Korupsi Ada Dimana-mana, Lokakarya Anti Korupsi di Unika Atma Jaya Jakarta

0
813 views

KEGIATAN Lokakarya Anti Korupsi yang dilaksanakan pada tanggal 14 dan 15 Agustus 2015 merupakan kolaborasi acara dari FKIP Prodi Pendidikan Agama Katolik Unika Atma Jaya Jakarta, Yayasan Bhumiksara, dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa-mahasiswi untuk membentuk sikap, pemikiran dan aksi terhadap isu korupsi yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Pembekalan yang dilakukan selama dua hari berturut-turut ini menjadi ajang pembelajaran bagi para peserta untuk berdinamika secara kelompok maupun pribadi dalam mencegah dan memberantas tindak korupsi di Indonesia.

Hari Pertama: Pengalaman
Seminar lokakarya ini menjadi pengalaman baru bagi saya untuk berkumpul bersama teman-teman Unika Atma Jaya Jakarta dan Bhumiksara serta berdiskusi dalam perbincangan mengenai antikorupsi. Dengan keberadaan mahasiswa dan suster yang turut serta dalam seminar, serta kehadiran para fasilitator yang aktif membawakan materi, membuat suasana acara semakin terbuka dan cerita. Materi yang saya rasa berat untuk dimengerti dan dianalisa, dapat menjadi diskusi menarik yang tetap dapat dipahami melalui kegiatan-kegiatan interaktif.

Pada hari pertama seminar, kami diperkenalkan terlebih dahulu terhadap definisi dari korupsi itu sendiri. Persentasi mengenai latar belakang dan sejarah korupsi telah membuka pikiran saya tentang arti kata korupsi yang selama ini kurang saya dalami. Berbagai konsep seperti model korupsi gurita dan metase kanker, makna korupsi, serta klasifikasinya saya pelajari melalui pemaparan persentasi, video dan tulisan oleh fasilitator.

Saya menjadi lebih peka, setelah mengetahui bahwa secara tidak sadar saya pernah melakukan tindak korupsi yang salah satunya tergolong dalam tujuh klasifikasi korupsi. Kegiatan yang masuk ke dalam klasifikasi korupsi di antaranya adalah suap menyuap, pengelapan dalam jabatan, pemerasan, penyalahgunaan keuangan negara, perbuatan curang, benturan kepentingan dan gratifikasi.

Dua diantaranya baru bagi saya, yakni poin benturan kepentingan dan gratifikasi. Saya baru menyadari bahwa kedua kegiatan ini termasuk dalam jenis korupsi dan tidak seharusnya dilakukan dalam lingkup profesional ataupun keluarga.

Dan jujur saja, saya sangat berterimakasih kepada Bhumiksara telah memberikan saya kesempatan mengikuti seminar ini. Karena jika tidak, betapa ruginya saya karena membiasakan budaya korupsi meskipun dalam lingkup yang masih kecil. Saya tentu pernah memberikan tips atau tanda terimakasih yang seharusnya tidak perlu.

Saya juga sempat mementingkan kepentingan teman saya yang ingin masuk sebagai peserta magang di media yang saya sudah masuki terlebih dahulu. Dan nyatanya, perbuatan saya tersebut menjadi bibit-bibit korupsi, yang bisa berkembang ke arah yang lebih besar seperti korupsi di jajaran pemerintah. Dan saya sadar, bahwa kepercayaan yang diberikan, apapun bentuknya dan seberapa kecilpun harus tetap saya hargai dan pertanggungjawabkan dengan tidak berfokus pada keuntungan diri sendiri.
Pengalaman-pengalaman tersebut dapat saya panggil lagi dalam ingatan karena saya mendengarkan kisah nyata dari para fasilitator yang ada. Di hari pertama ini, langkah kegiatan yang dilakukan berupa pengalaman, sehingga kami bisa berbagi cerita tentang korupsi dalam lingkungan sehari-hari. Sebagian pengalaman berasal dari rekan Bhumiksara, yakni Noel dan fasilitator yang pernah bekerja menjadi pegawai negeri sipil di pemerintahan.

sharing Michelle 2
dr. Prastowo tengah memberi materi mengenai dunia praktik korupsi. (Royani Lim)

Saya lebih tersadarkan akan fakta pelik di balik sistem pemerintahan yang terlihat baik, yakni suatu rencana besar untuk melanggengkan tradisi korupsi di balik rapihnya sebauh sistem institusi. Hegemoni menjadi kunci penting untuk membuka pintu korupsi itu sendiri. Dan saya semakin diyakinkan untuk harus mau dan sanggup menjadi pribadi yang kuat dan teguh jika ke depannya saya hendak mengembangkan karier saya di pemerintahan.

Itulah pembelajaran yang saya dapatkan selama hari pertama seminar. Beberapa pertanyaan muncul seusainya: seberapa kuat saya bisa bertahan dalam arus negatif ini? Dan apa yang akan menjadi pegangan saya agar tidak hanyut?

Hari Kedua: Analisa
Hari kedua seminar diawali dengan rangkaian kegiatan analisa dalam kelompok. Saya tergabung dalam kelompok bernama “Teletubies” dan kami berdelapan membuat peta konsep tentang segala kemungkinan dampak serta penyebab terhadap kondisi koruptif yang kami pilih. Kelompok kami memilih kasus suap yang biasa dilakukan masyarakat kepada polisi akibat pelanggaran lalu lintas yang mereka lakukan di jalan.

Setelah menentukan inti permasalahan korupsi tersebut, kami membuat daftar dampak dan penyebab yang mungkin saja berpotensi mempengaruhi keadaan itu. Kami juga mencoba mencari tahu siapa saja pelaku yang terlibat dalam kasus itu, peran mereka, dan pandangan kita. Diskusi yang saya lakukan begitu menarik dan kaya akan pemahaman baru.

Tak disangka, kelompok kami menemukan kesimpulan unik yang bisa merepresentasikan kegiatan diskusi yang telah kami lakukan. Ternyata, penyebab korupsi suap oleh polisi berasal dari hal-hal yang kecil, yang melekat pada diri pengendara yang memberikan suap dan polisi yang menerima suap. Seperti kemalasan pengendara untuk mengikuti prosedur pengambilan kendaraan, sikap polisi yang kurang percaya diri dan ingin kaya dengan jalan pintas (budaya instan), dan kurangnya kedisiplinan.

Hal-hal kecil inilah yang sebenarnya bisa membawa dampak besar yang tak terduga. Akibatnya, korupsi yang tadinya berasal dari satu orang lama-lama menjadi milik satu bangsa bahkan satu dunia. Jika kita mau tarik garis, dampak kasus korupsi itu bisa berakibat fatal, seperti jika polisi tersebut ketahuan menerima suap, ia dapat diberhentikan dari pekerjaan, menjadi pengangguran dan bisa meningkatkan angka kriminalitas karena tidak mendapatkan pekerjaan baru.

Atau jika kita berandai-andai sang pengendara yang memberikan suap pada polisi tersebut ke depannya menjadi seorang polisi juga, dirinya akan berbuat hal yang sama bahkan mengajari polisi lain untuk menerima suap. Dan pikiran instan yang dimiliki pengendara dapat membuat dirinya mengangkat polisi gadungan yang memberikannya suap agar bisa masuk ke dalam institusi kepolisian.

Penyebab korupsi ternyata berasal dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari, tanpa kita sadari. Dan dampak dari tindakan tersebut bisa mengarah pada hal-hal besar yang tak kita bayangkan. Karena itu saya dan kelompok menjadi sadar, bahwa cara memberantas korupsi yang paling tepat dan cepat adalah dimulai dari diri sendiri. Selain sistem yang harus diperbaiki, manusia sendiri sebagai sumber daya utama kehidupan harus dibenahi melalui pendidikan dan pendampingan yang benar oleh lingkungan pendidikan, keluarga dan masyarakat.

Satu kutipan yang diceletukkan oleh seorang fasilitator dalam seminar ini sangat tepat menggambarkan keseluruhan sesi ini, yakni “sehebat apapun sistem yang telah dibangun, kalau mental manusianya masih korupsi maka sama aja dan akan tetap ada celah korupsi yang dicari”.

sharing Michelle 6
Salah satu grup peserta tengah mempresentasikan hasil diskusi kelompok. (Royani Lim)

Refleksi
Sepert kaca pembesar, sesi kali ini mengajak saya dan para peserta untuk melihat lebih jauh dan lebih dalam mengenai korupsi. Dan sekiranya saya sendiri yang akan memegang kaca pembesar untuk memantulkan bayangan saya, tidak menunjuk orang lain tetapi terlebih dahulu merefleksikan apa yang telah saya perbuat.

Saya juga senang karena dapat mendapatkan pengetahuan baru tentang bagaimana mengukur suatu tindakan itu korupsi atau tidak. Yakni dengan membandingkan tindakan tertentu dalam segi tama (baik), teka (timbang/solusi), dan mali (buruk). Penyelesaian setiap tindakan pasti ada jika kita mencoba mencerna keadaan baik buruknya serta jalan tengah yang bisa diambil.

Dalam sesi ini saya juga berdinamika dengan kelompok melalui penampilan drama yang kami tunjukan berkaitan dengan kasus polisi yang disuap oleh pengendara yang melanggar lalu lintas. Dengan melihat penampilan kelompok lain, saya juga tersadarkan akan pentingnya kecermatan dalam memilah hal baik dan buruk dalam kehidupan sehari-hari.

Aksi
Setelah berefleksi, saya dan teman-teman diajak untuk berjanji melakukan aksi nyata anti korupsi. Pedoman yang diberikan melalui pilar kasih Ignasius juga sangat membantu saya dan memotivasi diri untuk bisa sedikit demi sedikit memenuhinya, seperti tidak melekat dengan materialisme, tetap berdoa di tengah keramaian, kewaspadaan, dan keinginan diri sendiri untuk tidak korupsi.

Saya sangat setuju bahwa selama ini banyak orang berani mempertanggungjawabkan pekerjaan mereka, tetapi lupa untuk turut bertanggung jawab pada hasil dari pekerjaan itu sendiri. Seperti yang dikatakan, buah yang baik berasal dari pohon yang baik, karena itulah saya harus bisa menjadi pohon yang baik yang bisa membuahkan karya-karya hidup yang baik.

Kami juga diminta untuk mengisi lembar rencana integritas pribadi, yang telah dipersembahkan sebagai harapan dan doa kami dalam misa peneguhan. Dan dengan diakhirnya seminar lokakarya tersebut, saya mendapatkan berbagai pengalaman baru dan tentunya perjumpaan dengan orang-orang hebat yang menginspirasi. Saya juga bersyukur bisa berjumpa dengan teman-teman dari Atmajaya dan bersama-sama melanjutkan niat kami untuk berbuat lebih baik.

Saya sadar, saya tak perlu berkoar-koar pada dunia dengan janji besar tentang anti korupsi yang mungkin tidak terwujud. Karena dengan berusaha untuk tetap menjadi pribadi yang jauh dari korupsi setiap hari, dari hal-hal kecil yang saya lalui setiap hari, akan menjadi akar yang kuat bagi saya untuk bisa meningkatkan integritas pribadi.

Ya, saya harus bersabar untuk bisa bertumbuh dalam pribadi yang lebih baik. Namun tak apa-apa, karena sekarang saya lebih yakin untuk menikmati setiap momen dalam perjalanan panjang tersebut.

Saya siap untuk mengambil hikmah dalam setiap pemberhentian, menerima harapan dalam setiap perjumpaan, serta memegang harapan dalam setiap persimpangan. Karena saya tidak sendiri, saya tidak akan pernah sendiri. Tuhan, Gereja, keluarga, sahabat dan masyarakat akan terus berkarya dan bekerja keras untuk membangun dunia yang lebih baik lagi, yang bebas dari korupsi dan ketidakadilan. ¬

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here