Pelita Hati: 18.04.2019 – Kasih Putih

0
521 views

Bacaan Yohanes 13:1-15
Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. (Yoh 13:12-15)

Sahabat pelita hati,

KASIH sejati bagaikan kain yang putih bersih, tak bernoda dan dikotori apa pun. Kasih sejati itu bersih dari keinginan dan nafsu pribadi. Kasih itu memberi diri, kasih itu merelakan dirinya diabdikan bagi seaama. Begitulah kurang lebihnya pesan yang ingin disampaikan Tuhan pada saat mengadakan perjamuan terakhir dengan keduabelas rasul-Nya. Perjamuan terakhir itu menjadi istimewa karena Tuhan melakukan tindakan yang tak lazim, Ia membasuh kaki keduabelas murid-Nya. Sebuah tindakan yang jauh dari akal sehat, karena seorang Guru sekaliber Yesus sewajibnya tak melakukan pembasuhan kaki yang lazim dilakukan oleh seorang budak. Inilah tindakan simbolis Tuhan untuk kasih putih-Nya para murid dan seluruh umat.

Sahabat terkasih,

Tindakan Yesus menanggalkan jubah lalu membasuh kaki para murid adalah sebuah teladan serta ajakan agar kita mau menanggalkan keangkuhan dan kesombongan kita demi sebuah pelayanan. Bukahkah Yesus rela menanggalkan keilahian-Nya untuk menjadi manusia bahkan rela menderita dan sengsara demi ketaatan-Nya kepada Bapa? Dengan kata lain, selagi kita masih mengandalkan kedudukan, jabatan dan keangkuhan,  pelayanan kita menjadi sia-sia. Jika kita masih mengagung-agungkan keangkuhan dan kesombongan kita takkan pernah mampu mengasihi Tuhan dan sesama dengan kasih paripurna, kasih putih. 

Sahabat terkasih,

Inti dari seluruh ajaran Tuhan adalah kasih dan kerendahan hati. Kasih yang sejati berarti rela menanggalkan ego diri demi kasih kita kepada Tuhan dan sesama. Di sinilah dibutuhkan kerendahan hati, sebagaimana dihayati Tuhab sepanjang hidup dan karya-Nya. Dan perjamuan terkahir di Kamis Putih menjadi puncak dari kerendahan hati-Nya. Semoga kita sungguh mampu meneladani Tuha, Sang Rendah Hati, Sang Kasih Putih.

Kamajaya dan Dewi Ratih,
kisahnya indah bertabur kasih.
Selamat merayakan Kamis Putih,
saat mengenang perjamuan cinta kasih.


dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here