Memahami Trihari Suci: Jumat Agung, Tanpa Tanda Salib dan Perayaan Ekaristi (2)

0
592 views
Pentas drama tablo kisah sengsara Yesus di Stasi St. Yosef Argosari di Sepinggan, Balikpapan oleh Komka Paroki St. Klement 1 Keuskupan Agung Samarinda, Kaltim. (Ist)

INI soal triduum (Trihari Suci) dan Minggu Paskah, khususnya Jumat Agung

Mengapa disebut Jumat Agung, apalagi dalam bahasa Inggris malah disebut “Good Friday”?

Mestinya, Jumat yang bagus, yang baik, yang indah.

Memang kata good dalam bahasa Inggris berarti bagus, baik. Tetapi, makna yang dikandungnya ialah kekhususan hari Jumat di mana diperingati wafat Tuhan. Bagi orang Indonesia, hari Jumat itu adalah sebuah hari yang agung, besar dan mulia.

Malah lebih dari sekedar baik, bagus dan indah.

Namun, ada dugaan bahwa Good Friday yang digunakan dalam bahasa Inggris, itu sesungguhnya berasal dari kata God’s Friday: hari Jumatnya Tuhan. Atau bahkan ada yang mengatakan bahwa dahulu kala, kata good itu bermakna kudus, suci, holy; karena itu sama dengan Holy Thursday, Holy Saturday, begitu juga Holy Friday = Good Friday.

Apa sesungguhnya yang terjadi pada hari Jumat Agung, hari wafat Tuhan tsb?

Menurut data Kitab Suci, pada hari Jumat ini, Yesus:

  • Dihadapkan pada Pilatus di pagi hari, lalu dikirim kepada Herodes, dan kembali ke Pilatus.
  • Yesus mulai dihina, disesah; Barabas dibebaskan ganti Yesus; Yesus dimahkotai duri dan dihukum mati.
  • Jalan salib dimulai; Yesus menghibur wanita-wanita yang meratap; Dia disalibkan di Golgota, diapit dua penyamun.
  • Ia mengampuni para algojo, menyerahkan Maria kepada muridNya, menjanjikan firdaus bagi penyamun yang bertobat; mengucapkan tujuh kalimat terakhir, lalu wafat

Tambahan:

  • Terjadi kegelapan diseluruh bumi; disertai gempa bumi yang dahsyat; tirai kenisah terbelah dua.
  • Seorang serdadu menikam lambung-Nya;
  • Yosef dari Arimatea dan Nikodemus menghadap Pilatus minta izin memakamkan jenazah Yesus;
  • Maria memangku jenazah Yesus, sumber inspirasi patung Pieta [artinya belas kasihan: patung Maria memangku Yesus]; Yesus dimakamkan di kubur pinjaman; dijaga para serdadu.
  • Lebih lengkap, bacalah Mat  27:1-66; Mark 15:1-47; Luk  23:1-56 atau Yoh  18:28-19:42

Bagaimana kita merayakan Hari Jumat Agung?

Pagi hari, Gereja membuat ibadat Jalan Salib, mengenang jalan salib Tuhan. Ada yang menyebutnya via crucis [jalan salib] ada yang menyebutnya via dolorosa [jalan penuh derita].

Petang hari, tepat pada pukul 15.00, Gereja memperingati wafat Tuhan.

Ibadat Jumat Agung terdiri tiga bagian :         

  1. Ibadat Sabda dengan puncaknya Passio (Kisah Sengsara Yesus Kristus); biasanya dinyanyikan; dilengkapi kotbah singkat dan Doa Umat Meriah yang dinyanyikan.
  2. Ibadat Penghormatan Salib: kenangan syukur atas penebusan dengan mencium, menghormati salib Tuhan.
  3. Ibadat Komuni Kudus umat menerima buah salib yaitu penebusan dan persatuan dengan Yesus Kristus yang dipersembahkan di atas altar Golgota melalui komuni kudus.
Umat Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa, saat prosesi penyembahan Salib pada Jumat Agung. 19 April 2019. (Komsos/Purwo).

Catatan

  • Hari Jumat Agung ini juga ditandai dengan hari puasa dan pantang wajib. Hari ini juga adalah hari hening, teduh, doa. Dianjurkan tidak ada musik-musik, acara tv atau acara-acara hiburan di rumah keluarga katolik. Di gereja pun, sepanjang hari ini tidak ada iringan musik apa pun, tidak ada bunyi lonceng gereja sekalipun, tanda Gereja berduka.
  • Upacara Jumat Agung diawali dengan prosesi oleh imam dan putera-puteri altar. Di depan altar,  mam tiarap, seluruh umat berlutut, selama beberapa menit, berdoa dalam hati, mengenang detik-detik wafat-Nya Tuhan dan penebusan umat manusia. Tiarapnya imam adalah lambang duka mendalam dari Gereja.
  • Upacara Jumat Agung tanpa Tanda Salib baik pada awal pun pada akhir.
  • Juga sakramen-sakramen Gereja tidak boleh dirayakan pada hari ini termasuk Ekaristi, kecuali Saramen Tobat dan Pengurapan Orang Sakit.

Mengapa imam tidak membuka ibadat jumat agung dengan Tanda Salib?

Memang benar, ibadat pada hari ini dibuka tanpa Tanda Salib. Begitu juga saat mengakhiri ibadat, imam memberi berkat penutup bukan dengan tanda salib, tetapi dengan doa tanpa berkat dengan membuat Tanda Salib seperti biasanya.

Mengapa? Karena pada saat itu, kita masih sementara merayakan Yesus yang sengsara dan wafat di salib.

Salib adalah tanda hukuman, kehinaan dan kebinasaan; baru sesudah kebangkitan atau kemenangan Tuhan, maka salib itu menjadi tanda keselamatan.

Nah, pada saat ibadat Jumat Agung berakhir, kita belum merayakan kebangkitan Tuhan, karena itu tanda salib tidak dibuat.

Pentas drama tablo kisah sengsara Yesus di Stasi St. Yosef Argosari di Sepinggan, Balikpapan oleh Komka Paroki St. Klement 1 Keuskupan Agung Samarinda, Kaltim. (Ist)

Nanti, pada malam vigili kebangkitan Yesus, saat Tuhan bangkit dan mengubah salib menjadi tanda keselamatan, tanda salib dengan mulia dan meriah kita gunakan. Karena itu, kita baru menggunakan tanda salib dalam liturgi kebangkitan Kristus.

Warna Liturgi apakah yang digunakan Gereja pada Hari Jumat Agung?

Imam menggunakan kasula berwarna merah sebagai tanda kemartiran dari Yesus Kristus Sang Martir Utama.

Sepanjang masa puasa kita menggunakan warna liturgi ungu untuk menekankan pertobatan kita; pada hari Minggu Keempat atau Minggu Laetare kita menggunakan warna liturgi pink  atau merah muda untuk mengungkapkan optimisme dan sukacita kita atas penebusan Kristus yang sudah mendekat, lalu Minggu Palma dan Jumat Agung menggunakan warna liturgi merah untuk mengenangkan sengsara dan kemartiran Yesus.

Mengapa tidak ada Perayaan Ekaristi, dengan konsekrasi/perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus?

Khusus hari ini, Gereja mempersastukan dirinya dengan kurban Kristus di atas salibNya di mana Ia memberikan tubuh dan darahNya untuk kita.

Maka, tidak ada Perayaan Ekaristi di gereja mana pun pada hari Jumat Agung ini. Umat menyambut komuni dari Sakramen Mahakudus yang telah dikonsakrir pada hari Kamis Putih.

Apakah hanya Ekaristi atau semua Sakramen Gereja tidak bisa dirayakan pada hari Jumat Agung?

Semua Sakramen Gereja tidak bisa dirayakan pada hari Jumat Agung ini termasuk Ekaristi, kecuali Sakramen Tobat dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit, demi keselamatan jiwa orang tersebut.

Semua sakramen lain baru dirayakan dalam kesatuan dengan Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus.

Umat Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa saat prosesi penyembahan Salib di Misa Jumat Agung. 19 April 2019. (FOTO DOK. KOMSOS PC-GIT/DODY)

Bagaimana dilakukan penghormatan terhadap salib dalam Ibadat Jumat Agung ?

  1. Penghormatan salib dimulai dengan perarakan salib oleh imam sambil membuka tutupnya, tahap demi tahap, diiringi seruan, lagu: “Lihatlah kayu salib, tempat Penyelamat dunia bergantung…” dan dijawab oleh umat dengan berlutut, sambil berseru: “Marilah, kita sembah.”
  2. Salib ditakhtakan di depan altar, umat secara pribadi diberi kesempatan untuk mencium salib.
  3. Catatan: mestinya hanya satu salib saja yang dipakai untuk penghormatan; karena pertimbangan pastoral banyaknya umat yang hadir, maka di beberapa gereja digunakan beberapa salib untuk dicium, dihormati oleh umat secara bersamaan. Gereja juga membuka kemungkinan penciuman atau penghormatan salib secara umum, bersama-sama, misalnya dengan berlutut sambil membungkukkan kepala, di tempat duduk masing-masing… Hal ini jika ada alasan yang dapat diterima; misalnya tahun ini dengan adanya bahaya wabah virus corona.

Apa saja yang baik dan bisa kita buat di rumah, sesudah ibadah pukul 15.00?

  • Pertahankan kesunyian dan keteduhan. Biarkan ada silentium magnum, hening total di dalam rumah.
  • Ambillah waktu untuk doa, novena Kerahiman Ilahi.
  • Berdoalah bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian dan kaum keluarga yang sudah meninggal, agar Firdaus dibukakan juga bagi mereka.
  • Ambillah waktu untuk membersihkan salib-salib dan patung-patung yang ada di rumah; mungkin ada yang sudah berdebu, dll.
  • Pada malam hari, kurangi lampu yang terang benderang; nyalakanlah lampu yang lebih terang di sekitar salib Tuhan.
  • Ambillah waktu membaca sendiri atau berbalasan dengan anggota keluarga: Mzm 22, Mzm 38, Mzm 51.

Derma umat Allah pada hari Jumat Agung, adalah termasuk collecta imperata [kolekte wajib]. Apa maksudnya? Bagaimana untuk tahun ini?

Kolekte pada hari Jumat Agung adalah kolekte wajib yang dikumpulkan di keuskupan dan setiap keuskupan mengirimkannya ke Duta Vatikan yang ada di negaranya, untuk diteruskan ke Holy Land, Tanah Suci Yerusalem, melalui wakil Bapa Suci untuk Holy Land, sebagai sumbangan solidaritas untuk pengembangan Gereja dan Umat Katolik di daerah ini.

Ini adalah wujud solidaritas Gereja seluruh dunia dengan Gereja yang ada di Tanah Suci.

Manakah dasar dari kolekte khusus ini? Paulus memuji kebiasaan mengirimkan bantuan, donasi bagi orang-orang kudus yaitu umat di Yerusalem, bdk 2 Kor 8,3-4.

Mengingat situasi kongkrit kebutuhan pastoral, iman, ekonomis dan pengembangan hidup menggereja saat ini di Holy Land, maka Gereja Universal setiap tahun memberi bantuan khusus bagi umat Allah di Holy Land, melalui derma hari Jumat Agung.

Untuk tahun ini, ketika kita mengadakan ibadat Jumat Agung secara live streaming, maka praktik kolekte wajib ini tidak bisa dijalankan seperti biasanya.

Paus telah menyetujui bahwa kolekte ini ditunda/dipindahkan pengumpulannya pada 13 September tahun ini, sehari menjelang pesta Salib Suci.

Salam IHS, In Hoc Signo, vinces!

Dengan berkat berlimpah dari Tuhan.

P. Terry dan Tim Komkat Keuskupan Manado

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here