Lentera Keluarga – Pemimpin Yang Mawas Diri

0
173 views

Tahun C-1. Pekan Biasa XXIII
Jumat, 13 September 2019. PW. St Yohanes Chrisostomus.
Bacaan: 1 Tim 1:1-2.12-14; Mzm 16:1.2a.5.7-8.11; Luk 6:39-42.

Renungan:

DALAM Injil hari ini, Tuhan Yesus mengajak para pemimpin religius untuk mawas diri. Jangan jadi orang buta atau jadi orang yang hanya awas dan teliti  atau bahkan penuh penafsiran pada hidup dan penghayatan agama orang tetapi tidak mawas diri. “..Hai orang munafik, keluargkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu”. Secara positif Tuhan Yesus mengajak untuk mawas diri. 

Konflik perkawinan dan keluarga sering mengantar kita untuk jatuh dalam kesalahan yang sama yaitu :”saya merasa tahu suasana hati pasangan saya”, “tafsiran saya benar”, “apapun yang dilakukan pasangan itu sengaja melukakan hati” dlsb. Kita menjadi lebih teliti pada perkataan, perbuatan dan kebiasaan pasangan dengan maksud untuk membenarkan apa yang kita pikirkan atau yakini tentang pasangan kita. Penyelesaian konflik perkawinan atau keluarga diawali dengan kesadaran awal yaitu mawas diri: sadar pada keyakinan kita pribadi apakah keyakinan itu benar atau salah, sadar akan perasaan kita, sadar akan perilaku kita, dan sadar akan niat-niat kita sendiri. Sebelum kita berbicara mengenai persoalan atau tema konflik yang mendasar. Penyelesaian konflik stagnan dan tidak bisa berjalan selama proses kesadaran diri ini tidak muncul atau orang mengeraskan diri dengan penafsirannya. Jika dua-duanya melakukan hal yang sama, maka konflik dan persoalan akan semakin melebar dan mendalam. 

Semakin besar kuasa yang kita terima, apalagi ditambah dengan kebutuhan harga diri yang tinggi, semakin kita harus waspada. Di tangan kita ada pribadi-pribadi yang tidak paham, tidak mengenal situasi dan persoalannya. Jangan sampai terjadi kita yang buta karena keyakinan yang salah, buta karena emosi mengantara orang-orang yang kita pimpin untuk mengikuti kita. Kembali lagi Tuhan mengundang kita pentingnya “melek”, “mawas diri” supaya setiap arah yang kita ambil untuk orang-orang yang menjadi tanggungjawab kita, kita putuskan dengan kejernihan budi dan hati. 

Kontemplasi:

Gambarkan bagaimana Yesus mengingatkan murid-muridNya dengan kritik yang Ia sampaikan terhadap para pemimpin agama. 

Refleksi:

Apakah aku mudah curiga dan berkeyakinan buruk pada orang lain dalam keluargaku? Bagaimana aku membiarkan diri dipimpin oleh Roh Kudus untuk mawas diri?

Doa: 

Ya Bapa, semoga hati, perasaan dan pikiran kami tetap jernih untuk membantu saudara-saudara kami hidup dalam kebenaran iman. 

Perutusan:

Marilah kita berlatih untuk mawas diri dan mengembangkan hati yang jernih. 

(Morist MSF)- www.misafajava.org

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here