Menjadi Roti Hidup

0
164 views
Perayaan Ekaristi di pinggiran rumah berumbai di Ngalu, Waingapu, Sumba Timur, Keuskupan Weetebula. (Gatot Sena)

1Raj 12:26-32;13:33-34 dan Mrk 8:1-10

SEGALA karya kasih dimulai dari dan karena hati yang tergerak oleh belas kasihan. Yesus memberi makan empat ribu orang dengan menggandakan tujuh roti karena belas kasihan: “Hatiku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini.”

Yesus mengajak kita untuk melihat situasi dan keadaan di sekitar kita dengan mata hati, mendengar keluh kesah dengan hati yang penuh belas kasih.

Belas kasih dari hati, mesti diwujudkan melalui tindakan: memberi makan. Tugas murud-murid Yesus adalah memberi makan orang yang lapar, memberi perhatian kepada yang menderita dan bersusah.

Bacaan Injil hari ini juga melukiskan tentang ekaristi. Yesus mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid.

Para murid harus memecah-mecahkan diri melalui pelayanan penuh cinta kasih.

Dengan ini, para murid diajak menjadi ekaristi yang hidup, menjadi roti yang terpecahkan dan terbagikan.

Hanya dengan hati yang peka dan berbelas kasih terhadap sesama, melalui hati yang rela berkorban dan berbagi, setiap murid Yesus sanggup menjadi Ekaristi yang hidup bagi sesama. Perayaan ekaristi selalu ditutup dengan tugas perutusan: ite missa est, misa telah selesai.

Pergilah kita diutus. Maka, setiap kali menerima Ekaristi, murid Yesus hendaknya siap diutus menjadi roti yang hidup bagi orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here