Patung St. Yusuf Setinggi 5M Tandai Pesta 95 Th Pemberkatan Gereja Jago St. Yusuf Ambarawa

0
1,073 views
Ilustrasi: Prosesi acara pemberkatan ppatung St. Yusuf di Gereja Jago Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jateng. (Ivan Darmawan Prajogo)


INILAH pesta peringatan 95 tahun pemberkatan Gereja Jago Santo Yusuf Ambarawa yang dahulu kala dilakukan oleh Romo Adrianus van Kalken SJ.

Perayaan HUT ini ditandai antara lain dengan acara pemberkatan patung Santo Yusuf setinggi 5 meter, juga patung Yesus setinggi 2,5 meter.

Pemberkatan kedua patung besar ini dilakukan oleh Provinsial Serikat Yesus Provinsi Indonesia Romo Petrus Sunu Hardiyanto SJ.

Hari Minggu, 28 April 2019, tepat pukul 07.30, lonceng Gereja Jago mulai dibunyikan dan umat Paroki Santo Yusup Ambarawa mulai masuk untuk mengikuti Perayaan Ekaristi.

Misa perayaan 95 tahun pemberkatan Gereja Jago Santo Yusuf Ambarawa dan pemberkatan patung Santo Yusuf dan patung Yesus ini dipimpin langsung oleh Romo Petrus Sunu Hardiyanta SJ sebagai selebran utama dan didampingi oleh Romo JB Dwijo Atmoko SJ (Pastor Kepala Paroki Santo Yusup Ambarawa), bersama tiga orang imam lainnya yakni Romo Th. Surya Awangga SJ, Romo Al. Suryawasita SJ, Romo I. Suryadi Prajitno SJ.

Perayaan Ekaristi ini juga diiringi paduan suara bersama alat musik tradisional angklung dari siswa-siswi TK Virgo Maria 1 Ambarawa.

Dalam homilinya, Romo Provinsial SJ ini menyampaikan antara lain menyampaikan dialog sebagai berikut:

  • Kapan dan di mana saya bahagia?
  • Kapan keluargaku didatangi Allah yang Maha Ramah dan Maha Rahim?
Misa konselebrasi bersama Romo Petrus Sunu Hardiyanto SJ — Provinsial SJ Provinsi Indonesia.
Potong tumpeng dan homili oleh Romo Provinsial SJ.

Dan Romo Sunu SJ pun lalu bercerita pengalamannya, ketika masih frater dan pernah menjalani peregrinasi (ziarah dengan berjalan kaki) ke Sumowono oleh Romo Pembimbing Novis SJ. Saat itu, bersama satu teman sesama Novis SJ, ia hanya boleh membawa jerigen; bisa tidur di jalan atau bisa juga menginap di rumah orang tapi harus “mengemis” lebih dahulu dengan minta izin.

Karena itu, Romo Sunu SJ lalu mendatangi tiap-tiap rumah. Beberapa rumah menolak, tapi ada seorang ibu hajjah yang justru mau menerima dia dan teman sesama Novis SJ, karena ibu tersebut tidak tega melihat dua frater novis SJ anonim itu tengah kepanasan seperti saat dia tengah naik haji di Mekkah.

Romo Sunu SJ pun berkata, “Di situlah seorang ‘Sunu’ bertobat.”

Di sana itu ada seorang ibu hajjah yang telah menampakkan kerahiman Allah dengan keramahannya.

Rahim adalah juga tempat kehidupan yang sangat nyaman dengan “keramahan”, maka terlihatlah “kerahiman” itu.

Seusai perayaan Ekaristi sebelum berkat penutup diadakan acara potong tumpeng yang dilakukan oleh Romo Petrus Sunu Hardiyanta SJ dan diberikan ke Pastor Kepala Paroki Santo Yusuf Ambarawa, tetapi kemudian tumpeng itu diberikan ke adik kecil murid TK Virgo Maria 1 Ambarawa yang menjadi solis.

Tumpeng untuk di adik kecil yang menjadi solois di misa peringatan HUT ke-95 tahun pemberkatan Gereja Jago St. Yusuf Ambarawa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here