Kedubes RI di Dakar: Indonesia-Senegal Kukuhkan Sinergi Kerjasama Invesitasi

0
62 views
Pertemuan Bilateral Indonesia-Senegal di Dakar, 2 Desember 2019 antara Menlu RI LP Retno Marsudi dan Presiden Senegal Macky Sall. Dubes RI untuk Senegal HE Mansyur Pangeran (kiri) ikut menghadiri pertemuan tersebut. (KBRI Dakar)

DAKAR tidak hanya dikenal, karena acara reli Paris-Dakar yang menakjubkan lantaran melewati padang savana dengan tantangan alam yang serius. Tapi juga mengibarkan semangat kerjasama antarnegara.

Dan ide ke arah itu telah dicapai oleh Pemerintah RI dengan mitranya dari Senegal di Ibukota Dakar. Hubungan kerjasama bilateral Indonesia-Senegal semakin mesra,” demikian tulis materi rilis media yang dikeluarkan Kedubes RI di Dakar, Senegal, Selasa tanggal 9 Desember 2019 hari ini.

Pemandangan mobil melaju kencang di padang gurun dalam acara Reli Paris-Dakar. (Danish.Net)

Rilis media itu dikeluarkan, setelah terjadi pertemuan bilateral kedua negara yang masing-masing diwaliki oleh Menlu RI LP Retno Marsudi dan Presiden Senegal Macky Sall.

Pertemuan itu telah terjadi di Dakar, Senin 2 Desember 2019 pekan lalu. Itu berlangsung saat Menlu LP Retno Marsudi bertemu Presiden Macky Sall dan saat sama itu pula Pemerintah Senegal menyatakan keinginannya ingin meningkatkan dan memperkuat kerjasama dengan Indonesia di berbagai bidang.

Presiden Macky Sall juga berkeinginan secepatnya bisa berkunjung ke Indonesia. Sebaliknya beliau juga sangat mengharapkan kunjungan Presiden Joko Widodo ke Senegal di tahun 2020.

Menyusul setelah penandatanganan pembangunan Projek Tour de Goée pada 2 Desember 2019,  Senegal secara terbuka telah menawari berbagai peluang kerjasama kepada Indonesia. Kemungkinan repeat order pembelian pesawat CN-235 dan pembelian produk PT DI lainnya sudah diindikasikan oleh pihak Senegal.

Presiden Senegal Macky Sall. (Leadership Newspaper)

Kerja sama pengelolaan hasil tambang fosfat juga disodorkan. Renovasi bandara militer, pembangunan military based, jembatan, jalan tol dan pengerjaan berbagai projek-projek infrastruktur lainnya menanti kehadiran investor Indonesia.

Sekarang bola di tangan Indonesia.

Seberapa besar Indonesia mampu menangkap peluang yang ditawarkan, tentunya tergantung pada kesiapan stakeholders kita di Indonesia.

Duta Besar RI Dakar, Mansyur Pangeran, selama ini telah mendorong kehadiran sejumlah BUMN seperti PT WIKA, PT Dirgantara Indonesia, PT Timah, PT Antam, Indonesian Eximbank dan lainnya untuk hadir dan berpartisipasi dalam berbagai projek yang ditawarkan oleh Senegal dan tujuh negara lain di bawah akreditasi KBRI Dakar: Mali, Cabo Verde, The Gambia, Cote d’Ivoire, Guinea, Guinea Bissau, Sierra Leone.

Kehadiran beberapa BUMN dalam pendampingan kunjungan kerja Menlu RI di Dakar tersebut yang ditindaklanjuti dengan serangkaian pertemuan guna memperdalam peluang-peluang kerja sama, khususnya di bidang industri strategis, pertambangan dan infrastruktur, adalah langkah konkrit dan maju dalam memetakan potensi dan peluang yang bisa ditindaklanjuti kedua pihak.

Alutsista

Pada pertemuan lanjutan hari Selasa (3/12/2019) Menteri Bappenas Senegal, yang juga koordinator seluruh program pembangunan di Senegal, DR. Cheikh Kante menyampaikan adanya kebutuhan penguatan alutsista Senegal.

Ini sama seperti yang pernah disampaikan juga oleh Presiden Macky Sall dalam rangka meningkatkan keamanan dan stabilitas di kawasan Afrika Barat diperlukan pesawat yang multi purpose yang dapat dioperasikan untuk mengangkut penumpang umum, deployment pasukan dan para medis sebagai pesawat ambulans, sebagai pesawat khusus VVIP untuk kepresidenan dan berfungsi sebagai surveillance.

Dubes Mansyur Pangeran menyambut baik dan menawarkan peluang kerjasama dengan PT DI yang dapat mendesain Pesawat CN-235 sebagai pesawat multi fungsi, PT Pindad dengan produk Tank Anoa dan senjatanya, serta PT PAL dengan produk kapal perang yang sesuai untuk membantu penguatan alutsista Senegal.

Pemandangan Ibukota Dakar di Senegal dari udara by Wiki.

Dubes Mansyur menegaskan,  pesawat CN-235 dapat digunakan untuk beberapa misi, antara lain misi surveillance, patroli maritim, angkutan pasukan bersenjata, kepentingan militer maupun sipil, pesawat pribadi (termasuk pesawat kepresidenan), evakuasi medis, maupun angkutan kargo.

Pesawat yang memiliki kemampuan take off dan landing di landasan pacu yang pendek serta berkemampuan terbang selama 11 jam ini sangat diminati pesawat ini sangat cocok  digunakan untuk keperluan militer dan sipil di negara negara Afrika ; khususnya bagi Senegal. Oleh karena itu, disampaikan sangat dimungkinkan untuk dilakukan repeat order dengan pendanaan melalui Indonesian Eximbank.

DR. Cheikh Kante menawari kerjasama kepada  PT Timah Tbk Indonesia,.

Sebagai salah satu negara penghasil fosfat terbesar dunia dengan kualitas terbaik dunia untuk mengelola pertambangan fosfat di Senegal, PT Timah Tbk menyampaikan bahwa Indonesia siap menjadi salah satu buyer dari produksi fosfat Senegal melalui PT Pupuk Indonesia (persero).

Akhirnya Dubes Mansyur menegaskan, sekarang bak “dua sejoli”, chemistry telah terjalin antara kedua negara. Tidak perlu melakukan lobi-lobi yang memakan biaya tinggi, karena jalan kerjasama yang saling menguntungkan sudah terbuka lebar.

Indonesia tinggal menyiapkan peluru investasinya, financial scheme yang matching, expertise dan SDM yang memadai, dana cukup, serta manajemen yang baik dan transparan.

Dubes Mansyur menambahkan sebelumnya pihak Senegal Senegal juga telah  menyampaikan keinginannya untuk membeli 10 lokomotif dari PT INkA, namun tertunda karena belum adanya dukungan finansial yang cukup kuat.

Demikian pula  KBRI sudah menawari Senegal  beberapa kapal militer produksi PT PAL  Indonesia.

Bila Indonesia siap, maka tidak diragukan lagi bahwa keuntungan akan diterima kedua pihak, sejarah dunia akan mengukir bahwa Indonesia hadir secara riil di bumi Afrika, setelah hadir di hati rakyat Afrika sejak Konferensi Asia-Afrika tahun 955.

Dakar, 8  Desember 2019

KBRI DAKAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here