In Memoriam Romo Hans Wisgickl SJ, Sejenak di Paroki Mangga Besar Jakarta Barat

0
401 views
RIP Romo Hans Wisgickl SJ di Muenchen, Jerman, 30 Desember 2018. (Ist)

KURUN waktu selama 12 bulan di tahun 1984, saya sering menyambangi Gereja St. Petrus & Paulus di Paroki Mangga Besar di Jl. Mangga Besar Raya, Jakarta Barat untuk sebuah program asistensi pastoral.

Di Pastoran Paroki Mangga Besar waktu itu ada dua imam Jesuit asing. Keduanya imam misionaris dari Barat: satunya adalah almarhum Romo Hans Wisgickl SJ dari tlatah Jerman, lainnya adalah Romo Herman Roborgh SJ, Jesuit asal Australia namun punya darah kental dari Negeri Belanda.

Sebenarnya ada satu imam misionaris lain lagi yakni seorang pastor CDD asal Taiwan yang secara khusus melayani umat Katolik berbahasa Mandarin di Kapel Susteran Dwi Warna, juga di kawasan Mangga Besar, Jakarta Barat. Saya tidak ingat lagi namanya, selain bahwa imam ini jago kung fu dan konon katanya sering “terjun bebas” alias ginkang dari lantai dua ke lantai satu tanpa melalui tangga, melainkan “terbang melayang”.

Ngobrol dengan senior

Waktu itu, saya masih berstatus seorang frater SJ muda yang baru saja menyelesaikan pendidikan dasar sebagai Jesuit di Girisonta dan kemudian “terjun ke lapangan” di sebuah paroki metropolitan di Jakarta plus komunitas umat Katolik yang sangat homogen yakni mayoritas Tionghoa.

Tentu saja, sebagai “orang desa” saya dibuat agak keder berhadapan dengan komunitas umat Katolik khas perkotaan  ini.

Belum lagi, kawasan Mangga Besar sejak zaman itu sudah dikenal sebagai kawasan “merah” sehingga keminderan itu pun menjadi berlipat-lipat.

Namun, setiap Sabtu malam usai misa pertama, saya sering berjumpa dengan Romo Hans di lantai dua di ruang rekreasi pastoran.

Saya menemani beliau nonton teve.

RIP Romo Hans Wisgickl SJ di Muenchen, Pernah di Kolese Kanisius, Paroki Theresia, Tj. Priok dan Mangga Besar

Sebagai orang Jerman, dia sangat bangga nonton teve keluaran Jerman: Blaupunkt. Sedangkan, hal semacam ini tidak terlalu menjadi bahan rasa bangga bagi Romo Herman Roborgh SJ yang waktu itu lebih senang bergaul dengan kaum muda.

Meski sama-sama orang “Barat” dan keduanya juga misionaris Jesuit dari belahan Dunia Barat, toh baik Romo Herman Roborgh SJ dan Romo Hans Wisgickl SJ punya gaya berbeda.

Moderator SMP-SMA Kanisius Jakarta

Kesan super serius sungguh terasa dalam diri Romo Hans Wisgickl SJ. Ini bisa dimaklumi, karena sebelum pindah berpastoral di Paroki Mangga Besar, beliau berkarya di Kolese Kanisius Menteng sebagai Moderator untuk SMP-SMA Kanisius yang waktu itu dipegang Romo A. Sewaka SJ, Romo C. Jeuken SJ dan kemudian J. Drost SJ –kini ketiganya sudah meninggal dunia.

Namun ketika bicara sebagai teman Jesuit, “keangkeran” Romo Hans Wisgickl SJ tiba-tiba langsung lumer.

Ia bisa dengan mudah dan lanyah bercakap-cakap dengan anak muda, termasuk saya yang boleh dibilang masih “anak ingusan” di SJ waktu itu.

Seorang kawan bernama Donny K dari Paroki Tanjung Priok ikut memberi “kesaksian” tentang hal ini.

Berkat Romo Hans inilah, kawan saya seangkatan di Seminari Mertoyudan tahun masuk 1978 itu bisa termotivasi ingin masuk seminari. Padahal, waktu itu, bengalnya sebagai anak urban dari Tanjung Priok sungguh tidak tanggung-tanggung.

Meninggal dunia di Muenchen

Pada tanggal 30 Desember 2018 lalu, Romo Hans Wisgickl SJ meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Muenchen, Jerman. Ia meninggal dalam usia 89 tahun.

Setelah berkarya di Indonesia sejak tahun 1964, almarhum Romo Hans Wisgickl SJ memutuskan “pulang kampung” kembali ke Jerman.

Femonena di SJ waktu itu seakan  seiring dengan banyaknya imam SJ misionaris asing dari Negeri Belanda yang juga memutuskan memilih pulang ke kampung halamannya untuk menghabiskan masa tuanya di negeri di mana mereka dulu lahir, besar, dan berasal.

Tidak hanya kenangan mampir di benak saya tentang almarhum Romo Hans Wisgickl SJ selain kisah-kisah pendek hari  Sabtu dan Minggu di Gereja St. Petrus & Paulus Paroki Mangga Besar, Jakarta Barat.

Itu pun hanya ngobrol ringan ditemani makan cemilan kentang goreng tipis-tipis dalam kemasan kaleng mahal di depan Blaunpunkt –televisi berwarna bikinan Jerman yang di tahun 1985 masih sangat langka dimiliki orang Indonesia.

Requiescat in pace et vivat ad aeternam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here