Myanmar Belajar dari Indonesia tentang Pergeseran Tren Jenis Narkoba

0
97 views
Peserta Open Society Foundationdi Yayasan Sekar Mawar. (Anastasa Cakunani)

MYANMAR memiliki keprihatinan yang sama dengan Indonesia dalam menghadapi masalah penyalahgunaan narkoba  (NAPZA). Hal itu terungkap dalam diskusi dan tanya jawab ketika rombongan Lembaga Masyarakat dari Myanmar berkunjung ke Panti Rehabilitasi NAPZA milik Yayasan Sekar Mawar Keuskupan Bandung (1/10/2018).

Kunjungan tersebut merupakan kerjasama dari ‘Perkumpulan PEKA’ dengan ‘Open Society Foundation’ dan  Lembaga-lembaga Masyarakat di Myanmar yang bergerak di bidang Pemberantasan Opium.

Myanmar adalah negara penghasil opium terbesar kedua di dunia setelah Afganistan. Negara itu menghasilkan 25% dari opium di dunia. Sebagian besar produk domestic brutto (GDB) di Myanmar disumbang oleh produksi  opium. Wilayahnya menjadi bagian dari Segitiga Emas Dunia (Golden Triangle) Ref: https://wikipedia.org

Ada empat imam Katolik dan pendeta Buddhist ikut dalam program ini.

Opium merupakan bahan dasar pembuatan morfin dan heroin yang di Indonesia dikenal dengan istilah putaw. Sekitar tahun 2015 tren  jenis obat yang beredar di pasaran beralih dari putaw ke Amphetamine Tipe Stimulant, yang di Indonesia dikenal dengan nama sabu-sabu. Pergeseran tren obat tersebut berdampak pada penurunan jumlah penanaman opium di Myanmar, meskipun demikian jumlah permintaan putaw secara regional cenderung stabil.

Lembaga Masyarakat di Myanmar ini berkunjung ke Indonesia untuk belajar dengan Lembaga Swadaya Masyarakat di Indonesia yang menurut mereka sudah lebih terbuka wawasannya dalam menangani ‘orang dengan gangguan penggunaan zat’ (pecandu narkoba).

Selain Panti Rehabilitasi Sekar Mawar , tim juga mengunjungi  Rumah Singgah PEKA di Bogor, Yayasan Karisma di Jakarta, dan Kios Atmajaya Jakarta. Tiga lembaga terakhir ini merupakan lembaga yang menggunakan metoda yang serupa dengan mereka, yaitu pendekatan “Harm Reduction”.

Yayasan Sekar Mawar dipilih karena lembaga ini didukung oleh sebuah Keuskupan dan memakai metode pemulihan  Therapeutic Community  (TC). Bagi mereka, TC masih merupakan hal yang baru sebagai metode pemulihan.

Rombongan dari Myanmar tersebut  juga  tertarik dengan Yayasan Sekar Mawar, karena mereka juga memiliki latar belakang religi. Di antara peserta  terdapat pastor Gereja Katolik dan juga pendeta Buddhist.

Paparan materi oleh staf Yayasan Sekar Mawar.
Saatnya tanya jawab dan diskusi.

Dalam kunjungan tersebut,  mereka mendapatkan penjelasan tentang profil lembaga, karya pelayanan  dan metode pemulihan Therapeutic Community.  Banyak pertanyaan muncul terutama mengenai situasi penyalahgunaan NAPZA di Indonesia, cara penanggulangan, hambatan yang muncul, serta cara-cara mengatasinya.  Penanganan dampak narkoba jenis heroin juga banyak dilontarkan, seperti penyakit HIV/AIDS, Hepatitis B dan C yang diakibatkan karena penggunaan jarum suntik yang tidak steril.

Delegasi Myanmar menikmati suguhan menu makanan khas Sunda.
Delegasi Myanmar dan staf Yayasan Sekar Mawar.

Amphetamine Type Stimulant yang di Indonesia dikenal sebagai sabu di Myanmar dikenal dengan istilah Yama atau Yaba. Efek penggunaan narkoba jenis ini  salah satunya adalah adanya gangguan kesehatan mental.  Diperkirakan  5-10 tahun ke depan akan banyak orang mengalami gangguan mental seiring dengan maraknya peredaran narkoba jenis stimulan ini.  Pasar obat regional telah berubah, oleh karena itu pemerintah dan lembaga-lembaga masyarakat perlu mengubah cara dalam menghadapi persoalan yang muncul akibat pergeseran trend obat tersebut.

Anastasia C.
Yayasan Sekar Mawar – Keuskupan Bandung
Rehabilitasi NAPZA – Therapeutic Community Center

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here