Pulau Galang, Kepulauan Riau: The Boat People Asal Vietnam Membangun Asa di Indonesia

0
203 views
Pulau Galang - Perahu, Bunda Maria sisa peninggalan para pengungsi Vietnam alias The Boat People di Pulau Galang.

PESAWAT yang menerbangkan kami dari Palembang akhirnya berhasil mendarat dengan mulus. Senang rasanya setelah sekian lama hanya bisa mendengar cerita kawan tentang kota ini, akhirnya kini saya bisa menjejakkan kaki di Kota Batam.

Cuaca pagi pada Selasa (26/2) pekan lalu tampak cerah dan bersahabat, angin cukup kencang bertiup.

“Selamat datang di Kota Batam”, begitu kata seorang sopir taksi sembari mencoba menawarkan jasa angkutan kepada salah satu penumpang pesawat sesaat setelah keluar dari pintu ruang kedatangan di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau.

Pulau Galang di mana dulu pernah menjadi refugee camp sebagai lokasi penampungan permukiman para pengungsi Vietnam –the Boat People– sebelum mereka boleh pergi ke negara lain yang bersedia menerima mereka asylum seeker untuk kemudian memperoleh kewarganegaraan baru di negara tujuan.

Jembatan Barelang menuju Pulau Galang

Ada banyak cerita yang pernah saya dengar tentang Batam. Di antaranya ada yang bercerita tentang Jembatan Barelang (Batam, Rempang, Galang) sebagai salah satu landmark yang wajib dikunjungi ketika di Batam.

Ada juga yang bercerita tentang Batam sebagai sebuah kota dengan jumlah kasus illegal human trafficking yang cukup memprihatinkan.

Ada pula yang bercerita tentang sebuah tempat tak jauh dari Batam yang dulu pernah menjadi lokasi pengungsian The Boat People alias “Manusia Perahu” dari Vietnam, itulah Pulau Galang.

Tujuan pertama adalah Pastoran Paroki Kerahiman Ilahi Tiban.

Romo Paskalis Saturnus Esong yang kini menjadi Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Pangkalpinang, melalui pesan WA ,mengatakan bahwa akan ada yang menjemput. Namanya Bang Edi.

Tak lama berselang pria dengan kacamata hitam yang bertengger erat di atas kepalanya itu datang dengan mengendarai mobil bercat hitam kesayangannya. Secara fisik, rambut dan kulitnya dengan jelas menegaskan bahwa ia bersal dari Flores, Nusa Tenggara Timur.

Perjalanan  menyusuri jalanan Batam yang tampak mulus dan teduh karena banyak dihiasi oleh pepohonan hijau nan rindang pun dimulai.

Beginilah suasananya the Boat People yakni rinbuan para pengungsi politik dari  Vietnam memaksa diri harus pergi mengungsi meninggalkan negaranya untuk bisa berlabuh ke negara lain dan akhirnya terdampar diPulau Galang, Indonesia.

Setelah sejenak berkeliling, akhirnya kami sampai di Pastoran Paroki Kerahiman Ilahi, Tiban. Romo Paskalis tampak sudah menunggu dan segera menyambut kedatangan kami. Kami duduk bersama sembari menikmati segelas Milo hangat dan sepiring keladi rebus.

“Kita duduk bersama sambil makan keladi ini serasa macam di kampung Maumere saja, kata Bang Edi sembari menikmati keladi.

Dalam sekejap keladi sepiring sudah ludes.

Perjalanan berikutnya adalah mengunjungi sejumlah komunitas pastoran yang ada di Batam. Setelah mengunjungi beberapa komunitas dan karena sedang masa ujian, maka Romo Paskalis yang kini sedang menjalani kuliah di Fakultas Hukum Universitas Putra Batam pun undur diri dan tidak ikut berkeliling bersama.

Sebagai gantinya, Bang Edi mengajak dua sahabat baiknya yang baru datang dari Tanjung Balai Karimun untuk bersama-sama mengunjungi sejumlah tempat favorit di Batam, Pulau Galang, dan Jembatan Barelang.

Bangunan bekas ruang-ruang tahanan di Pulau Galang.

The Boat People’s Refugee Camp from Vietnam

Setelah sejenak singgah mengisi bahan bakar, mobil pun segera dipacu meninggalkan pusat kota menuju Pulau Galang melintasi Jembatan Barelang yang tampak tinggi menjulang. Pemandangan alam dengan pesona jajaran pulau-pulau kecil yang dikelilingi air berwarna kebiruan tampak menjadi sajian indah yang memanjakan mata.

Setelah menempuh perjalanan sejauh 55 km selama hampir satu jam, akhirnya kami sampai di gerbang masuk kawasan wisata Pulau Galang yaitu Galang’s Refugee Camp atau biasa dikenal Kampung Vietnam yang terletak di Desa Sijantung, Galang.

Secara teritorial gerejawi, lokasi ini berada di wilayah reksa pastoral Paroki St. Maria Bunda Pembantu Abadi (MBPA) Tembesi.

Pulau Galang – dengan perahu-perahu kapal kayu inilah para pengungsi Vietnam –the Boat People– meninggalkan Vietnam menuju Pulau Galang mencari asylum.

Pulau Galang adalah sebuah pulau yang dulu pernah menjadi tempat tinggal bagi ribuan orang Vietnam yang mengungsi akibat perang saudara yang terjadi antara tahun 1957-1975. Wikipedia menulis bahwa  ini telah mengakibatkan lebih dari tiga juta warga sipil tewas.

Situasi ini menimbulkan ketakutan dan penderitaan yang luar biasa. Banyak orang memilih untuk mengungsi, mencari tempat yang lebih aman.

Setelah mengarungi Laut China Selatan yang ganas, para pengungsi itu tiba di sejumlah pulau di Kepulauan Riau dan akhirnya sampai di Pulau Galang dengan kapal kayu yang tampak jauh melebihi kapasitas angkutnya, masing-masing perahu bisa berisi 40-100 orang. Bisa dibayangkan betapa mereka harus berdesakan di atas perahu kayu yang sempit.

80 ha areal refugee camp

Sebuah gapura lengkung yang dijaga sejumlah orang berseragam hitam putih menyambut kedatangan kami.

Suasana sunyi amat terasa ketika mulai memasuki areal kompleks yang memiliki luas wilayah sekitar 80 hektar ini. Tak jauh dari gerbang kami melihat sebuah monumen yang dikenal dengan sebutan Humanity Statue atau Patung Kemanusiaan.

Pulau Galang – Monumen peninggalan jejak para pengungsi Vietnam di Pulau Galang.

Patung ini didirikan untuk mengenang kisah tragis dan memilukan seorang perempuan pengungsi Vietnam bernama Tinhn Han Loai yang mati karena bunuh diri. Ia nekat bunuh diri karena tak kuasa menanggung aib dan malu karena mengalami pemerkosaan yang dilakukan oleh sesama pengungsi.

Semakin masuk ke dalam lokasi permukiman, kami menemukan kompleks Pemakaman  Nghia-Trang Grave. Kompleks ini menjadi tempat beristirahatnya 503 orang pengungsi yang meninggal akibat wabah penyakit dan depresi yang diderita setelah berbulan-bulan berada di lautan serta akibat wabah penyakit kelamin mematikan yang dikenal dengan sebutan Vietnam Rose.

Kompleks pemakaman ini tampak tidak begitu terawat, nisan-nisan tampak kusam, hanya ada beberapa makam saja yang terlihat bersih dan terawat.

Menurut penuturan Romo Paskalis, sebagian besar pengungsi Vietnam beragama Katolik, maka tidak mengherankan kalau kemudian kita menemukan ada begitu banyak nisan berbentuk salib.

Saat memasuki kompleks pemakaman, ada sebuah tulisan yang ditulis dalam empat bahasa, satu di antaranya ditulis dalam bahasa Indonesia. “Dipersembahkan kepada para pengungsi yang meninggal dunia pada waktu perjalanan menuju kebebasan.”

The Boat People Monument

Tak jauh dari kompleks pemakaman ada Monumen Perahu yang tampak sedang direnovasi. Monumen Perahu ini dibangun sebagai penanda bahwa para pengungsi yang datang ke tempat ini menggunakan perahu.

Menurut sejarah, pada tahun 1996 UNHCR dan Pemerintah Indonesia ingin memulangkan sekitar 5.000 pengungsi yang tidak lolos tes untuk mendapatkan kewarganegaraan baru. Rencana tersebut mendapat reaksi berupa penolakan dari para pengungsi. Dengan sengaja mereka kemudian  membakar dan menggelamkan  perahu-perahu sebagai bentuk protes atas kebijakan  yang ada.

Meski mengalami penolakan, upaya pemulangan pengungsi tetap berjalan.

Setelah semua pengungsi keluar dari Galang, Pemerintah Otorita Batam pun mengangkat, memperbaiki dan kemudian memamerkan perahu itu sebagai bagian dari sejarah kehidupan pengungsi di tempat ini.

Pulau Galang – The Boat People asal Vietnam dikenal religius dan punya devosi besar kepada Bunda Maria, termasuk di Pulau Galang.

Sebuah tulisan yang ada di Museum menjelaskan bahwa gelombang pengungsi pertama kali datang ke Pulau Laut di Kepulauan Natuna sebelah Utara pada tanggal 22 Mei 1975, mereka berjumlah 75 orang. Gelombang pengungsi ini terus bertambah, mereka datang dengan perahu kayu dan sampai di sejumlah pulau, seperti Pulau Anambas, Pulau Natuna dan Pulau Bintan.

Berdasarkan situasi ini, maka pemerintah menugaskan Laksamana Muda Kunto Wibisono yang kala itu menjabat sebagai Panglima Daerah Laut (PANGDAERAL) dan Ketua Panitia Penanggulangan Pengungsi Vietnam (P3V) Daerah agar mencari lokasi yang sesuai untuk menjadi lokasi pengungsian warga Vietnam tersebut.

Ada empat syarat yang menjadi acuan pemilihan lokasi, yaitu:

  • mudah menyalurkan pengungsi ke Negara Ketiga;
  • cukup luas untuk mendirikan penampungan pengungsi bagi minimal 10.000 orang;
  • mudah diisolir dan mudah diakses untuk kelancaran pembangunan serta dukungan logistik bagi pengungsi.

Setelah melalui proses dan survei yang panjang akhirnya dipilihlah Pulau Galang sebagai lokasi pengungsian. Keputusan ini didukung oleh P3V Pusat dan diumumkan pada forum Konferensi Asean oleh Menteri Luar Negeri Prof. Mochtar Kusumaatmadja.

Pulau Galang – Sisa sejarah kompleks permukiman para pengungsi Vietnam di Pulau Galang

PBB melalui UNHCR juga mengamanatkan kepada Indonesia agar menjadikan Pulau Galang yang saat itu belum berpenghuni sebagai tempat penampungan bagi para pengungsi perang dari Vietnam ini.

Abunawas, seorang petugas jaga mengatakan bahwa selama rentang waktu tahun 1979-1996, tempat pengungsian ini menampung sekitar 250.000 pengungsi dari Vietnam.

Berbagai macam fasilitas penunjang bagi para pengungsi seperti rumah sakit, barak pengungsian, rumah ibadah, sekolah bahkan penjara yang juga menjadi markas korps Brimob yang bertugas di Galang pun dibangun.

Hingga kini bangunan-bangunan itu sebagian masih tampak kokoh berdiri namun sebagian telah reyot, lapuk dimakan jaman.

Sisa peninggalan para pengungsi Vietnam di Pulau Galang di bekas Kantor UNHCR yang kini menjadi bangunan museum.

Salah satu tempat yang dapat memberikan gambaran jelas kepada kami mengenai kehidupan sehari-hari para pengungsi adalah gedung bekas kantor UNHCR yang kini menjadi gedung museum.

Memasuki gedung ini, kami dapat melihat foto seribu wajah pengungsi yang pernah tinggal di pulau tersebut. Di gedung yang kini juga difungsikan sebagai kantor resepsionis dan sumber informasi bagi pengunjung, terdapat foto-foto dan lukisan-lukisan yang tergantung di sejumlah dinding ruangan, semuanya menggambarkan situasi para pengungsi.

Ada beberapa lukisan yang menggambarkan para pengungsi sedang  berada di dalam perahu kayu, tampak di salah satu sudutnya tertulis nama Rizal MS, sang pelukis.

Ada sepeda motor bebek dan sepeda tua terpajang di depan pintu masuk, menjadi saksi bisu kisah perjuangan pengungsi yang terusir dari tanah kelahirannya dan membangun asa di tanah pengungsian.

Di kompleks ini ada sejumlah  bangunan rumah ibadah yang dibangun sebagai fasilitas penunjang kegiatan peribadatan bagi para pengungsi dan relawan. Ada Gereja Protestan, musholla, vihara Quan Am Tu dan Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem (Gereja St. Maria Immakulata).

Kini, tinggal vihara Quan Am Tu, Gereja St. Maria Immaculata dan musholla yang tampak masih kokoh berdiri, sedangkan bangunan Gereja Protestan tampak tak terawat, nyaris roboh.

Devosi kepada Bunda Maria

Di sebelah bangunan Gereja Katolik St. Maria Immakulata juga dibangun sebuah tempat doa Bunda Maria.

Menjadi khas karena arca Bunda Maria di tempat ini digambarkan sedang berdiri di atas bola dunia dan berada tepat di atas perahu.

“O Mary we are all deeply gratefull for your protecting on our way to freedom. We always entrust our lives to you. Your care for us will be highly apreciated in our heart for ever”, demikian sebuah tulisan terpasang di depan perahu bersebelahan dengan gambaran panji Legio Mariae.

Menurut Romo Paskalis, bangunan gereja yang ada sekarang adalah bangunan kedua yang dibangun dengan ukuran lebih besar. Lokasi bangunan gereja yang pertama berada dekat dengan Patung Kemanusiaan. Di lokasi tersebut saat inj telah dibangun Patung Maria Immakulata yang dilengkapi dengan stasi atau perhentian Jalan Salib.

Keluar meninggalkan Pulau Galang

Sejak tahun 1996, ketika para pengungsi beranjak keluar dari Pulau Galang, maka tidak ada lagi pelayanan khusus di Gereja St. Maria Immakulata ini. Perayaan Ekaristi hanya terjadi ketika ada kegiatan ziarah atau rekoleksi yang dilaksanakan di tempat ini.

Ada dua imam Jesuit yang pernah bertugas melayani para pengungsi Vietnam di Pulau Galang yakni almarhum Romo Is Warnabinarja SJ dan Romo Frans Wiyono SJ.

“Nama saya waktu di sana oleh anak-anak Bina Minggu adalah Cha Vu Dinh Nho,” ungkap Wiyono.

Pulau Galang – Perahu, Bunda Maria sisa peninggalan para pengungsi Vietnam di Pulau Galang.

Setelah sejenak berdoa di tempat ini, kami pun bergegas meninggalkan tempat ini dengan hati penuh syukur karena boleh sejenak merasakan dan melihat gambaran situasi bagaimana dulu para manusia perahu dari Vietnam itu dengan segala keterbatasan dan penderitaannya berjuang membangun asa di tanah pengungsian.

Bangunan gereja yang kini tampak kusam dan tempat ziarah Bunda Maria menjadi oase penuh kesegaran di pengungsian yang meneguhkan pengharapan mereka akan hidup yang lebih baik.

Senja menjelang, peziarahan pun ditutup dengan menikmati sunset dari tepian Jembatan Barelang.

The Boat People dari Vietnam yang ada di Pulau Galang sejenak sebelum meninggalkam kamp pengungsi ini menuju negara lain yang telah bersedia menerima mereka sebagai asylum untuk kemudian mendapatkan kewarganegaran baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here