Joanes Yandhie Buntoro Gunawan CDD: Melukis, Dunia Lain Pastor Kanvas di Pontianak

0
573 views
Lukisan cat tentang sosok Bapak Pendiri Kongregasi Kardinal Celso Costantini karya Romo Yandhie CDD di Kompleks Biara CDD Pontiannak. (Sr. Maria Seba SFIC)

PASTOR CDD ini sering menyabet nama akrab dengan julukan sebagai Pastor Kanvas. Ini terjadi karena imam anggota Kongregasi Murid-murid Tuhan atau Congregatio Discipulorum Domini (CDD) ini punya bakat alam di bidang seni lukis.

Ide-ide kreatif di bidang seni lukis ini biasa dituangkan Romo Yandhie CDD tidak hanya dalam bentuk lukisan di atas kanvas, melainkan juga dengan seni instalasi.

Melalui seni itulah, kecintaan imam CDD yang menerima tahbisan imamatnya di Panchiao, Taiwan, 6 Mei 1990, menemukan jalur ungkapan devosionalnya akan Tuhan. Dan karya-karya seni itu, katanya menjawab penulis, ditorehkannya untuk memuliakan Tuhan.

Inilah persoalan pola keseimbangan hidup yang saling bersinergi. Satunya, pola hidup yang kontemplatif, khusuk dan serius di mana sejatinya ia adalah seorang imam yang melayani seputar altar. Lainnya, hidup yang rileks penuh dengan eksplorasi batin, kreativitasi seni, dan inovasi berpikir.

Kecerdasan intelektual dan multi talenta yang dimilikinya tidak lantas menjadikan imam yang pernah menjadi Provinsial CDD Indonesia tahun 2002-2005 ini lalu senang membusungkan dada.

Romo Yandhie Buntoro CDD, Pastor Kanvas di Pontianak.

Namun sebaliknya, ia selalu mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang imam biasa yang dipakai Tuhan untuk menjadi alat di tanganNya.

“Saya memang mencintai karya seni khususnya seni lukisan perspektif ilmu ukur ruang, tapi saya jangan dibilang seniman loh. Saya ini hanyalah seorang pastor biasa,” ungkapnya merendah.

Dunia lain adalah melukis

Menurut imam berdarah Tionghoa kelahiran Pontianak ini, seorang imam atau gembala umat pada umumnya dikenal sebagai pribadi-pribadi yang menggondol predikat dalam banyak hal, termasuk kemampuan intelektualnya di atas rata-tata.

Jadi tidak heran ketika melihat romo memberi homili di mimbar, mereka sangat pintar dan cerdas. Itu karena seleksi awal menjelang masuk seminari pun, prosesnya sangat ketat.

“Namun, kepintaran intelektual dan talenta lainnya jangan sampai membuat orang jatuh dalam kesombongan,” tandas imam yang suka mengenakan jubah model dagua ini.

Dengan senyumnya yang senantiasa renyah yang memang khas, ia selalu menyambut ramah bagi siapa saja yang hendak berkunjung di Pastoran CDD Jl. Ir. Haji Juanda 200 Pontianak.

Di Pastoran CDD yang letaknya persis di depan Gereja Katedral St. Yosef Pontianak inilah Romo Yandhie mengisi waktu luangnya dengan berperan melakoni ‘profesi’ lain yakni pelukis.

Ketika kaki melangkah memasuki komplek Persekolahan Karya Yosef yang juga menyatu dengan Pastoran CDD, maka mata akan langsung dimanjakan  dengan indahnya lukisan dinding Bapa Pendiri Kongregasi CDD, Kardinal Celso Costantini.

Proses kreatif Romo Yandhie Buntoro dalam melukis Bapak Pendiri Kongregasi CDD.

Inilah salah satu dari sekian banyak buah cipta hasil goresan tangan berbakat Romo Yandhie. “Lukisan yang gede baru ada dua. Kalau lukisan kecil ada dipasang di berbagai Biara CDD,” ungkapnya.

Lukisan dengan desain apik yang disebut WPAP Werdha”s Pop Art Portrait ini dilukis menggunakan 17 perpaduan warna cat tembok yang memakan waktu selama 12 hari.

“Sebenarnya ini bukan murni hasil karya saya sendiri, namun dibantu oleh seorang desainer warna, namanya Dhikik, dua tukang cat dan satu tenaga IT. Namun bagian yang terpenting memang saya yang melukis seperti sketsa dan mewarnai di bagian mata,” ungkap Sang Romo.

Proses melukis  sempat tersendat-sendat karena harus melawan ganasnya percikan air hujan. “Waktu melukis, Pontianak sedang musim hujan, jadi proses melukis dan pengeringan sapuan cat dinding agak lama,” ungkap imam yang fasih berbahasa Mandarin ini.

Mengenang pendiri CDD

Menurut  Romo Yandhie, ide kreatif melukis sosok yang sangat berjasa bagi Kongregasi CDD ini adalah untuk menghargai jasa Kardinal Celso Costantini. Ini juga untuk membangun kecintaan guru dan anak didik kepada sosok Kardinal yang sangat memperhatikan pendidikan pada zamannya.

“Nama beliau ditulis dalam lafal bahasa Mandarin adalah Gang Heng Yi (Kang Heng Yi), yang berarti “Tetap Bersemangat”,” terangnya Romo Yandhie CDD.

“Hal itu menjadi semboyan seluruh Persekolahan asuhan Kongregasi CDD; baik yang ada di Pontianak, Malang, Bali, dan Bekasi,” ungkapnya seraya menunjuk ke arah lukisan berukuran 5×5 meter yang kini menghiasi gedung megah persekolahan Karya Yosef milik Kongregasi CDD.

Pohon Natal Layar Paroki St. Agustinus Sungai Raya, Semangat Multikultural Umat Katolik (1)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here