Pelita Hati: 29.07.2018 – Yang Lemah Dipakai Tuhan

0
726 views

Bacaan Yohanes 6:1-15

Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya:¬† “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus: “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. (Yoh 6:8-11)

Sahabat-sahabat pelita hati,

KINI kita berjumpa dengan kisah Yesus memberi makan limaribu orang. Kisah ini cukup istimewa karena diceritakan oleh keempat penginjil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes). Pokok kisah adalah ada begitu banyak orang (5000 orang) yang berbondong-bondong mengikuti Yesus untuk mendengarkan pengajaran-Nya dan melihat karya mujizat-Nya. Bagaimana mereka harus dicukupi kebutuhan makannya? Singkat cerita Yesus mengerjakan mujizat atas lima roti jelai dan dua ekor ikan hingga mencukupi banyak orang bahkan berlebih. Namun di antara keempat penginjil Yohanes terasa paling istimewa karena si pembawa roti dan ikan itu adalah seorang anak kecil. Di mana letak istimewanya?

Sahabat terkasih,

Dalam tradisi kala itu, seorang anak kecil dan kaum perempuan dikategorikan sebagai kelompok lemah, tak berdaya dan tak diperhitungkan. Apa pesan dari peristiwa ini? Ternyata mujizat yang begitu besar itu terjadi berkat peran seorang anak kecil yang lemah dan tak diperhitungkan. Janganlah kita suka meremehkan atau mendegradasi orang-orang yang dianggap lemah. Bukankah karya penyelamatan dan penebusan melibatkan orang-orang yang dikategorikan lemah? Lihatlah Maria dan Elisabeth. Mereka adalah perempuan-perempuan sederhana yang dipilih Allah untuk menghadirkan penebus. Tuhan bisa memilih siapa saja untuk turut ambil bagian dalam karya besarnya tak terkecuali kita. Maka marilah kita selalu mensyukuri atas hidup dan panggilan kita sambil bersiap sedia untuk ‘dipakai’ Tuhan kapan saja dan di mana saja.

Indonesia tanah airku,
beribu pulau beragam suku.
Ya Tuhan pakailah hidupku,
sebagai alat-Mu seumur hidupku.

dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here