Politeknik St. Paulus Surakarta Torehkan MoU dengan Universitas Tiongkok

0
1,095 views
David Maharya Ardiantara Direktur Pengembangan dan Kerjasama Politkenik St. Paulus, Surakarta dan Zhang Dongye dari International Division Universitas Chengdu, Tiongkok.

POLITEKNIK St. Paulus, Surakarta berhasil menorehkan kerjasama dengan Universitas Chengdu, Provinsi Sechuan, Tiongkok dalam bentuk penandatanganan MOU. Penandatangan kerja sama itu terjadi di Kampus STMIK Bina Insani Bekasi, Minggu (17/4).

Kerjasama itu dijembatani SEAMOLEC (South East Asia Ministers of Education for Open Learning Center). Kerjasama itu  meliputi Program Gelar Ganda (Double Degree Program), Pemagangan dan Penempatan Kerja bagi para lulusan Politeknik St. Paulus Surakarta.

Demikian  penjelasan David Maharya Ardyantara, Direktur Pengemb

 David Maharya Ardiantara Direktur Pengembangan dan Kerjasama Politkenik St. Paulus, Surakarta dan Zhang Dongye dari International Division Universitas Chengdu, Tiongkok.

David Maharya Ardiantara Direktur Pengembangan dan Kerjasama Politkenik St. Paulus, Surakarta dan Zhang Dongye dari International Division Universitas Chengdu, Tiongkok.

angan dan Kerjasama Politkenik St. Paulus, menyusul penandatanganan MOU. Pihak Universitas Chengdu diwakili oleh Zhang Dongye selaku International Division dan Zhang Ziaoqian selaku Direktur Chengdu Textile College.

China Corner

Politeknik St. Paulus merupakan salah satu dari 70 perguruan tinggi dari seluruh Indonesia yang melakukan kerjasama dengan universitas tersebut. Ke-70 perguruan tinggi sepakat untuk membentuk konsorsium dan juga China Corner.

 Terkait dengan konsorsium, Politeknik St. Paulus Surakarta ditunjuk sebagai koordinator untuk wilayah Solo Raya yang  dikoordinasi oleh Kandi Firman Said, IT Head Politeknik St. Paulus, Surakarta. Konsorsium meliputi business center, care giver (pengasuh lansia) dan industri kreatif.

Sementara China Corner dibentuk sebagai jembatan maya dalam transfer ilmu serta teknologi dari perguruan tinggi Tiongkok dan Indonesia.

“Kerjasama ini dilatarbelakangi dengan munculnya Tiongkok sebagai negara terkuat kuat di Asia di samping Jepang dan Korea Selatan khususnya dalam bidang teknologi, investasi serta tenaga ahli. Tiongkok dengan jumlah penduduk 1,6 milyar dengan rata-rata jumlah 20.000 mahasiswa untuk tiap perguruan tinggi. Setiap tahunnya Tiongkok mengirim 40.000 mahasiswa ke seluruh penjuru dunia untuk menuntut ilmu. Hal tersebut dijadikan acuan bagi peningkatan mutu dan kualitas tata kelola akademik oleh Politeknik Santo Paulus Surakarta,” ujar David.

Kerjasama dengan Tiongkok ini diperlukan dan relevan bagi perguruan tinggi dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) serta dalam menghadapi persaingan dengan Perguruan Tinggi Asing yang mulai masuk Indonesia pada 2017.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here