Membangun Perjumpaan yang saling Menguntungkan

0
83 views
Ilustrasi: Untuk kesekian kalinya terjadi perjumpaan pribadi antara Dewi dengan Paus Fransiskus di Vatikan. Dewi adalah penggiat Komunitas GusDurian dari Semarang yang selama Februari-Juni 2019 mengikuti program studi beasiswa dari Nostra Aetate Fondazione PCID. (Dok. Dewi)

PERJUMPAAN dengan sesama mesti terjadi dalam suasana yang membahagiakan. Mengapa? Karena perjumpaan merupakan bagian yang penting dalam hidup manusia.

Suatu hari, terjadi pertengkaran yang sangat hebat antara dua bersaudara. Orangtua mereka telah membagikan warisan dengan sangat adil. Namun sang kakak ingin mendapatkan bagian yang lebih banyak.

Orangtua mereka sudah memberikan penjelasan, namun keduanya belum mau menerima.

Kata sang kakak berkata kepada adiknya, “Saya lahir lebih dulu. Jadi saya punya hak yang lebih banyak. Tidak peduli orangtua kita mau berlaku adil kepada kita.”

Sang adik menjawab, “Seharusnya yang lebih tua mengalah. Namun kamu tetap ngotot. Saya tidak akan memberikan bagian yang kamu minta.”

Pertengkaran pun terus-menerus berlangsung. Tidak ada yang mau mengalah. Bahkan sang kakak tidak mau bertegur sapa lagi dengan adiknya.

Ia tidak mau bertemu dengannya. Tidak ada maaf bagi sang adik. Padahal sang adik tetap saja ingin menyapanya dengan penuh kasih.

Tinggalkan egoisme

Perjumpaan yang tulus semestinya selalu terjadi dalam hidup ini. Mengapa? Karena hakekat kehidupan manusia adalah perjumpaan. Manusia dapat hidup dengan normal, ketika berjumpa dengan sesamanya.

Melalui perjumpaan itu, manusia dapat mengekspresikan dirinya. Manusia dapat membangun hidup sebagai makhluk sosial. Manusia mampu menemukan hidupnya sebagai mahkluk yang memiliki makna.

Kisah di atas menampilkan sisi kehidupan yang kurang normal. Manusia menolak perjumpaan dengan sesamanya. Padahal sesamanya itu adalah saudaranya sendiri. Semestinya perjumpaan antarsaudara itu menyenangkan.

Namun sang kakak terhalang oleh kepentingan diri yang besar. Ia ingin memiliki harta warisan yang lebih banyak daripada adiknya.

Relasi yang baik mesti selalu dijaga dan dipupuk dalam hidup ini. Relasi yang baik memberi kemungkinan kepada manusia untuk memberi makna yang lebih pada perjumpaan.

Karena itu, yang dibutuhkan adalah orang mesti berani mengosongkan diri dari kepentingan-kepentingan sendiri. Orang mesti siap menerima kehadiran sesamanya dalam situasi apa pun.

Tentu saja hal ini dapat dilaksanakan, ketika orang menyertakan Tuhan dalam hidupnya. Orang berani memohon kehadiran Tuhan dalam hidupnya, sehingga mampu memberi kekuatan baginya untuk menjalani hidup ini.

Mari kita terus-menerus membangun relasi yang semakin baik dengan sesama. Dengan demikian, perjumpaan yang baik dan benar senantiasa terjadi dalam hidup yang nyata. Tetap semangat, sahabat Sonora.

Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here