“Jadi Mereka Tidak Mengerti Bahasa Indonesia!” ; Berpastoral di Pedalaman Kokonao, Papua

0
1,931 views

Pengalaman memimpin misa di daerah gunung memang sungguh mengasyikkan. Inilah kali pertama saya memimpin Perayaan Ekaristi di Unito, sebuah stasi yang terjauh dari kokonao, Papua.

Unito adalah satu-satunya stasi yang ada di gunung. Stasi yang lain adalah stasi yang letaknya di dekat pantai atau pinggir sungai, dan mereka adalah suku Kamoro.Untuk sampai ke Unito kita mesti berjalan kurang lebih 4 jam. Kita menyusur laut Arafura ke stasi Ararau.

Dari Ararau ini kita berjalan kaki selama kurang lebih empat jam. Sebenarnya jalannya tidak terlalu jauh. Hanya saja karena jalan yang tidak datar, naik turun dan berkelok-kelok rasanya begitu jauh. Belum lagi ada beberapa jembatan yang sudah tidak dapat dilalui karena sudah rusak.

Dua jam perjalanan pertama tidaklah melelahkan, terlebih lagi saya hanya membawa tas kecil. Peralatan misa, bekal juga pakaian saya sudah dibawa oleh umat. Hanya sayang pada dua jam terakhir hujan menemani perjalanan kami. Hujan yang disertai angin membuat sepatu cets yang saya kenakan basah, dan sudah dapat ditebak apa yang terjadi pada jari-jemari dan telapak kaki saya. Bagian ruas-ruas jari telapak kaki lecet dan dibalik kulit terdapat airnya.

Sampai di Unito saya disambut dengan tari susu ala orang gunung. Segera setelah sampai di rumah ketua stasi, saya langsung menegakan kaki saya ke atas sementara punggung saya saya baringkan di tempat tidur, untuk menghilangkan rasa lelah.

Perayaan minggu palma tahun 2008 adalah pelayanan pertamaku di tempat ini. Ketika sedang penuh semangat berkotbah, tiba-tiba Pak Yosep seorang pewarta stasi maju ke panti imam dan mendekati saya dan berkata pada saya,
“Sebentar pater jangan terlalu panjang-panjang kotbahnya, saya terjemahkan dulu.”

“Astaga!”

“Jadi mereka ini tidak mengerti bahasa Indonesia?”.

Sempat saya terbengong? Dan mempertanykan hal ini dalam hati, mengapa  tidak memberitahukan lebih dahulu bahwa umat di Unito ini tidak mengerti bahasa Indonesia.

“Iya pater hanya ada beberapa yang mengerti bahasa Indonesia, saya termasuk yang mengerti bahasa Indonesia” begitu Pak Yosep menjelaskan.

Akhirnya dengan senyum-senyum, saya menghentikan kotbah saya dan memberi kesempatan pada Pak Yosep untuk menterjemahkan kotbah saya. Sungguh suatu pengalaman yang indah, berkotbah di kalangan orang-orang yang sangat sederhana. Bahkan untuk mereka yang tidak mengerti Bahasa Indonesia.  Akan tetapi ada satu hal yang sungguh luar biasa yang dapat menjadi contoh bagi stasi lain.

Setiap malam minggu di stasi Unito diadakan cerdas cermat. Pada saat diberitahu oleh ketua stasi saya sempat berpikir keras, cerdas cermat macam apa, padahal mereka tidak mengerti bahasa Indonesia. Bahkan ketua stasi menambahkan bahwa bahan-bahan yang dilombakan adalah bahan kitab suci. Hal ini tentu menarik saya untuk menyaksikan cerdas cermat yang diadakan malam itu.

Kebetulan malam itu adalah malam minggu, sehingga saya dapat melihat bagaimana cerdas cermat ala mereka. Sistemnya memang seperti cerdas cermat pada umumnya. Mereka dibagi perkelompok. Setiap kelompok ada delapan sampai sepuluh orang. Mereka duduk di tanah beralaskan kayu balok atau batu.

Dalam kelompok itu ada satu orang yang mengerti Bahasa Indonesia. Mereka inilah yang menterjemahkan pada anggota kelompoknya soal yang diberikan oleh ketua stasi. Malam itu ada enam kelompok yang berlomba.  Yang lebih menarik lagi adalah bahwa anggota kelompok terdiri dari berbagai golongan usia. Ada mama-mama, bapak-bapak, anak-anak juga ikut berpartisipasi.

Refleksi
Keterbatasan bahasa tidak menghambat kita berkomunikasi. Justru dalam keterbatasan  yang ada kita ditantang untuk saling memahami sesama. Umat Unito  yang hidup dalam kesederhanaan dan jauh dari keramaian dan  tidak mengerti Bahasa Indonesia adalah salah satu contoh. Keterbatasan bahasa tidak menimbulkan konflik, justru sebaliknya. Mereka saling memahami satu sama lain.

Lain halnya dengan dunia di sekitar kita. Kita bisa saling berkomunikasi, tetapi yang terjadi adalah miskomunikasi. Kesalahpengertian inlah yang akhirnya membawa kita pada konflik. Dan memang demikianlah yang kerap kali terjadi di sekitar kita. Orang mudah marah, tersinggung, salah paham dan  tidak terjadi komunikasi yang baik satu sama lain.

Semestinya kita yang bisa saling mengerti bahasa lebih mampu menjalin kesatuan dalam masyarakat. Bukan saling curiga,  tetapi semakin menjalin semangat kesatuan dan jiwa kebersamaan yang besar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here