Pesparani Sumsel Sarana Merajut Militansi Persaudaraan (4)

0
142 views
Pembukaan Pesparani pertama Provinsi Sumsel di Palembang. (Kristina Rianawati)

WARNA-warni pakaian kontingen dari 21 paroki dan 48 sekolah mewarnai main dining hall, Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (26/10). Bersama Uskup Keuskupan Agung Palembang, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, selebran utama, dan 21 imam, sejumlah 2.000-an umat merayakan Ekaristi Pembuka Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik I Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Pesparani ditanggapi luar biasa oleh mereka yang terlibat. Umat dari paroki-paroki dan sekolah-sekolah menanggapi undangan panitia Pesparani Sumsel dengan sukacita.

“Semoga apa yang akan kita saksikan ini, sungguh menunjukkan bahwa kita sebagai umat Katolik, kita ingin membawa damai. Ingin menghargai sesama kita yang berwarna-warni di negara (Indonesia), juga di provinsi (Sumsel),” kata Bapak Uskup Mgr. Sudarso SCJ, mengawali homilinya pada Perayaan Ekaristi yang dimulai pukul 16.00 WIB itu.

Uskup Agung mengajak umat menghayati Sabda Kristus yang diwartakan dalam Injil hari itu.

Tuhan Yesus, tutur monsinyur, mencontohkan cara menghargai satu sama lain. Kristus mengumpamakan seorang Farisi dan pemungut cukai cara berdoanya berbeda. Sang Farisi berdoa dengan menyombongkan kebajikan yang telah dibuatnya, sedangkan pemungut cukai memukul diri, sembari memohon kerahiman Allah baginya.

“Jangan menunjukkan kehebatan kita, tapi kerendahan hati kita. Kita memohon kebutuhan kita, bukan menunjukkan bahwa kita lebih dari yang lain. Semoga Sabda Yesus juga mengajarkan kita untuk bersama-sama bersyukur dalam masyarakat,” pungkas uskup kelahiran Yogyakarta ini.

Oktober 2019, Bulan Misi Luar Biasa

Bertepatan dengan Bulan Misi Luar Biasa 2019, Mgr. Sudarso meminta umat Katolik Keuskupan Agung Palembang membangun militansi persaudaraan.

Suatu kesaksian, apabila seorang Katolik peduli sesamanya, tanpa pandang bulu.

“Kita harus memberi perhatian lebih kepada sesama, terutama terhadap mereka yang lemah, tidak berdaya, yang miskin,” pesan Uskup Sudarso SCJ.

Tentang Sumpah Pemuda yang akan jatuh pada penutupan Pesparani Sumsel, Senin (28/10), Uskup Agung berharap ini menjadi peristiwa yang menyatukan kebhinnekaan.

“Dalam Ekaristi ini, kita mohon Roh Kudus hadir menyatukan kita, agar satu nusa, satu bangsa, satu bahasa Indonesia, yang diperjuangkan para pemuda dahulu, membawa berkat dan menyatukan kita, umat Katolik di Provinsi (Sumsel) kita yang tercinta,” tutup Mgr. Sudarso.

Sebelum berkat penutup, para juri empat bidang lomba dikukuhkan oleh ketua Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Daerah (LP3KD) Sumsel, Dr. Hendro Setiawan dan diberkati oleh uskup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here