Puncta 19.01.20 Minggu Biasa II: Menjunjung Martabat

0
298 views
Derek Redmond dan ayahnya. (PA Image/Getty Images)

Yohanes 1:29-34

DEREK Redmond pelari jarak 400 meter dari Inggris yang ikut dalam perlombaan Olimpiade Barcelona 1992. Dia pernah mencoba di Olimpiade Korea 1988 tetapi gagal.

Ini adalah kesempatannya untuk meraih medali bergengsi itu. Ia siap mengejar impiannya. Ketika lomba sudah dimulai, ia memimpin sampai jarak 225 meter. Kurang 175 lagi ia juara.

Namun saat itu kakinya mengalami kesakitan. Ia sampai terjatuh. Ia rebah di tanah. Namun dia mencoba menahan rasa sakit. Ia bangkit dan dengan ditopang kaki kirinya, ia melompat kecil-kecil sambil meringis kesakitan.

Ayahnya, Jim Redmond yang duduk di tribun langsung turun menghampiri.

Kendati dihalangi oleh penjaga, Jim memaksa, “Itu anakku. Aku harus menolongnya.”

Jim lalu melingkarkan tangan anaknya di pundaknya. Mereka berjalan bersama menuju garis finish. Mendekati garis akhir, Jim melepaskan anaknya, membiarkan Derek menyelesaikan perlombaannya sendiri.

Derek Redmond tak mendapat medali, bahkan ia didiskualifikasi dari perlombaan.

Namun lihatlah komentar Ayahnya. “Aku adalah Ayah yang paling bangga sedunia. Aku lebih bangga kepadanya sekarang daripada jika ia mendapatkan medali emas sekalipun.”

Setelah membaptis Yesus di Sungai Yordan, Yohanes memberi kesaksian. “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.”

Yohanes mengantar Yesus untuk dikenal kepada dunia. Bahwa Dialah yang dinanti-nantikan oleh Israel sebagai Juruselamat. Yohanes menolong orang banyak untuk mengenal Yesus Sang Mesias.

Peristiwa di Sungai Yordan adalah pemakluman Yesus yang diurapi Allah.

Yohanes itu mirip seperti Jim Redmond yang menolong anaknya mencapai garis finish. Sikapnya yang membantu anaknya agar bisa menyentuh garis finish adalah sikap seorang yang berjiwa besar.

Yohanes dalam arti tertentu juga menolong Yesus agar Dialah yang dikenal sebagai Juruselamat, Mesias. Bukan Yohanes Pembaptis.

Dia berkata, “Dia inilah Anak Domba Allah.”

Jim merasa lebih bangga kepada anaknya. Yohanes juga berkata, “Dia harus menjadi besar dan aku makin kecil.”

Sikap jujur dan rendah hati Yohanes inilah yang menjadi teladan kita.

Apakah kita bisa menjadi bangga jika orang lain berhasil? Kita merasa senang jika menghantar orang menjadi berhasil? Beranikah kita menjadi orang di balik layar dari kesuksesan seseorang?

Siapkah kita menjadi orang yang tidak diperhitungkan dan dengan rendah hati berkata, “Biarlah dia menjadi besar dan aku menjadi kecil?”

Beli baju di Toko Laris
Diberi bonus bubur dan rempela ati
Santo Yohanes Pembaptis
Ajarilah kami sikap jujur dan rendah hati

Cawas, menunggu anggrek bulan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here