Kami Nyerah Pak

0
258 views
Memulai start up business.

AGAK kaget menerima pesan Whatsapp dari seseorang yang sudah hampir 5 tahun tak jumpa. Dia mengajak makan siang. Teringat pertemuan terakhir yang terjadi di ruang kerja kantor, di bilangan Slipi. Saya masih ingat apa yang disampaikannya.

“Terima kasih pak, saya sudah mendapat kesempatan mengambil program ‘Mutually Agreement Termination’ (MAT). Mohon doa, moga-moga rencana membangun usaha klinik gigi bisa berhasil”.

Kira-kira itulah percakapan saya dengan Syifail yang berani mengambil program yang untuk sebagian orang dianggap menakutkan.

Saat itu, Fail, Insinyur Perminyakan yang kariernya sedang moncer, baru sedikit di atas 30 tahun. Keputusannya untuk menjadi pengusaha “Dental Care”, membuat saya berdecak kagum. Keberaniannya di atas rata-rata profesional muda Indonesia, yang kebanyakan lebih suka leyeh-leyeh di sarang comfort zone mereka.

Ketika saya baru masuk restoran, dari jauh Fail sudah meneriakkan sapaannya. “Halo pak, apa kabar?”.

Suaranya renyah, dengan wajah yang sumringah. Percaya dirinya menonjol tajam. Tanda bahwa pencapaian telah digenggamnya. Diam-diam, saya ikut bangga bertemunya.

Fail ditemani oleh Dokter Gigi Sandra, isterinya. Saya belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi, pembicaraan kami terjalin hangat, tanpa kendala.

Keberadaan Sandra menjadi tambahan informasi penting. “Dental Care” yang diberi nama “Orange”, bukanlah sesuatu yang dimulai dari nol. Sandra sudah makan asam-garam dunia kedokteran-gigi. Mulailah Fail dan Sandra bercerita tentang bisnisnya.

Luar biasa, “Orange” telah mempunyai 7 klinik. Jumlah anggota timnya hampir 100 orang. Targetnya adalah membuka 1 outlet, setiap 3 bulan. Tidak hanya di sekitar Jabotabek saja, melainkan seluruh Indonesia.

Selama mereka bercerita, tak henti-hentinya saya berdecak kagum, sambil mengangguk-anggukkan kepala, tanda setuju. Meski hanya sepersekian ratusnya saja, kemampuan dan keberanian seperti itu tak saya miliki.

Dengan runtut mereka menjelaskan bisnisnya. Cukup detil.

  • Tentang investor yang bersama mereka.
  • Tentang masalah keuangan.
  • Tentang aspek marketing dan promosi.
  • Tentang operasional klinik.
  • Tentang etika perawatan kesehatan gigi.
  • Tentang pemilihan lokasi.
  • Tentang pembelian alat-alat dan material.

Sampai soal dukungan sang ibu, yang semula meragukan, namun kini ikut bersama mereka. Puji Tuhan.

Lebih satu jam berlalu. Saya mulai bertanya-tanya dalam hati. Untuk apa mereka menjamu saya di restoran mewah ini? Apakah mau pamer tentang kesuksesan mereka saja? Lantas, apa relevansinya? Nampaknya, gong baru ditabuh belakangan.

“Hanya satu yang kami kesulitan mengatasinya. Kami nyerah pak”

Saya mulai menduga-duga apa yang menjadi inti masalah mereka. Dan tebakan saya tepat. “Masalah SDM pak. Sungguh pak. Saya pusing tujuh keliling.”

Mulailah mereka mengeluh soal recruitment. Soal konsultan ternama yang memilihkan anggota tim baru dengan usia hanya 6 bulan sampai setahun. Atau pelamar yang dianggap “terbaik” ternyata tak memenuhi harapan.

Tak hanya itu. Fail bercerita banyak hal lain. Tentang budaya organisasi yang sulit diturunkan ke level atas sekali pun. Dan soal rencana pengembangan SDM yang tak bisa diterapkan seutuhnya.

Dan soal organisasi yang tak sesuai dengan rencana semula. Dan soal peraturan perusahaan yang sulit ditulis, apalagi ditegakkan. Dan masih banyak lagi yang saya tak mampu mengingatnya.

Singkat cerita, Fail dan Sandra sudah sangat passion dengan bisnisnya dan mereka telah memetik (sebagian) hasilnya. Tapi mereka lupa satu hal, yang menjadi inti dari suatu bisnis, yaitu SDM.

Anjuran pertama saya adalah mengangkat seorang Head of HRD, yang tidak hanya kompeten di bidangnya tapi juga memiliki passion terhadap SDM dan kreatif menghadapi era milenial yang begitu liar bergejolak.

Kedua, mereka harus selalu menempatkan SDM sebagai faktor utama dan terpenting dalam menjalankan setiap (rencana) bisnis ke depan.

“No matter how big or small an organization is, with sophisticated or simple business process, of high or low value – People is the key to its success”. (Anonim)

Beberapa contoh mengenai praktik managemen SDM yang tak lagi sesuai pakem, saya ceritakan panjang-lebar.

Tak terasa dua jam sudah berlalu. Kami telah berdiskusi hangat tentang sesuatu yang sangat menyenangkan. Tentang keberhasilan suatu usaha dan SDM, yang menjadi faktor kunci yang mendukung keberhasilan itu. Karena mengembangkan usaha hanya bisa berhasil melalui pengembangan SDM.

“Develop people, and people will develop the business”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here