Kisah Panggilan Jadi Imam: Jadi “Artis” Gereja dan Pastoral di Batulicin, Keuskupan Banjarmasin (1)

0
472 views
Romo Albertus Monang Pr. (Ist)

INI sekedar cerita keluarga. Pengalaman pada masa kanak-kanak merupakan pengalaman yang paling membahagiakan.

Saya sungguh bersyukur bahwa saya bisa bertumbuh melalui keadaan lingkungan sekitar yang memberi banyak dukungan terhadap apa yang menjadi cita-cita saya.

Pada saat kelas 4 SD, saya mulai mengikuti Perayaan Ekaristi di Gereja Santo Arnoldus. Gereja Arnoldus terletak di daerah dekat dengan Terminal Bekasi Timur. Orangtua saya pada awalnya tidak membiarkan saya pergi gereja di Santo Arnoldus demi alasan keamanan.

Semenjak TK hingga kelas 4 SD, saya mengikuti kegiatan bina iman di salah satu Gereja Protestan dekat rumah. Dengan berjalan sekitar 5 menit, saya dan kedua kakak saya pergi ke gereja untuk mengikuti ibadat.

Namun, setelah kelas 4 SD untuk menjalani persiapan Komuni Pertama, saya bersama orangtua pergi ke Gereja St. Arnoldus. Di sinilah perkenalan awal saya secara sadar dengan Gereja Katolik.

Sosok imam

Pertama kali menuju pintu masuk Gereja, saya berjumpa dengan seseorang yang menggunakan jubah putih. Uniknya, sosok tersebut senantiasa menyapa dengan ramah dan bersalaman-salaman dengan umat. Saya begitu terkesan dengan sosok tersebut.

Secara spontan saya bertanya terhadap ibu saya, “Ma, siapa orang itu?”.

Mama saya menjawab, “Itu romo.”

Langsung saja saya berkata kepada ibu saya, “klo begitu, nanti ucok mau jadi seperti dia.”

Alasan saya mengapa ingin menjadi sosok tesebut adalah bagi saya, sosok tersebut seperti “artis” terkenal yang dekat dengan banyak orang. Sebagai seorang anak kecil, saya begitu antusias untuk menjadi seperti dirinya. Sejak saat itu, saya senantiasa ingin mengenal sosok seorang imam di paroki saya.

Oleh karena itu, saya merefleksikan bahwa semenjak peristiwa tersebut saya ditangkap oleh kasih Allah untuk menjadi seorang imam.

Aktif di paroki

Perkenalan atas perjumpaan saya dengan imam tersebut membentuk saya untuk menjadi pribadi yang semakin rajin mengikuti kegiatan di gereja.

Semenjak kelas 5 SD, saya mengikuti dua organisasi di gereja yakni THS-THM dan PAPS (Misdinar). Pengalaman saya mengikuti kedua organisasi tersebut membentuk saya menjadi pribadi yang senang untuk berjumpa dengan teman-teman di gereja. Kegiatan tersebut menjadikan saya betah untuk tinggal di gereja.

Bahkan saya senantiasa diizinkan oleh orang tua saya untuk mengikuti segala aktivitas di gereja. Hal inilah yang menjadikan saya juga semakin kenal dengan sosok seorang imam. Saya merasakan bahwa panggilan untuk menjadi seorang imam semakin tumbuh dalam diri saya.

Memasuki masa kelas 3 SMP, saya begitu bersemangat mendengar cerita teman saya yang menjadi seorang seminaris. Pada saat ia pulang ke Bekasi, saya begitu antusias mendengar kehidupannya di seminari menengah. Maka menjelang akhir tahun ajaran, saya memberanikan diri berbicara kepada orang tua bahwa saya ingin melanjutkan pendidikan masa SMA di seminari.

Kedua orangtua saya berpesan bahwa jika itu memang pilihan saya, maka saya harus berusaha sendiri untuk masuk ke seminari. Oleh karena itu, saya mulai bertanya-tanya kepada frater paroki bagaiamana cara agar saya bisa masuk ke seminari.

Saya sungguh bersyukur karena frater dan romo paroki mendukung saya dalam mengurus persyaratan masuk seminari.

Inilah yang memotivasi saya untuk terus melangkah masuk dalam bagian formasi menjadi seorang imam. Saya ingat ketika ingin diantar menuju seminari menengah, waktu itu mama belum bisa menerima saya masuk seminari.

Mama mengantar saya dengan tangisan karena akan melepas saya. Bukan karena apa, mama hanya khawatir kepada saya apakah saya bisa hidup mandiri di seminari. Akan tetapi, ternyata saya pun bisa menjalani dan menikmati segala dinamika yang terjadi dalam proses formasi.

Saya senantiasa bergembira dengan segala dinamika dan proses formasi yang saya jalani dari seminari menengah hingga saat ini.

Inilah yang juga menguatkan saya bahwa rahmat Allah senantiasa mentransformasi diri saya untuk semakin siap menjadi seorang imam.

Refleksi panggilan: “Kamu adalah sahabat-Ku

Perjalanan panggilan menjadi seorang imam bagi saya merupakan perjalanan dengan penuh rasa syukur. Saya menyadari bahwa panggilan hidup yang saya jalani adalah berkat karunia dan rahmat Allah. Saya senantiasa bersyukur karena tetap setia menjalani proses formasi (pembinaan).

Masa formasi saya ibaratkan sebagai sebuah pembentukan diri menuju kedewasaan. Saya mengilustrasikannya sebagai sebuah bejana dari tanah liat. Sebuah bejana yang berasal dari bahan yang sederhana karena saya bukanlah orang yang luar biasa melainkan pribadi yang berasal dari keluarga yang juga sederhana.

Akan tetapi, saya berharap bahwa bejana sederhana ini berguna bagi orang lain setelah siap digunakan.

Perjalanan panggilan yang penuh syukur tersebut, juga tidak sepenuhnya senantiasa dalam rasa kegembiraan. Saya teringat pada saat menjalai masa TOP (Tahun Orientasi Pastoral), saya menerima kabar duka atas peristiwa meninggalnya ayah.

Pengalaman ini menjadi pengalaman yang nyata bagi saya. Saya bergulat bahwa mengapa Tuhan memberikan saya pengalaman seperti ini. Kenyataan yang tejadi adalah suatu pengalaman yang tidak mengenakkan. Saya sadar rasa kecewa terus-menerus ada di dalam hati saya.

Pengalaman bangkit saya rasakan pada saat saya menyadari bahwa saya tidaklah sendiri. Perjalanan panggilan tentu juga saya jalani bersama dengan rekan seperjalanan.

Saya senantiasa dibimbing oleh Romo Wahyu CM untuk bisa menyadari kasih Allah dalam perjalanan panggilan selepas ditinggal oleh ayah. Dari peristiwa ini saya menyadari bahwa Allah tidak membiarkan diri saya untuk bergulat dengan rasa kecewa. Allah senantiasa memberikan sahabat dan keluarga yang menemani saya untuk berjalan dalam panggilan saya menjadi seorang imam.

Saya percaya bahwa Roh Kudus menuntun saya dalam setiap langkah panggilan yang saya jalani.

Refleksi saya menjadi seorang imam adalah perlunya menyadari bahwa apa yang saya lakukan secara khusus dalam pewartaan tidak lepas dari peran Allah. Seorang imam merupakan pribadi yang dekat dengan Kristus.

Maka jelaslah bahwa pegangan hidup saya dalam meniti jalan panggilan sebagai adalah relasi yang dekat dengan Yesus. Saya merefleksikan bahwa pelayanan seorang imam adalah melayani seluruh umat yang dalam mana Kristus hadir di sana.

Hal menarik yang saya renungkan dalam perjalanan panggilan saya sampai saat ini ialah bantuan dan kehadiran Bunda Maria dalam perjalanan panggilan saya. Saya menyadari bahwa Bunda Maria senantiasa mendampingi dan melindungi para imam dan calon imamnya.

Menarik bahwa dalam rahmat penerimaan Tahbisan senantiasa selalu berkaitan dengan Bunda Maria. Pada saat saya dan kedua rekan saya menerimakan rahmat Tahbisan Diakon bertepatan pada bulan Mei yang sekaligus adalah Bulan Maria.

Selanjutnya dalam penerimaan tahbisan Imam, saya bersyukur boleh menerimakan pada tanggal 15 Agustus 2019 yang nyatanya dirayakan oleh Gereja sebagai Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga.

Oleh karena itu, saya sadar Bunda Maria senantiasa mendampingi perjalanan panggilan menjadi seorang imam. Saya berharap bahwa saya senantiasa mampu meneladani Bunda Maria yang setia dan taat dalam perutusannya atas kehendak Allah.

Kamu adalah sahabat-Ku menjadi motivasi hidup dan panggilan saya. Kata-kata ini memberikan inspirasi bagi saya untuk senantiasa bersuka dalam menjalani jalan panggilan. Saya menyadari bahwa perkataan Yesus untuk mengangkat para murid menjadi sahabat-Nya menunjukkan relasi yang mendalam antara Yesus dengan para murid. Begitu pula yang saya refleksikan dalam perjalanan panggilan saya sampai pada saat ini.

Saya percaya bahwa Yesus senantiasa membantu saya menapaki jalan panggilan saya langkah demi langkah. Proses tersebut semakin membentuk diri saya untuk semakin siap melayani sebagai seorang imam (kelak).

Oleh karena itu, saya senantiasa bersyukur bahwa dalam relasi sahabat ini, saya juga mampu untuk menjadikan seluruh pelayanan saya kepada setiap sahabat Yesus yang telah memanggil saya. 

Pengalaman pastoral di Batulicin, Keuskupan Banjarmasi

Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu murah hati”

Selesai menjalani masa studi filsafat di Jakarta, saya menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral di luar pulau Jawa. Saya diutus untuk menjalani masa TOP saya di Gereja Vinsensius a Paulo, Paroki Batulicin, Keuskupan Banjarmasin.

Para imam yang berkarya saat itu ialah tiga orang yakni, Rm. Antonius Wahyuliana CM selaku Pastor Kepala Paroki, kemudian Romo Jacques Gros CM selaku pastor rekan yang bertempat tinggal di Stasi Mandam, serta Romo Aloysius Kristiyanto CM juga selaku pastor rekan.

Meskipun ada dua pastor rekan, pada kenyataanya saya hanya tinggal bersama dengan Rm. Wahyu CM di Pastoran Gereja St. Vinsensius a Paulo.

Pengalaman yang berkesan selama menjalani masa pastoral di Paroki Batulicin adalah saat perjumpaan dengan umat.

Paroki Batulicin merupakan paroki dengan 48 stasi. Jarak dari pusat ke stasi terdekat minimal 30 km. Paroki ini memliki perhatian khusus dalam karya misi Meratus. Misi ini merupakan tanggapan atas permintaan masyarakat Dayak di Pegunugan Meratus yang mengharapakn pelayanan dari Gereja Katolik.

Misi ini dimulai pada tahun 2008. Karya ini adalah cermin nyata Gereja yang misioner.

Ada pengalaman menarik ketika saya berpastoral di Paroki Batulicin. Suatu minggu saya bertugas untuk memimpin ibadat di salah satu stasi yang jaraknya sekitar 50 Km dari Gereja paroki. Saya berangkat sendiri menggunakan sepeda motor.

Pada saat itu, cuaca sedang mendung dan benar saja baru sekitar perjalanan 10 menit hujan turun begitu deras. Saya pun tetap mengusahakan agar tidak terlambat untuk sampai di stasi. Hujan deras saya terjang demi sampai di stasi. Dalam perjalanan saya membayangkan bahwa tentu saja umat juga berjuang untuk bisa datang ke kapel stasi.

Begitu sampai di tujuan, saya masuk ke kapel. Alangkah herannya saya bahwa yang saya bayangkan tidak seindah saat dalam perjalanan. Di dalam kapel tersebut saya berjumpa hanya dengan tiga orang yakni seorang nenek, ibu, dan anaknya yang putri.

Seketika itu, saya merasa tidak semangat dalam menjalani tugas saya. Oleh karena itu, saya mengajukan untuk mengundurkan waktu ibadat sekitar 15 menit karena mungkin saja akan datang umat yang lainnya. Setelah kami menunggu selama 15 menit, ternyata tidak ada lagi umat yang datang.

Akhirnya kami menjalani ibadat sabda hanya berempat.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar untuk setia menjalani tugas penutusan. Saya menyadari bahwa dalam menjalani tugas perutusan tidaklah melulu sesuai dengan ekspetasi.

Sebelum merayakan ibadat saya merasa kecewa karena kehadiran umat yang hanya tiga orang saja.

Perasaan ini lama-lama luntur ketika selesai ibadat, setiap umat berkata kepada saya, “Frater terima kasih banyak. Terima kasih karena frater tetap datang walaupun kami hanya sedikit yang datang.”

Ucapan terima kasih tersebut terasa begitu istimewa. Saya belajar untuk melayani secara murah hati tanpa bersungut-sungut.

Maka, dalam perjalanan pulang saya bersyukur kepada Allah karena boleh berjumpa dengan umat untuk merayakan ibadat sabda bersama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here