Menerima Kritik demi Hidup Lebih Baik

0
108 views
Kekuasaan dan kritik politik by Ist

“PERHATIKAN musuh-musuh Anda, karena mereka yang pertama kali menemukan kesalahan Anda,” kata Antisthenes.

Seorang gadis sangat terkejut, ketika temannya membuka aib yang ada dalam dirinya. Selama ini, temannya itu selalu memberi perhatian yang baik kepadanya.

Namun ketika temannya itu menunjukkan aibnya, ia menjadi sewot. Baginya, sang teman itu telah mengkhianati dirinya.

Hampir sebulan ia tidak mau menegur temannya itu. Bahkan ia telah memblokir nomor HP temannya itu. Meski begitu, ia tetap rindu untuk bertemu dengan temannya.

Mengapa? Karena temannya itu telah membantu dirinya untuk berubah. Kini ia bisa menerima kenyataan dirinya dengan baik. Ia tidak perlu marah-marah lagi kalau diberitahu bahwa ia bukan anak kandung dari orang yang hidup dengannya.

Saat bertemu dengan temannya pada suatu siang di suatu pertemuan, ia mengucapkan terima kasih. Ia pun mengaktifkan kembali nomor HP temannya. Ia merasa kehilangan temannya itu.

“Saya mohon maaf atas keteledoran saya. Saya telah menjauhkan dirimu dari hidup saya. Kamu telah membantu saya untuk berubah. Saya sekarang mampu menerima diri saya apa adanya,” kata gadis itu.

Butuh hati terbuka

Pepatah mengatakan bahwa memiliki seribu teman terlalu sedikit, tetapi mempunyai satu musuh terlalu banyak. Namun dari segi positif, ternyata ‘musuh’ atau kompetitor menunjukkan apa yang kurang dalam diri kita.

Seorang teman baik segan menyakiti hati kita. Karena itu, teman baik senang memuji-muji diri kita, meski yang kita lakukan belum tentu benar.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk senantiasa menerima kritikan dari orang lain terhadap diri kita. Gadis itu menyadari bahwa temannya itu ternyata membantu dirinya untuk menerima kenyataan dirinya apa adanya. Ia semestinya tidak marah. Ia semestinya tidak perlu kehilangan temannya itu.

Riset yang dilakukan oleh Mark Landau dari University of Kansas, Amerika Serikat, menyatakan bahwa memiliki musuh ternyata ada manfaat psikologisnya, yaitu meningkatkan arti hidup. Selain itu, seorang musuh atau kompetitor menunjukkan kelemahan yang ada pada diri kita.

Ketika kita mengetahui kelemahan atau kekurangan diri kita dari orang lain, kita berusaha merubahnya. Kita tidak tenggelam dalam kelemahan atau kekurangan kita itu. Namun hal ini butuh suatu keterbukaan hati untuk menerima kritik atau koreksi dari orang lain.

Mengapa? Karena banyak orang marah ketika ditunjukkan kelemahan-kelemahannya. Mereka merasa diri sebagai orang-orang yang sempurna. Padahal tidak ada makhluk yang sempurna dalam hidup ini.

Untuk itu, yang dibutuhkan adalah kerendahan hati untuk menerima setiap kritik dan teguran dari orang lain. Kritik dan teguran mesti ditanggapi secara positif demi perbaikan dan perubahan diri kita.

Tetap semangat, sahabat-sahabat. Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here