Lentera Keluarga – Tanggungjawab Moral

0
165 views

Tahun A-2. Pekan Biasa VI
Minggu, 16 Februari 2020. 
Bacaan: Sir 15:15-20; 1 Kor 2:6-10; Mat 5:17-37.

Renungan:

KITAB Sirahk dengan indah mengungkapkan di satu sisi kekuasaan Tuhan dan di lain sisi kebebasan manusia,“ Mata Tuhan tertuju kepada orang yang taqwa kepadaNya. Dan segenap pekerjaan manusia  Ia kenal. Tuhan tidak menyuruh orang menjadi fasik, dan tidak memberi izin kepada siapapun untuk berbuat dosa.” Sirah mengatakan bahwa hidup baik dan buruk itu adalah pilihan kita; Allah tidak pernah menyuruh orang menjadi fasik atau memberi ijin untuk berbuat dosa.  Apa itu orang fasik? Orang fasik itu adalah: orang yang menciptakan pertikaian dan kebingingungan (2 Pet 3:16); orang yang pandai berbicara dan suka menyanjung untuk mengelabuhi (Rm 16:17-18); orang yang haus kendali, dan otoritas tertinggi adalah diri sendiri (Mzm 73:6-9); orang yang memanfaatkan simpati orang yang berniat baik (Yud 1:4) dan orang yang tidak punya belas kasih dan merasa bersalah (Rm 1:30-31). Semua ini dilakukan karena kebebasan kita manusia.

Tuhan Yesus mengajarkan kepada para murid untuk memilih cara hidup benar, lebih benar dari orang farisi dan ahli Taurat pada jaman itu, yang hanya berpangkal pada rumusan tetapi tidak pada inti dasarnya. Cara hidup keagamaanpun adalah pilihan. Jangan pernah salahkan Tuhan kalau kita salah memahami perintah Allah. 

Orang yang suci hidupnya seharusnya mempunyai cara hidup bermoral bermoral. Tetapi tidak semuanya seperti itu. Sebagian dari kita kadang lebih sering sengaja bertindak “tidak benar” dan baru ketika kita daa masalah, kita berdoa memohon bantuan Tuhan dan mau berbuat benar tetapi dengan maksud dibebaskan dari masalah dan tanggungjawab. Ini bukan beriman yang benar. Beriman yang benar adalah kita hidup benar, walaupun kadang kebenaran itu tidak mudah. Doa-doa yang kita panjatkan kepada Tuhan akan didengarkan Tuhan. 

Dalam hidup beriman pun demikian, kerap kali kita mengatasnamakan Allah untuk melakukan perbuatan yang buruk: meninggalkan keluarga, menjual harta, melakukan kekerasan, melakukan pengguguran, tipu menipu, mencari uang dengan cara tidak benar dll. 

Kekudusan hidup itu terwujud dalam pilihan kita untuk melakukan hal yang benar, yaitu melakukan perintah Allah dengan hatinurani yang jernih. Doa, ibadat dan pengetahuan iman kita menjadi ada maknanya ketika kita semaksimal mungkin mencari dan melakukan tindakan yang benar dan baik. 

Kontemplasi:

Gambarkanlah pilihan Tuhan Yesus dalam menghidup dan mempraktekkan ajaran iman.

Refleksi:

Apakah aku menjalankan panggilan kekristenan itu juga dalam cara hidup dan keputusan-keputusan hidup yang benar? 

Doa: 

Ya Bapa, semoga hatinuraniku semakin jernih dan tindakanku selaras dengan kehendakMu. 

Perutusan:

Belajarlah hidup benar dan tunjukkan iman anda dengan perbuatan yang bermartabat. 

(Morist MSF)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here