inti/bahan kesaksian dan pewartaan utama bagi umat saat ini.

Di penghujung acara, seluruh siswa rhetorica memberikan persembahan musikalisasi puisi. Di dalamnya mereka menyerukan tekad, “Nyalanya harus tetap kujaga” sebagai bentuk komitmen untuk setia dalam menjalani panggilan yang telah dirintis selama ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here