Puncta 15.10.19 Luk 11: 37-41: The Three Musketeers

0
327 views

PW. St. Teresia Avila, Perawan dan Pujangga Gereja

KALAU kita melihat film The Three Musketeers, kita akan melihat dua pihak yang saling berlawanan. Tiga ksatria yang menjadi tokoh utama adalah Portos, Arthos dan Aramis.

Mereka adalah orang-orang jujur, berani membela keadilan dan kebenaran, setia pada negara dan berjuang bukan untuk kepentingan diri sendiri.

Tokoh antagonis adalah Kardinal Richelieu yang hidup dalam pusaran kekuasaan raja. Ia sok suci dan ikut mengatur roda pemerintahan. Dengan kedok pemimpin agama, dia menguasai dan mendikte raja dan keluarganya.

Hidupnya diwarnai kemunafikan karena nafsu kuasa. Siapa pun yang merongrong kekuasaannya dimusnahkan, termasuk the musketeers, pasukan yang loyal pada negara.

Kardinal Richelieu adalah potret kemunafikan  kaum Farisi.

Sabda Tuhan hari ini menggambarkan bagaimana dengan keras Yesus mengecam orang-orang Farisi. Kaum Farisi dipandang sebagai kaum munafik. Mereka menilai orang lain dengan aturan hukum yang detil-detil, tetapi mereka sendiri tak mau melakukannya.

Mereka menganggap diri sebagai penjaga hukum dan moral. Tetapi hidup mereka tak lebih dari kaum Farisi itu.

Mereka merasa diri paling benar dan suka menyalahkan orang lain. Maka ketika Yesus tidak membasuh tangan sebelum makan, mereka gusar dan menyalahkan.

Maka Yesus mengkritik mereka, “Hai orang-orang bodoh, bukankah yang menjadikan bagian luar, Dialah juga yang menjadikan bagian dalam? Maka berikanlah isinya sebagai sedekah dan semuanya akan menjadi bersih bagimu.”

Orang-orang Farisi menekankan hal-hal luarnya saja.  Justru yang inti dan penting diabaikan. Mereka menekankan hukum tetapi melalaikan kasih dan keadilan. Yesus mengecam tindakan taat hukum namun mengabaikan kasih dan keadilan.

Kemunafikan ini masih menjadi virus bagi kita. Ada banyak sikap-sikap munafik yang tumbuh berkembang di tengah kita. Para petugas-petugas agama mudah terjangkit virus ini. Hati-hatilah karena kita bisa jatuh ke dalam sikap kemunafikan.

Berpiknik ria ke Pulau Bali Jangan lupa lihat lukisan dan tari-tari Mari belajar jujur dan rendah hati Seperti yang Tuhan kehendaki

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here