Layakkah Aku Menjadi Penopang Kaki-Mu: Belajar dari Anak Keledai, Mt 21: 1-11

0
344 views
Minggu Palma

APA pengalaman masa kecilmu yang bersentuhan langsung dengan Minggu Palma? Pertanyaan ini menghantar saya ke pengalaman masa kecilku waktu di kampungku Wukir.

Wukir, selain alamnya yang kaya, tidak hanya hijaunya padi di dataran Gising atau kuningnya padi ladang di waktu menjelang Paska; tidak hanya warna jagung muda yang kini berubah menjadi kuning emas, yang sebentar lagi oleh nyonya-nyonya cantik desa diubah menjadi “rebok“ atau dalam bahasa setempat “Lenga“: ada Lenga Ndawa, Lenga Paskah dan beragam nama lainnya.

Lenga ini dicampur dengan gula pasir, tidak hanya nikmat untuk lidah manusia, tapi juga menjadi incaran pasukan khusus, yang karena kehebatan indranya, bisa menembusi rumah bertembok sekali pun.

Pasukan ini oleh masyarakat setempat bernama “Malar“: ada yang hitam dan ada yang merah.

Wukir, diapiti oleh pegunungan indah, ada Golo Qui, ada Golo Utur, Golo Sumbu dan golo-golo lainnya. Di sanalah pohon-pohon palma muda tumbuh. Segar, hijau.

Tugas kami anak-anak adalah membawanya ke Pastoran Wukir untuk menjadikannya daun kemenangan, daun kemuliaan, hijaunya sebagai simbol keabadian.

Setelah Pastor paroki menjelaskan artinya daun Palma dan mengapa daun itu dipakai oleh orang Israel untuk menjemput Yesus, kami pun seperti orang Israel berarak gembira menuju Gereja Paroki dengan palma di tangan sambil bernyanyi: “Hosana bagi Putra Daud! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan! Hosana di tempat yang mahatinggi!”

Tradisi prosesi Minggu Palma ini tetap hidup sampai saat ini, masih berlangsung di berbagai belahan bumi.

Hari ini, Minggu Palma 2020, ketika dunia harus “dibius“ untuk mematikan langkah penyebaran virus corona, tradisi prosesi Minggu Palma di Gereja Latin yang sudah ada sejak pertengahan abad ke-9 ini, demi tanggungjawab dan solidaritas Gereja Katolik terhadap kesehatan masyarakat, ditiadakan.

Keledai dalam tradisi

Mungkin banyak dari kita tidak tahu, bahwa dalam tradisi Gereja, tidak hanya daun palma, yang simbolnya sampai saat ini begitu kuat pada Minggu terakhir masa Puasa ini, tapi juga keledai.

Pada Abad Pertengahan, di Eropa, ada kebiasaan saat prosesi Pastor menunggang keledai yang masih hidup.

Tapi karena keledai sering “tidak jinak“, mereka menggantikannya dengan keledai dari kayu dan patung Yesus.

Keledai dalam tinjauan biblis

Kisah Yesus menunggang keledai ini bermula dari nubuat yang tertulis dalam Zakharia 9,9: “Bergembiralah, wahai puteri Sion! Bersoraklah, wahai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu! Dia adil, pembawa kemenangan, Dia rendah hati, dan menunggang seekor keledai, seekor keledai muda.“

Bagaimana peran keledai dalam sejarah bangsa Israel?

Dalam Alkitab, keledai adalah binatang yang dipakai untuk membawa, menarik barang dan mengangkut orang. Keledai adalah binatang yang dapat dipakai di semua medan, termasuk yang paling sulit sekali pun.

Dalam tradisi Kitab Suci menunggang keledai bukan tanda kemiskinan atau kesederhanaan. Selama berabad-abad keledai adalah simbol kebangsawanan Israel.

Keluarga Daud, misalnya dalam 2 Samuel 16:2, selalu menunggangi keledai. Raja yang baru diurapi selalu menunggang keledai putih dan jinak.

Dalam nyanyian Debora (Kitab Hakim-hakim 5:1-31), nyanyian kemenangan satu-satunya perempuan yang menjadi hakim Israel ini setelah mengalahkan Sisera, dikatakan secara khusus binatang yang ditunggangi Debora yakni keledai betina putih (ayat 10).

Dalam Kitab Keluaran, disebutkan secara istimewa keledai di mata Tuhan. Binatang ini dilarang kerja di hari Sabat. Bahkan aturan untuk mempersembahkan anak keledai jantan pertama sebagai persembahan kepada Tuhan, dibatalkan dalam Keluaran 13:13.

Domba dipilih untuk menggantikan keledai.

Yesus pun dalam perarakanNya masuk Israel menunggangi keledai. Dalam Markus 11:2 hanya disebutkan seekor keledai muda yang tertambat. Matius menulis bahwa Yesus membutuhkan induk dan anak keledai.

Untuk apa? Tidak disebutkan. Hanya di jelaskan bahwa Yesus menaiki keledai dan orang-orang „menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan“ (Mat. 21:8).

Apakah sorakan pujian dari orang banyak ini menjadi motor penggerak Yesus untuk memulai demonstrasi kekuasaan di Yerusalem, dimana Ia dengan sadar mengambil posisi oposisi melawan tradisi religius administratif yang berkuasa di Yerusalem?

Matius, sekurang-kurangnya menggambarkan langkah “religius-politis” Yesus ini setelah Ia tiba di Yerusalem, yakni mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah.

Matius yang kenal baik tradisi Yahudi ini memaklumatkan bahwa Raja Damai, yang menunggang keledai ini, adalah raja keselamatan yang telah lama diharapkan, sesuai dengan tradisi kuno, untuk menghilangkan “kuda-kuda” dari Yerusalem, yang adalah simbol perang, main kuasa, hidup mewah dan berfoya-foya.

Yesus, dengan menunggangi keledai memenuhi harapan ini (Zakharia 9: 9-10, Matius 21:1-9).

Tapi maklumat “kemahakuaan dan kebesaran” Yesus ini gagal ditanggapi oleh orang Israel, yang ingin menjadikan Yesus penguasa politis impian mereka. Kegagalan diplomasi politis oleh kaum Israel ini, menjadikan teriakan “Hosana Putera Daud“, dalam hitungan hari menjadi “Salibkan Dia!“

Dimanakah keledai yang ditunggangi Yesus?

Kisah keledai betina dan anaknya berakhir dengan naiknya Yesus yang berasal dari Nasareth ini di atas keledai. Setelah itu cerita induk dan anak keledai ini hilang begitu saja. Kemanakah kedua binatang itu?

J. Gnilka, menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan bahwa Matius menggunakan keledai sebagai “tempat Yesus berkuasa.”

Keledai betina adalah simbol “Kursi Takhta“ Yesus. Lalu anak keledai? Sebagai penahan kaki, penopang kaki.

Semoga di Minggu Palma ini, kalau pun kita tidak bisa meletakkan pakaian di jalan untuk memuji Yesus, kalau pun kita belum bisa menerima kenyataan untuk mengakui kekuasaan Tuhan dalam melawan virus ajaib corona ini (sehingga kita tidak bisa berteriak “Hosana Putera Daud!”), kalau pun kita tidak bisa menjadi keledai betina, untuk dipakai Yesus menunjukkan kuasa dan keagunganNya, jadilah anak keledai.

Mungkin bisa menopang kaki Yesus, untuk bersamanya ke Getsemani, ke Golgota dan pada akhirnya berjumpa dengan Dia di Galilea dan di Yerusalem baru. **

Selamat memasuki Minggu Sengsara.

“Selama manusia berpikir bahwa keledai tidak memiliki rasa, keledai harus merasakan bahwa manusia tidak bisa berpikir.“ (NN)

PS:

  • Rebok, bahasa Manggarai, dalam bahasa Pae/Razong, Wukir berarti lenga, yaitu jagung “tua” yang digoreng lalu ditumbuk untuk menjadi tepung.
  • Malar: bahasa Pae/Razong, artinya semut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here