Habis

0
69 views
Ilustrasi (Ist)

PERTEMPURAN antara yang jahat melawan yang baik tiada habisnya. Rupanya, itulah arus dasar di bawah sadar.

Banyak cerita tradisional dan kisah dalam agama yang mengamininya. Bukankah dua cerita besar pewayangan mengerucut pada Ramayana dan Mahabarata yang intinya mengisahkan pertarungan antara yang baik melawan yang buruk, yang benar berhadapan dengan yang salah, yang mulia menentang yang jahat.

Di medan laga kelompok baik-benar-mulia kadang tergoda untuk mengalah. Apalagi tatkala merasa bahwa tenaganya hampir habis karena langkahnya tidak strategis. Pada saat itu pihak yang jahat bagai tak terkalahkan; makin hebat dan kuat.

Nabi Yeremia menghadapi orang-orang jahat yang sebenarnya hendak diselamatkannya. Alih-alih berterima kasih. Mereka malah membalas dengan rencana membunuhnya.

Demikian pun Sang Guru Kehidupan. Dia menghadapi imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang akan menangkap, menganiaya dan membunuh-Nya. Padahal, misi-Nya adalah menyelamatkan mereka.

Menarik bahwa para murid-Nya pun tidak paham bahwa Dia harus berjuang sampai titik darah penghabisan agar semua orang diselamatkan. Para murid malah berebut kedudukan ketika gurunya hendak mendekati saat kematian. Bagi mereka itu kesempatan merebut posisi sebagai pendamping di tahta-Nya nanti.

Kendati harus menghadapi tantangan internal dan eksternal kelompoknya, Nabi Yeremia dan Sang Juru Selamat harus bertahan dengan penuh semangat. Dayanya tidak habis. Bukan pertama-tama karena cara yang taktis dan strategis, melainkan karena berpegang pada kasih dan pengharapan.

Yang baik dan benar tidak boleh dan tidak akan pernah kalah. Segala godaan untuk menyerah di tengah jalan perlu ditaklukkan. Dengan berpegang pada Tuhan, Sang Sumber Kebenaran, energi mereka tidak pernah akan habis.

Mereka akan berhasil, bukan untuk mengalahkan si jahat yang salah dan buruk. Tetapi mendoakan habis-habisan agar Tuhan mengubah mereka dan mempertobatkan.

Bukan menumpas mereka, melainkan terus berjuang menyelamatkan sampai semua kemungkinan habis. Bukankah cinta sejati tampak dalam mengasihi sampai sehabis-habisnya seperti yang dilakukan Sang Guru Kasih?

Universitas Katolik Widya Karya Malang
20 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here