Pelita Hati: 07.12.2018 – Iman yang Menyembuhkan

0
630 views

Bacaan Matius 9:27-31

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.” Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Maka meleklah mata mereka. Dan Yesus pun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: “Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini.” Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu.

SAHABAT pelita hati,

Ada yang menarik dari kisah penyembuhan dua orang buta ini. Ketika Yesus masih di jalan dua orang buta ini berteriak-teriak mohon belas kasih Yesus. Tuhan tak mempedulikan, namun kedua orang tetap mengikuti Yesus hingga masuk ke sebuah rumah. Di sinilah Yesus kemudian memberi tanggapan pada mereka. Dan proses penyembuhan terjadi setelah orang buta tersebut mengungkapkan imannya secara personal sebagaimana tergambar dalam dialog ini: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.” Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”

Sahabat terkasih,

Penyembuhan itu terjadi berkat iman kedua si buta. Penyembuhan itu terjadi dalam perjumpaan pribadi setelah orang mengungkapkan iman personalnya. Relasi personal dengan Tuhan menjadi kunci dan jawaban terhadap terjadinya mujizat Tuhan. Karenanya menghayati iman bukan karena ikut-ikutan tetapi merupakan penghayatsn pribadi. Iman itu bersifat personal.  Pertanggungjawabannya  pun bersifat pribadi. Maka pertanyaannya apakah saya sungguh beriman?

Sahabat terkasih,

Setelah melakukan penyembuhan Yesus melarang mereka agar tidak menceritakan kepada siapa pun juga. Tindakan mujizat Tuhan bukan untuk dipertontonkan dan dipamerkan  agar makin dikenal. Tindakan mujizat Tuhan harus disyukuri dalam iman bukan untuk menjadi bahan pembicaraan dan omongan. Terpenting dengan peristiwa mujizat itu orang makin beriman dan percaya karya mujizat-Nya  tetap berlangsung hingga sekarang. Syaratnya adalah percaya.

Hindarilah permusuhan,
agar hidup terasa nyaman.
Sungguh dahsyat mujizat Tuhan,
bagi yang sungguh beriman.

dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here